Kisah Sang Kyai Guru Bagian 84 - 240 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 83. Sepertinya akhir-akhir ini tulisanku kurang ada bumbu kata-kata indah, juga penggambaran alam, dan lingkungan kurang ku bahas, ya karena memang kesibukan kepada bermanja-manja kata memang sekarang sudah tak seperti dulu lagi, waktu sibuk sekali, dan seringnya tak ada waktu menulis. Dan kadang rasa ingin menulis itu makin berat, sebenarnya, butuh seorang penulis yang bisa menuangkan ke dalam nyata, kejadian yang tiap hari terjadi, cenderungnya, kalau ada kejadian lantas, tak segera di tuang dalam tulisan itu akan hilang terhapus dari ingatan.

Padahal kejadian-kejadian yang terjadi itu setiap hari terjadi, dan terjadi ya bukan kejadian yang kebanyakan terjadi, jadi aku karena sendiri, seringnya kejadian yang terjadi, momen-momen yang tak akan terjadi lagi itu yang amat penting itu begitu saja dilupakan dari ingatan. Jadi aku terus terang sudah terlalu banyak yang harus aku ceritakan, lantas tak sempat ku ceritakan, lantas kisah itu hanya dilupakan begitu saja, padahal itu amat sarat pelajaran hidup di dalamnya.

MengIslamkan semua raja jin di Jawa. Semua jin dari tanah Jawa berbondong-bondong menghadapku ingin diIslamkan, suasana tak mistis sama sekali, suasana biasa saja, hanya karena banyak sekali jin yang datang, maka agak serasa merinding, di antara jin yang datang. Di daerah Maospati yang datang bernama Durgo Neluh dan Raja Baurekso, di Blambangan ada Sang Bolo Batu, di Kedhiri ada Bhuto Locaya, di Giri Pura ada Prabu Jaksa, di Pacitan ada Sida Kare, di Kheduwang ada Klenthingmungil, di Magetan ada Endrayaksa, di Jenggala ada Tunjung Puri, di Prang Muka ada Surabanggi, dan di daerah Panggung ada Aburaduk.

Selanjutnya, di daerah Jipang dikuasai Sapujagad, di Madiun ada Kalasekti, di Ponorogo ada Si Korep, di Majenang ada Trenggiling Wesi, di Grobogan ada Macan Guguh, di Singosari ada Kala Johar, di Srengat ada Baru Kuping, di Blitar ada Kalakathung, di daerah Rawa ada Bhuta Krodha, di Kalangbret ada Sekar Gambir, dan di Lamongan ada Caru Bawor. Kemudian, di Puspoloyo dikuasai Gurnita, di Kasur Putih ada Si Lengkur, di Blora ada Si Lancur, di Gambiran ada Kolodurgi, di Kedhunggede ada Ni jenggi, di Batang ada Si Klewer. Di Lassem ada Kala Prahara, di Sedayu ada Dhandang Murti, di Candhi ada Widalangking, di Semarang ada Barat Katiga, di Pekalongan ada Guntur Geni, dan di Pemalang ada Ki Sembung Yudha.

Di wilayah Sokawati ada penguasa bernama Suwarda, di daerah Tandhes ada Nyi Ragil, di Suruh ada Jaya lelana, di Kendal ada Gunting Geni, di Kaliwungu ada Gutukapi, di Cincin ada Ki Somaita, di Brebes ada Dhadung Awuk, di Panjang ada Bhuto Salewah, di Mentawis ada Monda-Monda, di Plered ada rajeg Wesi, dan Kuthogede ada Nyai Theatre. Berikutnya, di daerah Kartosuro ada pemuka lelembut bernama Pragota, di Cirebon ada Setan Kabiri, di Tegalayung ada JuruTaman, di daerah Siluman ada Genowati, di Waringin Putih ada Kemandhang, di Pajajaran ada Si Kareteg, di Betawi ada Sapuregel, dan di Gunung Agung ada Wirasuli Waringin.

