Kisah Sang Kyai Guru Bagian 86 - 308 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 85. Yang ku lakukan itu bukan apa-apa, juga tak bernilai apa-apa, efektif atau tidaknya juga aku belum tahu, semua masih belum bisa dipastikan apa hasilnya. Ada kabar dari gunung merapi. Semenjak penguasa gunung merapi ku lempar ke neraka, aku sampai lupa menempatkan penguasa baru sebagai ganti penguasa lama yang sudah tak ada dan akhirnya timbul banyak perebutan kekuasaan di alam jin memperebutkan kekuasaan di gunung merapi, karena kesibukan, aku sampai lupa pada keadaan di gunung merapi, sampai ada orang yang di bawa ke rumahku oleh muridku yang mengalami dikuasai jin, dan tubuhnya sudah berubah menjadi seperti warna debu. Setelah dihadapkan padaku, maka aku mediumisasi jin yang ada di dalamnya.

“Maaf kyai”.
“Siapa ini?”.
“Aku ki Joko”.
“Ki Joko dari mana kok di dalam tubuh anak ini?”.
“Aku dari merapi kyai”.
“Kok di dalam tubuh anak ini”.
“Ya kan dia rumahnya dekat merapi”.
“Maksudku kenapa ki Joko masuk ke dalam dia”.
“Ampun beribu ampun kyai, apa kyai tak tahu”.
“Tahu apa?”.

“Setelah kyai melempar ki Semar ke neraka, gunung merapi tak ada penguasanya, maka antara kami bangsa jin sering terjadi perebutan kekuasaan, kami sering berperang antara para jin sendiri, ingin menguasai tlatah merapi”.
“Wah ada kayak begitu”.
“Makanya saya masuk ke dalam tubuhnya anak ini, dan juga teman-teman saya, karena saya melarikan diri dari serangan, maaf kyai, saya juga takut mati, di merapi banyak sekali jin yang saling bunuh membunuh”.
“Wah kok bisa begitu” aku tertegun memikirkan kejadian itu.
“Ki Joko”.
“Dalem kyai”.
“Kamu saja yang jadi penguasa merapi, apa kamu mau?”.
“Waduh kyai, la wong saya masih kecil kyai, saya lemah, yang lain saja”.
“Kamu menjadi besar”.
“Waduh kyai tubuhku membesar, bagaimana ini kyai”.
“Nah kamu sudah besar kan?”.
“Ya kyai, tapi saya ndak punya ilmu apa-apa, bagaimana kalau saya di serang?”.
“Kamu masuk Islam dulu, nanti ku beri senjata”.
“Wah terima kasih kyai, di negara kami, kyai terkenal sakti, pasti banyak sekali senjata”.

Lalu ki Joko membaca dua kalimat sahadat, dan masuk Islam. Semoga dia bisa menjalankan amanah yang ku berikan. Dunia gaib, mungkin hanya hayal atau bukan nyata di mata orang awam, tapi sebenarnya juga apa yang terjadi di dunia gaib itu mempengaruhi kejadian-kejadian yang terjadi di dunia nyata.

Sebenarnya kalau orang mau berpikiran logis dan jauh kedepan dan jauh kebelakang, maka akan mempunyai kesimpulan yang akurat tentang kejadian yang terjadi. Mungkin masih belum ngeh dengan maksud dari apa yang ku tulis. Begini, manusia itu di zaman diciptakan oleh Allah, ada kisah bersama iblis, Ibnu Katsier dan penafsir lainnya menulis bahwa Azazil nama asli iblis adalah seorang Malaikat yang rupawan dengan memiliki empat sayap, bahkan menjadi Sayyidul Malaaikat sebagai pemimpin malaikat KARUBIYYIN dan juga mendapat tugas sebagai Khoziin al-Jannah (Bendaharawan sorga) selama beberapa puluh ribu tahun sebelum membangkang kepada Allah (Hadist riwayat Ibnu Abbas dari Muhammad bin Ishaq, dari Kholad, dari Ibnu ‘Atho’, dari Thowus, dan dari beberapa hadist yang lain).

