Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 81. Raja jin Brunei Darussalam. Mimpi masih berlanjut. Suasana tak ada yang aneh dan tak ada yang disertai suasana seram, semua ya biasa saja, tak seperti film hantu, atau horor, tak ada juga musik pengiring. Seorang raja bermahkota menghadapku. Dia bersimpuh menunduk di depanku.

“Siapa?” tanyaku pelan.
“Hamba, raja dari Brunei Darussalam”.
“Ada keperluan apa?”.
“Saya ingin menakluk dan menjadi bawahan kekuasaan kyai”.
“Boleh, tapi harus menjadi muslim di bawahku”.
“Iya saya siap sedia”.

Lalu ku ajari membaca dua kalimat sahadat.

“Maaf kyai, boleh saya tinggal di sini”.
“Untuk apa, bukannya kamu punya tanggung jawab atas kerajaan jin di Brunei?”.
“Iya, tapi saya ingin menjadi murid kyai yang taat, saya melihat semua jin di sini, semua begitu taat, wajah mereka memancarkan cahaya, dan mereka semua ku lihat bahagia, jadi membuat saya ingin bertempat tinggal di sini, bagaimana kyai, saya ingin mengabdikan diri pada kyai”.
“Jangan, kamu kembali saja ke Brunei, pimpin kerajaan jin di sana, sebagai bawahanku, lakukan ibadah yang taat”.
“Tapi kyai, saya cinta kyai, saya ingin mengabdi pada kyai” kata raja jin Brunei sambil menangis.

Wah, jin kok pada aleman kalau denganku.

“Kan sama saja, kamu di sana juga mengabdi padaku, memajukan Islam di sana juga sama, Islamkan dan sebarkan Islam kyai kepada semua rakyat jin di Brunei”.
“Besar harapan saya selalu dekat dengan kyai, tapi kalau memang kyai menghendaki saya ke Brunei, saya turut perintah”.

loading...

Raja jin Brunei segera berlalu pergi setelah meminta ijin sebentar tinggal di sudut majelis, untuk bisa menatapku agak lama, permintaannya kok ya aneh-aneh saja, lalu datang raja jin dari Mesir, dan Arab Saudi. Sampai datang raja segala raja jin yang sudah hidup sejak zaman nabi Adam.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Saya Mohammad Tolkhah, raja segalan jin, dari penjuru bumi, semua jin tunduk kepadaku, karena usiaku di atas nabi Adam”.
“Wah berarti sudah teramat tua sekali”.
“Iya kyai, tapi ilmuku tak ada seujung kuku dari ilmu kyai”.
“Wah, wah jangan berlebihan seperti itu, malah aku tak ada ilmunya sama sekali”.
“Sudah ku kira jawaban kyai seperti itu, kyai saya ingin menjadi bawahan kyai, bolehkan?”.
“Ee, ee, raja Tolkhah, bukankah kamu raja segala jin di seluruh dunia, bagaimana mungkin akan menjadi bawahanku”.
“Kekuasaan kyai di atas saya, saya hanya raja jin di dunia, sementara kyai menjadi raja jin tuju lapis bumi, dan tuju lapis langit, sewajarnya kalau saya tunduk dan taat pada kyai, dan kalau boleh saya mohon di angkat kyai menjadi murid kyai”.

“Hahahaha, raja Tolkhah kan jin umurnya yang sudah ratusan juta tahun, bagaimana akan menjadi murid saya yang muda ini, hahahah, nanti semua jin akan mentertawakan”.
“Tak ada jin yang berani mentertawakan kyai”.
“Wah, wah, aku ini orang biasa”.
“Tidak semua jin tahu, jin yang mempunyai pandangan jauh, semua tahu kyai siapa”.
“Memangnya aku siapa? Aku orang yang ndak punya apa-apa”.
“Saya tak boleh mengungkapkan kyai, yang jelas semua tentara langit tunduk atas perintah kyai”.
“Wah, wah, jangan berlebih lah raja tolkhah”.
“Kyai saya siap diperintah sama kyai, kerajaan saya bersebelahan dengan raja jin Saudi Arabia, dekat di Masjidil Haram, jika kyai ke Makkah, akan kami sanggup dan kami sediakan tempat yang mulia”.
“Tak usah berlebihan, saya hanya manusia biasa”.
“Benar apa kata semua raja jin yang bertemu denganku”.
“Apa kata mereka?”.

“Kyai orang yang ilmunya sulit di ukur, dan tak tahu sampai di mana, sakti, menghadapi dukun jahat, dan menghadapi trilyunan juta milyar keroyokan jin, hanya dihadapi sendirian, tapi semua bisa dikalahkan, dan orangnya selalu merendah, bersahaja”.
“Wes lah di puji setinggi gunung begitu, nanti lalu jatuh sampai hancur”.
“Tidak kyai saya mengatakan apa adanya”.
“Sudah, jangan berlebihan”.
“Silahkan kyai perintahkan apa, akan saya laksanakan, apa perlu, rumah kyai akan saya bawa ke Makkah, dan kyai tinggal di sana”.
“Ah tak usah, di sini saja”.
“Silahkan jika kyai ingin memerintahkanku, silahkan memanggilku”.
“Ya nanti”.
“Baik kyai saya mohon diri”.

Raja segala jin pun segera berlalu. Mimpi kok ya aneh-aneh, panjang amat kalau di ceritakan.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 83.

Whatsapp: 0851 2406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363