Memasuki wilayah Ngawang-awang, anda akan mengenal Kalekah. Lalu di Gunung Merapi ada Parpala, di Tunjung Bang ada Ni Taluki, di Sendhang ada Setan Kowak, di Pamasuhan ada Sapu Angin, di Rangkudan ada Sonodpodo, di Tarisig ada Pandansari, di Wanagiri ada Ki Sadungan, di Pelabuhan ada Duduk Warih, di Pelayangan ada Butho Tukang, dan di Tawang ada Ni Raraamis.

Selanjutnya di wilayah gunung-gunung, antara lain di Gunung Tidar dikuasai Kala Sekti, di Gunung Sindara ada Madu Retno, di Gunung Sumbing ada Jalalela, di Gunung Ngungrungan ada Sidomokti, di Gunung Merbabu ada Terapa, di Gunung Kombang ada Bangsan, di Gunung Kolir ada Prabu Jaksa (lagi / lainnya), dan di Gunung Kendeng ada Aji Dipo. Di Daerah Argopuro ada Sunan Lawu, di Bayat ada Ki Malangganti, di Toyamas ada Kolo nadah, di Segaluh ada Si Renthil, di Pegunungan ada Ki Wosasih, di Lowanu ada Si Korok, di Gunung Duk ada Genioro, di Parang Tritis ada Mbok Bereng, di Purbalingga ada Drembamoha, di Karang Bolong ada Si Kreta, di Banarawi ada Si Belen, di Jenu ada Karung Kala, di Pengging ada Banjaran Sari, di Dhung Winong ada Andonsari, di Bagelen ada Ki Condrolatu, dan di Gunung Kendalisada ada Khetek Putih.

Menapaki daerah ngayah, ada pemuka lelembut bernama Butho Glemboh. Di Demak ada Rara Denok, di Tuban ada Si Bathilhi, di Talsanga ada Juwalpasal, di Tremas ada Si Kujang, di Trenggalek ada Nyai Kuring, di Cemorosewu ada Si Kuncung, di Benthongan ada Kaladhadung, di daerah Taji ada Asmoro, di Kudus ada Bagus Anom, di Imogiri ada Manglarmungo, di gadhing ada Ki Puspogati, dan di daerah Kartika ada Cucuk Dhandang.

Di Sungai Opak ada Songgabuana, di Pejarakan ada Pak Keyek, di Kali Bening ada Cincinggolong, di Dhahrama ada Korowelang, di Warulandeyan ada pasangan Ki Daruna dan Ni Daruni, di Alas Roban ada Bagus Karang, di Pasujayan ada Udan Riris, di Dalepih ada Wodonongga, di Kadunggarunggung ada Si gadhung, di Karabean ada Citranaya, di Majaraga ada Genapura, di Juwana ada Logenjeng, dan di Rembang ada Bajul Bali.

Menapaki daerah Wirasaba, di sana ada penguasa Si Londir. Di Madura ada Bhuta Carigis, di Matesih ada Jaran Panolih, di Pecangakan ada Si Gober, di Jatisari ada Danapi, di Jatirnalang ada Obarabir, di Lodhaya ada Haryo Tiron, di Pening ada Sarpa Bongsa, di Pesayangan ada Udan Gelap, di Tegil ada Bhuto Gigis, di Grenggeng ada Caping Warih, di Penawangan ada Gutukwatu, dan di Tengger ada Ni Otarwiyah.

Kemudian, di Wiradesa ada Gustigeni, di Penarukan ada Setan Korokan, di Randulawang ada Rara Dungik, di Menthahang ada Retno Pengasih, di Prambanan ada Bhuto Kepala, di Gunung Wilis ada Mbok sampur, di Gunung Gajah Mungkur ada Raden Gelanggangiati, di Tal Pegat ada Si Gedruk, di Ngembel ada Raden Panji, di Pagerwaja ada Raden Kusumoyudho, di Kacangan ada Si Penthul, di Pecabakan ada Dodol Kawit, dan di Jepara ada Si Kunthung.

Di daerah Pati ada Gambir Anom, di Ngremo ada Tambak Suli, di Delanggu ada Yudhapaksa, di Pesisir ada Butho Kala, di Kadilangu ada Si Kecubung, di daerah Jenar ada Nini gelu, di Banjarsari ada Klabang Curing, di Watukura ada Talengkung, di Tal Rukmi ada Si kuris, di Semeru ada Pujongga dan Pujonggi, di Ardi Baita ada bancuri dan Bancuring, serta di Tegal Pat ada Si Bedreg.

