Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 80. Raja jin laut Merah.

“Siapa ini?” tanyaku pada raja jin yang bermahkota yang menghadapku.
“Saya bernama Najwa kyai, saya raja jin di laut merah”.
“Ada apa menghadapku?”.
“Saya ingin menakluk pada kyai, sebagai raja segala jin sekarang” katanya membungkuk.
“Wah kata siapa, saya ini raja segala jin?”.
“Semua jin tahu itu kyai”.
“Wah itu berlebihan”.
“Tidak kyai sangat tinggi ilmunya, kami tahu dan semua membicarakan, ilmu kyai amat tinggi, dan tak satupun jin bisa mengalahkan”.
“Ah itu berlebihan raja Najwa”.

“Sama sekali tidak kyai, kyai sudah mengalahkan kerajaan jin laut selatan yang di segani, nyai Roro Kidul, dan semua pasukannya, hanya kyai hadapi sendirian tanpa ada yang membantu, sedang saya dan pasukan saya saja tak bisa mengalahkan mereka, hanya menghalaunya tak sampai mengalahkan, tapi kyai sanggup menumpas habis trilyunan pasukan mereka, nyai Roro Kidul dan pasukannya, hanya sendirian tanpa bala tentara, sebelumnya saya sendiri membayangkan saja, saya ndak percaya, dan jika saya membayangkan kyai, tentu kyai amatlah pemuda yang besar, dan tinggi, mungkin tubuhnya tembus langit, dan tangannya berjuta-juta, tapi setelah melihat kyai, sungguh membuat saya amat terheran-heran, karena kyai adalah pemuda biasa, sebagaimana pemuda lainnya, sebagaimana manusia lainnya, bahkan kyai kelihatan lemah, tapi ketika aku sendiri mau mencoba menyerang kyai, ternyata kyai menyimpan kekuatan yang tak bisa di ukur dengan logika kami bangsa jin, jika semua pasukanku sekalipun ku kerahkan untuk menyerang kyai, sudah pasti kami akan binasa sebagaimana nyai Roro Kidul binasa, maka saya dengan kesungguhan hati, sudilah kyai menerima takluknya saya, dan segenap kerajaan laut merah, juga kalau kyai sudi menerima saya sebagai murid kyai”.

“Wah raja Najwa jangan berlebihan, demi Allah aku ini tak ada kekuatan apa-apanya, dan raja Najwa yang mengunggul-unggulkanku, semua tak ada di diriku, sungguh, aku tak punya apa-apa, apalagi, kalau raja Najwa yang umurnya lebih tua dariku lantas mau menjadikan aku sebagai guru, para nyamuk juga akan ketawa sampai perutnya kesakitan”.
“Sudah tinggi ilmu, masih saja tidak sombong, mau kan kyai menjadikan aku yang bodoh ini menjadi murid”.
“Hehehe, raja Najwa. Raja Najwa, ya sudah kalau maksa, tapi aku ini siapa saja yang jadi muridku ku wajibkan tunduk dan taat padaku, apa raja Najwa sanggup”.
“Saya siap taat, kalau kyai perlu, silahkan saja panggil saya, silahkan perintahkan pada saya, saya akan siap menjalankan perintah kyai, kapan pun kyai perintahkan, saya dan segenap rakyat jin laut merah, siap menjalankan”.
“Baik kalau begitu”.

Ku lihat raja Najwa bersedih.

“Kenapa murung?” tanyaku, karena melihat raja Najwa murung.
“Maaf kyai, aku ini sekarang sendirian, istriku sudah meninggal”.
“Selain Allah itu pasti mati”.
“Bukan masalah itu kyai”.
“Lalu apa?”.

“Istriku meninggal setelah beberapa tahun dia sakit, karena memikirkan anak kami yang hilang, ketika dulu terjadi perang antara laut merah dan laut pantai selatan, saat perang itu anak kami hilang, padahal dia anak satu-satunya kami, yang kami harapkan menjadi pewaris tahta, tapi malah anak itu hilang, dia hilang waktu masih bayi”.
“Oh begitu rupanya”.
“Iya kami sudah mengusahakan sudah sampai ratusan tahun, pergi ke orang pintar, untuk menemukan anak kami, tapi tetap saja anak kami tak kami temukan, sampai istriku juga akhirnya amat sedihnya jadi akhirnya sakit dan meninggal”.

Tiba-tiba tanganku seperti ada yang menggerakkan, dan mengambil sesuatu. Lalu mulutku, berbicara.

“Apa ini anakmu raja Najwa?”.
“Ha, benar kyai, ini anakku, ini pakaian yang dia pakai, juga selimutnya, masih utuh, subhanallah, tak salah kyai memang orang yang sakti, padahal selama ini saya mengusahakan untuk mencarinya ke segala penjuru, kami tanyakan ke orang-orang pintar dari kalangan kami dan manusia, tapi tak juga ketemu, sedang kyai hanya menggerakkan tangan sedikit, dan anakku sudah ada di tangan kyai. Maha Besar Allah yang menciptakan orang-orang yang di anugerahi kelebihan, terima kasih kyai, terima kasih kyai” kata raja Najwa sambil mengguguk menangis, dan sujud-sujud di depanku.

“Sudah, sudah raja Najwa, jangan berlebihan”.
“Oh ya Allah, Maha Agung, terima kasih ya Allah, Engkau mengirimkan anakku lewat tangan mulia kekasihmu”.
“Sudah raja Najwa, ini anaknya di beri makan” kataku sambil memberikan bunga dari alam hayalku.

Dan di terima raja Najwa, lalu diberikan kepada anaknya dan dia terkejut sekali, karena menurutnya anaknya jadi membesar, bisa jalan langsung yang asalnya bayi, dan bisa sebesar ayahnya.

“Oh kyai selama aku hidup tak pernah ku lihat keajaiban sedahsyat ini, Maha Besar Allah, tak heran kalau kyai itu jadi raja segala jin, karena kyai punya banyak keajaiban, tak percaya rasa mataku melihat, kyai saya ingin pulang dulu, nanti kalau kyai ingin memanggilku, silahkan saja kyai panggil, saya akan siap di perintah apapun oleh kyai”.
“Ya, ya, silahkan raja Najwa”.

loading...

Raja Najwa dan anaknya segera pergi.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 82.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363