Namun kalau dihadapkan pada ayat: “Laa ya’shuunalloha maa amarohum wayaf’aluuna maa yu’marun” = “dan para malaikat itu tidak akan mendurhakai Allah dan mereka akan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan“. (At-Tahrim 6), maka IjajiL ini mungkin hanya hidup dekat dengan para malaikat tapi ia sendiri bukan malaikat, namun level ibadahnya setara dengan malaikat, seperti Jibril, Izrail, Isrofil, Mikail, dan lain-lain. Dan ini sesuai dengan pernyataan Iblis sendiri: “Kholaqtanii min naar” = “Engkau Ciptakan aku dari api”, sedangkan kita tahu para malaikat itu diciptakan dari NUR, bukan dari api.

Dalam ayat lain disebutkan: “Kaana minal Jinn” = “Iblis itu bagian dari bangsa Jin” (Al-Kahfi 51) Demikian juga mereka berkeluarga dan punya anak turun temurun seperti Ifrit-Naml 39), sebagaimana disampaikan oleh Imam Mujahid dan Qotadah: “Innahum yatawalladuuna kama yatawalladu banuu Adam” – tidak sebagaimana malaikat yang tidak beranak tidak beristri. (Al-Khoziin / Al-Baghowi III-1/212 – 216 / Surat Al-Kahfi 50).

loading...

Namanya berubah menjadi Iblis, ketika Allah menciptakan Adam AS sebagai calon kholifah di bumi dan memerintahkan seluruh malaikat untuk sujud hormat (bukan sujud menyembah) kepada Adam yang telah diberikan beberapa kelebihan ilmu, maka seluruh malaikat pun bersujud, menghormat Adam, kecuali Ijajil, karena di pengaruhi oleh karakter aslinya, yakni: Dengki (hasad) dan Sombong (takabur). Dia menolak karena Adam hanyalah makhluk yang diciptakan dari tanah, sedang dia diciptakan dari api. “Abaa wastakbaro wakaana minal kaafiriin = Dia menolak dan menyombongkan diri, maka dia termasuk kedalam kelompok mereka-mereka yang kafir” (Al-Baqoroh 34).

Maka sejak pembangkangan dan kesombongannya itu runtuhlah kemuliaan dan ketinggian namanya (Ibrani: Aza = Izzah = mulia , El = Eli = Allah = Azazil = makhluk yang dimuliakan Allah). Rupanya pun berubah buruk menakutkan dan sebutan panggilannya diganti oleh Allah menjadi Iblis laknatullah, dari kalimat yang artinya adalah “terputus dari rahmat Allah”.

Maka siapapun, bahkan termasuk makhluk yang pada awalnya mulia seperti Ijajil yang amaliyahnya setara atau bahkan mengungguli amaliyah para malaikat, ketika dia melakukan dua hal tersebut diatas, yakni: 1 – Abaa (membangkang), dan 2 – Istakbaro (pembangkangannya dilakukan karena kesombongan hatinya), maka akan jatuhlah ia pada kekafiran. Iblis, bapak segala setan, hidup sampai akhir zaman.

Karena pembangkangannya, maka Allah pun melaknatinya dan mengancam siapapun yang ikut membangkang bersama dia dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu dan segala orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (Shood 85).

Karena ia menganggap kemuliaannya runtuh gara-gara Adam, ia pun mendendam dan bersumpah akan menggoda dan merayu Adam dan seluruh keturunannya, kecuali mereka-mereka yang hatinya bersih dan ikhlas. (Shod 83).

“Maka segala godaan dan rayuan tak akan mempan menghadapi orang-orang yang hati dan jiwanya bersih. Untuk melampiaskan dendamnya, ia memohon kepada Allah agar kematiannya di tunda sampai hari kiamat, ia pun memohon:
“Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” (Al-Hijr 36 / Shod 79).
Allah mengabulkan permintaan Iblis tersebut dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang di tangguhkan (ajalnya). Sampai waktu yang telah di maklumi (yakni hari kiamat).” QS. Shod 80 – 81.