Di Subang ada Si Lowar, di Kuwu ada Ondar-Andir, di Comal ada Si Barandang, di Duduk jalmi ada Si Kalunthung, di Tegala Pasir ada Si Jalilung, di Tuntang ada Kala ngadang, di daerah Bocor ada Si Kuru, di Petanahan ada Singanadha, di Cilacap ada Telohbrojo, di Nusabarong ada Burat Wangi, di Singgela ada Ki Nayadipa, dan Weleri ada Si Dulit.

Di wilayah Pring Tulis ada Udan Geni, di Kandang Wesi ada Gendir Diyu, di Kejayan ada Barukin, di Jeruk Legi ada DirGabu, di Nusa Kambangan ada Mahesa Kuda, di Mancingan ada Rara dulek, di Guwa Langse ada Raja Putri, dan di Parang Wedang ada Raden Arya Jeyeng Westhi.

Untung aku pakai metode, jika jin yang datang belum trilyunan, maka aku belum mau mengislamkan, kecuali sudah berkumpul trilyunan jin, maka satu jin ku minta jadi wakil jin yang lain masuk ke dalam tubuh mediator, sehingga hanya dia yang menirukan secara langsung bacaan sahadat, sehingga proses pengislaman jin cepat dan efektif, dan pengislaman jin lebih tak memakan waktu banyak. Tak akan semua dialog jin masuk Islam ku tulis, hanya beberapa, untuk kisah saja, sebab hampir semua dialognya sama.

“Siapa ini yang menghadap?” tanyaku.
“Saya ratu Nyai Ganda Sari” jawabnya dengan logat bahasa Jawa yang kental.
“Nyai Ganda Sari? Yang pernah menyerang kyai itu yang menjadi muridnya Sunan Gunung Jati”.
“Bukan, bukan pak kyai, beda, saya dari keraton Jogyakarta”.
“Oh pantesan berbicara bahasa Jawa”.
“Nyai ratu, kok dipanggil ratu, apa nyai yang menguasai keraton?”.
“Benar sekali kyai, maaf baru bisa menghadap sekarang, karena di keraton sibuk”.
“Ya, ya gak apa-apa”.
“Yang dibawa ada berapa orang?”.
“Banyak kyai, semua prajurit jin keraton Jogya”.
“Oh ya ya, kenal dengan jin yang di Malioboro?”.
“Kenal sekali kyai, itu sekarang kok yang dilagukan bukan lagi gending Jawa”.

loading...

“Lhoh apa yang dilagukan?” tanyaku heran.
“Yang dilagukan ayat-ayat Qur’an, saya sempat heran, lalu saya tanya, apa yang dibaca kok sejuk di dengar”.
“Jawabnya ayat Qur’an, pak kyai yang mengajari, mendengar itu saya ingin sekali sowan ke sini, tapi saya ndak berani”.
“Wah kenapa ndak berani?”.
“Kyai orang besar saya hanya penguasa kerajaan kecil, tak pantas menghadap kyai”.
“Walah-walah, saya orang biasa nyai”.
“Ndak kyai, saya saja ndak berani melihat kyai”.
“Lhoh kenapa”.
“Saya silau kyai”.
“Di seluruh tubuh kyai banyak sekali malaikatnya”.

“Nyai Ganda Sari sudah Islam?”.
“Hehehe, sudah kyai, tapi Islam-Islaman”.
“Ya ndak apa-apa, nanti di Islamkan lagi, oh ya kalau penguasa keraton Solo, namanya siapa?”.
“Itu ki Ajeng”.
“Apa dia tak ikut menghadap?”.
“Dia juga takut menghadap pak kyai”.
“Walah kok pada takut to, coba panggil sekalian dia menghadap”.

Maka dipanggilah ki Ajeng. Dan tanpa banyak kata keduanya beserta pengikutnya ku Islamkan. Dan ku minta supaya kembali ke kerajaan masing-masing.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 85.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363