Kisah Sang Kyai Guru Bagian 88 - 458 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 87. Satu menit berlalu. Dan ruhnya anak kecil yang meninggal sudah ada di dalam tubuh mediator.

“Huuuu, huuu” dia menangis.
“Nduk jangan menangis nduk, ini bapakmu ingin minta pak kyai bertanggung jawab atas kematianmu, silahkan bapak bertanya, ini ruh anak bapak”.
“Nduk benar ini kamu nduk?”.
“Iya pak ini aku pak, huuu-huuu, jangan menuduh pada pak kyai yang tak bersalah, yang berusaha menolongku, malah bapak salahkan, pak, ikhlaskan aku mati ya pak, aku kesakitan kalau bapak tak ikhlas” jawab ruh anak kecil yang di dalam mediator.
“Apa meninggalmu tak wajar nduk?”.
“Bapak sendiri kan tahu kalau aku meninggal tak wajar, kemarin pak kyai sudah menunjukkan, tapi kenapa bapak jelek sekali perangainya, kenapa malah menuduh pak kyai yang dengan ikhlas menolong, kenapa bapak begitu”.
“Aku tak menuduh nduk, tapi bapak bingung” kata pak Jo.
“Pak, pak, ikhlaskan aku ya pak, memang aku awalnya mati tak wajar, tapi Allah sudah memperbolehkanku dan aku meninggal dengan ikhlas, pak, aku di siksa, kalau bapak menuduh pak kyai, aku kesakitan pak. Bapak begitu tega padaku, malah tidak mendoakanku, malah menuduh pak kyai yang melakukan ini, padahal dia menolongku, pak kyai maafkan bapakku pak kyai, huu, huuu”.

“Ya nduk, kyai ndak apa-apa di tuduh, Allah Maha tahu, silahkan pak, bertanya apa lagi?”.
“Ya pak kyai, saya sudah ikhlas dan tak akan menuduh pak kyai” kata pak Jo.
“Ini mumpung anak bapak di sini, jadi mau tanya apa lagi?” tanyaku.
“Sudah pak kyai”.
“Sudah ya nduk, maaf pak kyai memanggil ruhmu kembali, sekarang ku serahkan lagi ke malaikat Isrofil”.
“Ya pak kyai, maafkan saya dan bapak saya”.
“Ya nduk, yang tenang di sana”.

Aku mengembalikan ruhnya anak itu ke akhirat. (Namanya juga mimpi, ya aneh-aneh saja).

loading...

“Bagaimana, apakah mas ini masih mau menuduhku?” telunjukku ku arahkan pada dukun yang menyertai.
“Kalau masih tak percaya, akan ku buktikan kalau itu di sangka bukan ruh asli, akan ku pindah ruh mas ini ke kecoak mau?”.
“Ah ndak pak kyai, kenapa begitu?” kata si dukun.
“Ya biar percaya, apa yang saya lakukan ini benar atau bukan, cuma rekayasa atau bukan”.
“Sudah saya percaya saja”.
“Ya tidak bisa begitu, mumpung masih di sini, dibuktikan kan bisa, daripada nanti di belakang ndak benar, kan sekarang saja dibuktikan”.
“Ndak, ndak, saya percaya kok”.
“Saya itu orangnya tak suka main-main” kataku, ku pertegas.
“Lalu bagaimana dengan kakak anak ini yang mimpi di lihatkan kejadian kalau adiknya itu tak beres meninggalnya?” tanya dukun.
“Nah itu juga bisa dibuktikan”.

Ku tarik jin yang memberi mimpi pada anak remaja itu, dan ku masukkan ke mediator.

“Sukses” kata jin yang masuk ke mediator.
“Sukses apa?” tanyaku.
“Sukses memperdaya anak remaja ini, ku masuki mimpinya, dan ku bisiki dia, agar menyangka kalau adiknya matinya karena pak kyai, hihihi” kata si jin.
“Hm, begitu ya, apa kamu ndak takut denganku?” tanyaku.
“Takut, takut sekali, siapa di dunia jin dari ujung barat dan timur yang tak kenal dengan kyai Nur, semua kenal, raja segala jin di penjuru bumi, makanya aku takut, lalu memperdaya anak ini, agar menuduh pak kyai, hihiiii, aku berhasil, tapi tertangkap basah“.
“Hm, kenapa kamu jahat begitu?”.
“Karena aku pengikut iblis”.
“Ya sudah kamu mati saja”.
“Ampun ampun pak kyai jangan bunuh aku”.
“Aku tak akan membunuhmu, silahkan malaikat maut cabut nyawanya”.

Mediator segera mengejang, dan jin sudah tercabut nyawanya. Kejadian mimpi makin panjang, dan berlanjut pada orang tua anak yang meninggal minta rumahnya dibersihkan, dan berlanjut pada cerita keluarganya dibersihkan semua dari gangguan jin, juga si dukun juga ikut-ikutan minta dibersihkan dari jin. Ah cerita mimpinya jadi gak seru.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 89.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363