Demikianlah, Iblis dan segala zuriyatnya tak akan mati dan terus beranak pinak sampai hari kiamat tiba, dan terus menerus tanpa kenal lelah akan menggoda dan merayu zurriyyat Adam. Jangan mengira kalau iblis itu ciptaan Allah yang buruk, dahulu kala, ribuan tahun jauh sebelum manusia diciptakan. Setelah Lauhful Mahfudz, bumi, langit, surga, neraka diciptakan. Saat dimana malaikat dan iblis hidup berdampingan, dalam damai. Saat itu Iblis adalah bagian dari malaikat. Wajahnya sangat tampan, sayapnya hitam berkilau, perangainya sangat baik, cerdas, rajin, sopan, juga sangat taat kepada Allah.

Selalu beribadah dengan penuh keikhlasan, karena ketaatannya Iblis pun menjadi makhluk kesayangan Allah saat itu. Tak hanya Allah saja, para Malaikat di Bumi, Langit, dan Arsh pun sangat menyayangi dan menghormatinya. Iblis sangat pandai, dengan kepandaiannya itu tidak membuat dirinya sombong, dan dia tetap rajin belajar di Perpustakaan Langit. Semua malaikat tahu bahwa tak sembarang Malaikat yang di izinkan untuk ikut membaca Kitab Lauhful Mahfudz, Iblis pernah memiliki izin khusus tersebut.

Dalam sebuah kitab disebutkan, karena berbagai keistimewaannya, Allah dan para malaikat memberinya Laqob (julukan, panggilan kehormatan) sampai tujuh nama yaitu, “Al-Abid”, “Az-Zahid”, “Al-Arif billah”, “Al-Wali” , “At-Taqin”, “Al-Khodim”, “Al-Wira’i” (Ikhlas). Malaikat di Langit Pertama lebih suka memanggilnya dengan nama “Al-Abid”, yang berarti Hamba Allah. Meskipun semua makhluk pada dasarnya adalah Abid (Hamba Allah), tapi saat itu hanya Iblis yang menyandang gelar “Al-Abid”, hamba kepercayaan Allah yang paling taat.

Malaikat di Langit Ke-Dua memanggilnya dengan sebutan “Al-Zahid”, makhluk yang paling Zuhud. Waktu telah membuktikan, selama 80.000 tahun sejak penciptaannya Iblis bersama para malaikat terus menerus thowaf di Baitul Makmur, Ka’bah yang ada di langit. Setelah itu, selama 40.000 tahun lamanya Iblis menjabat menjadi Pemimpin Malaikat di Surga. Kemudian Iblis mengundurkan diri dari jabatannya dan menjadi Penasehat selama 20.000 tahun. Iblis juga pernah beribadah bersama para Malaikat Arsh selama 100.000 tahun, padahal kita tahu bahwa hanya malaikat tingkat tinggi saja yang bisa naik ke Arsh Allah. Tak hanya itu, Iblis juga pernah beribadah dan berkumpul bersama Malaikat Karobiyin dan Malaikat Rohaniyin masing-masing selama 100.000 tahun. Hal itu tidak menyebabkan Iblis menjadi sombong, hatinya benar-benar tulus dan ikhlas beribadah kepada Allah.

Malaikat Langit ke-Tiga sepakat memanggilnya “Al-Arif Billah”. Karena kedekatannya dengan Allah, Malaikat Langit ke-Empat memanggilnya “Al-Wali”, kekasih Allah. Bila Allah memanggil “Ya Waliy” (Wahai Kekasihku), tak ada satupun makhluk yang berani menjawab kecuali Iblis, karena mereka tahu hanya Iblis lah yang dimaksud. Saat itu, tak ada satupun makhluk yang lebih dekat posisinya dengan Allah kecuali Iblis.

Ketakwaannya pada Allah yang luar biasa membuatnya mendapat gelar “At-Taqin”, Sang Ahli Taat. Karena tak ada satupun perintah Allah yang tidak dilaksanakannya. Tak ada satupun dosa yang pernah dilakukannya. Tak ada satu pun hal yang dilakukannya kecuali dengan izin Allah. Sehingga Malaikat Langit ke-Enam memanggilnya dengan sebutan “Al-Khodim”, Sang Pelayan-Kepercayaan Allah. Malaikat Langit ke Tujuh pun tak mau kalah dan memanggil Iblis dengan sebutan “Al-Wira’i”, Makhluk yang Paling Wira’i.

