Kisah Sang Kyai Guru Bagian 85 - 278 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 84. Datang berbondong-bondong jin dari Ujung Kulon.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Kami dari Ujung Kulon kyai”.
“Wah banyak juga”.
“Kalau di Ujung Kulon, sering melihat kyai kalau ke Banten”.
“Sering sekali kyai, tapi kami tak berani menyapa”.
“Kenal sama nyai Mayang Sari, penguasa laut Ujung Kulon?”.
“Kenal kyai, belau baik, kami bersahabat”.
“Apa dia tak ikut hadir?”.
“Tidak kyai, beliau tak berani menghadap kalau tidak di panggil kyai”.
“Oh coba panggil kesini, di perintah menghadap kyai”.

Nyai Mayang Sari sebentar kemudian sudah datang dan ku minta masuk saja ke mediator.

“Ini benar, nyai Mayang Sari, penguasa laut Ujung Kulon”.
“Benar sekali kyai, saya nyai Mayang Sari”.
“Nyai Mayang Sari sudah Islam”.
“Alhamdulillah sudah kyai, tapi kalau boleh saya ingin masuk lagi ke Islamnya kyai, dan menjadi muridnya kyai, boleh kan kyai?”.
“Boleh saja, mari tirukan saya mengIslamkan”.

Lalu ku tuntun para jin dari Ujung Kulon dan nyai Mayang Sari untuk masuk Islam. Setelah ku Islamkan lalu ku perintah untuk kembali ke wilayah masing-masing. Ada tamu dari Bojonegoro, daerah Padangan. Jadi ingat Bengawan Solo, sering banjir, ku panggil jin penguasa Bengawan Solo menghadap.

loading...

“Assalamualaikum wr, wb”.
“Wah sudah Islam ya, ini jin penguasa Bengawan Solo?”.
“Benar kyai, ada apa kyai memanggilku”.
“Mau kamu menjadi pengikutku?”.
“Mau sekali kyai”.
“Ku lihat kok Bengawan Solo itu sering banjir? Bagaimana itu?”.
“Maaf kyai, beribu maaf, karena di sana sering di serang jin lain yang sering ingin menguasai sehingga aliran Bengawan kadang sampai berbalik”.
“Kok bisa begitu?”.
“Ya begitulah kyai”.
“Sekarang masuk Islam dahulu, nanti ku beri senjata untuk mempertahankan Bengawan Solo dari serangan”.
“Terima kasih kyai”.

Lalu dia masuk Islam. Setelah ku ajari dua kalimat sahadat dan ku beri ilmu cara menjalankan ibadah yang benar lalu kami bicara lagi.

“Saya dulu juga menyeberangi Bengawan Solo yang di daerah Padangan, ingat?”.
“Ingat kyai, itu kemarin kyai”.
“Kok kemarin?”.
“Ya tahun 94 di zaman manusia itu di kami seperti kemarin saja”.
“Oh begitu”.
“Ya kyai”.
“Bisa tidak Bengawan Solo itu di perdalam, biar gak meluap, tanahnya di perdalam?”.
“Insya Allah bisa kyai”.
“Nah lakukan itu”.
“Baik kyai, kami taat menjalankan perintah”.

Lalu penguasa Bengawan Solo mau segera pergi untuk menjalankan apa yang ku perintahkan.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 86.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363