Begitu setia dan percayanya Iblis kepada Allah, tak ada apapun yang dapat membuatnya mengkhianati Allah. Tak ada yang dia sembah selain Allah. Tak ada yang dapat menggantikan posisi Allah di hatinya. Hingga saat diciptakannya Adam, semua malaikat protes kepada Allah. “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau ciptakan makhluk yang hanya akan mengakibatkan pertumpahan darah di bumi?”. Iblis dengan kearifan dan ketaatannya hanya diam. Allah menjawab, “Aku lebih tahu, dan Engkau tak tahu”.

Para malaikat pun akhirnya menyadari kesalahannya dan minta maaf. Allah menciptakan Adam dari tanah dan meniupkan Ruh-Nya agar tanah itu hidup. Kemudian Allah memerintahkan kepada para malaikatnya untuk bersujud kepada Adam (bukan sujud untuk menyembah tetapi sujud penghormatan). Para malaikat pun patuh dan sujud kepada Adam. Hanya satu malaikat yang enggan sujud kepada Adam, yaitu Iblis. Malaikat bersayap hitam itu tetap berdiri tegak, hatinya galau.

Dengan ketaatan dan kesetiaannya, dia ingin tetap menjaga hatinya bahwa tak ada Tuhan selain Allah, Tak ada sesuatu yang pantas disembah kecuali Allah, Tak ada apapun yang pantas dihormati selain Allah, karena pada dasarnya semua itu adalah ciptaan Allah. Jika dia harus mengakui kebesaran Allah karena menciptakan makhluk sehebat Adam, maka Allah lah yang patut tuk disembah, bukan Adam. Hatinya ingin memberontak, “wahai kekasihku, Tuan-ku, begitu teganya dirimu menyuruhku untuk menyembah kepada sesama makhluk?!”.

Melihat hal itu, Allah pun bertanya kepada Iblis, “Mengapa engkau tidak sujud, wahai Iblis? Bukankah biasanya engkau adalah makhlukku yang paling taat. Tak biasanya kau mengabaikan perintahku. Apa gerangan yang membuatmu diam?”. Dengan penuh kerendahan hati dan sikap hormat, Iblis pun menjawab “Engkau ciptakan aku dari Api dan Adam dari tanah,” maksudnya, kita kan sama-sama makhlukMu ya Allah. Maafkan aku Ya Allah, di hatiku tak ada yang pantas disembah selain Engkau ya Allah. Bagaimana bisa Allah lebih memuliakan Adam yang baru saja dibuat dari kami yang telah lama taat? (Secara pribadi, mana ada sih kantor, mantan presiden yang mau melayankan diri kepada seorang “bocah wingi sore”? Wajar bila Iblis gak mau sujud kepada Adam).

Iblis dalam hatinya bertanya, Ya Allah, salahkah bila aku cemburu pada Adam karena Engkau lebih menyayangi Adam. Padahal Iblis tahu bahwa manusia bukanlah makhluk yang kuat. Manusia adalah makhluk yang sangat lemah di mata Iblis. Iblis pun merasa bahwa makhluk selemah Adam tak pantas untuk dihormati atau mendapat kehormatan seperti itu. Tak salah Iblis menjawab demikian, karena kedekatannya dengan Allah. Sementara para malaikat hanya bisa terdiam, terkejut menyaksikan hal itu. Baru kali ini Iblis yang begitu taat berani menentang Allah. Ya walau tidak sepenuhnya menentang sih. Hanya satu perintah saja. Namun, agaknya hal itu cukup membuat murka Allah. Dengan bijaksana, Allah pun memerintahkan Iblis untuk kembali ke asalnya yaitu Neraka. Mencabut semua kehormatan dan hak prerogatif Iblis. Melihat hal itu, para malaikat serempak memohonkan ampun untuk Iblis. Namun, Iblis dengan lapang dada dan sabar tetap menerima keputusan Allah.

Rasa penasarannya kepada manusia membuatnya berani tuk memohon izin kepada Allah untuk menggoda manusia, karena semua yang dilakukannya selalu dengan izin pada Allah. Wahai Adam mari kita buktikan, benarkah engkau memang layak untuk ku hormati? Benarkah engkau memang pantas untuk di istimewakan oleh Allah? Allah pun mengerti akan rasa penasaran Iblis dan mengizinkan Iblis untuk menguji Adam beserta keturunannya.

Karena Iblis tahu bahwa Allah memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Iblis juga tahu bahwa Allah Maha Adil. Hanya Allah yang mengetahui segala kebenaran. Dan Iblis tetap mempertahankan kebenaran yang dia yakini. Untung iblis itu hanya menggoda iman, bukan minta izin pada Allah untuk menyerang dan menaklukkan manusia dengan serangan nyata, kalau saja waktu itu iblis meminta Allah untuk di beri izin menyerang manusia maka manusia akan kalah melawan iblis, karena iblis itu hanya meminta izin menggoda, menguji dengan ujian, lantas karena hanya menguji dan menggoda, iblis lalu tak berdaya apa-apa, dan mengapa-apakan manusia, dia akhirnya tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menggoda saja, dan merancang aneka godaan, tentu saja iblis yang cerdas tak begitu saja menyerah, dia lalu menggoda manusia untuk mengganggu manusia yang lain, meniupkan rasa iri dan dengki, menggoda jin juga yang lebih punya daya pada manusia untuk bisa di godanya untuk menggoda manusia dengan merasukinya, dan iblis memberi hadiah keilmuan kepada jin atau manusia yang mau bersekutu dengannya.

Dari situlah timbul masalah, penyakit atau apa juga yang menimpa manusia sebenarnya kalau ditelusuri itu adalah ulah iblis, dan Allah memberi izin pada iblis untuk melakukan itu, seperti terjadi kejadian medis atau kejadian alam sebenarnya kalau orang mau menelusuri asal kejadian akan ditemukan kenyataan hakikat kejadian, ada penyakit di diri manusia, dan ada sebab musababnya, sering kali manusia hanya menghilangkan efeknya, dan mengobati boroknya, dan sebab borok itu terjadi sama sekali tak di obati, sering menebang pohon, tapi akar dari pohon itu tak di cabut.

Entah kejadian alam, atau kejadian sakit di tubuh, jika ditelusuri dengan akal yang cerdas, bahkan jika manusia itu dibukakan asli kejadian, ya akan kembali pada penciptaan Adam, seperti gunung berapi saja, jika orang itu tahu, sebenarnya ada para jin yang menyalakan kompor atau perapian besar di bawah tanah, logika saja, apa ada barang yang bisa terbakar, kalau tanpa pencampuran bahan bakar yang tepat, manusia saja kalau mau menyalakan kompor, harus ada gas, harus gasnya di simpan dalam tabung gas, ada selang dan lain-lain, sampai kompor bisa menyala, kalau gas habis juga tak akan menyala lagi itu kompor, jadi itu yang terjadi sebagaimana kenapa kejadian alam itu terjadi, tak bisa terjadi dengan sendirinya, di alam ini Allah telah menentukan hukum, sarat sareat, sebab akibat, dan manusia menggali sunnatulloh itu, menggali aturan atau sarat dan sareatnya, ada unsur, namanya sarat, dan ada perbuatan menyatukan unsur dengan ramuan yang pas, sehingga memperoleh hasil yang diharapkan, semua mobil, pesawat, makan, minum, dan apa saja, itu memadukan unsur alam, dengan paduan yang tepat, sehingga dihasilkan apa yang di inginkan, pesawat bisa terbang, mobil bisa jalan, makanan asin karena kebanyakan garam, memadukan unsur dengan tepat itu namanya sareat, tujuan dicapainya tujuan pengambilan sarat, atau benda, atau perbuatan, dan memadukan lalu tujuan yang akan di capai itu namanya hakikat, dan menjalankan semua sampai dari adanya sarat, sareat, hakekat, dijalankan di satu perbuatan itu namanya tarekat.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 87.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363