Kisah Sang Kyai Guru Bagian 89 - 268 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 88. Cerita mimpi yang lain saja, ku tekankan yang tak suka baca, sebaiknya jangan baca soal mimpiku ini, karena ndak ada manfaatnya sama sekali, juga jangan di ikuti alur ceritanya karena namanya juga mimpi, sama sekali ndak nyambung. Jamin! Tapi aku akan menulis saja mimpiku ini, walau sekedar mimpi.

Kali ini mimpi, nabi Sulaiman AS mendatangiku, ya bisa saja jin, atau setan yang mendatangiku, dia mengaku sebagai nabi Sulaiman, karena dalam mimpi aku juga gak sempat nanya nomor ponselnya, namanya juga mimpi, jika ada yang nanya nomor ponselnya nabi Sulaiman itu berapa? Dia menyerahkan sebuah mahkota ke kepalaku, dan menyematkan cincinnya di jariku, katanya cincin di jariku adalah cincin untuk menaklukkan segala macam jin. Wah mimpi kok ya aneh-aneh.

Setelah itu aku di minta memanggil semua jin yang dulu takluk padanya, dan di minta mengIslamkannya, dan datang berjuta-juta trilyun jin, berbentuk kelelawar, dan segera ku mediumisasi, dan ku Islamkan, kalau ada yang tanya, mana mahkota nabi Sulaiman? Ya gak ada lah, wong mimpi kok di tanyain wujudnya. Mimpi nyatanya ya aneh-aneh, tapi tetap saja mimpi, dan kebanyakan mimpi itu bukan logika.

loading...

Jadi bingung kadang mau cerita mimpi, banyak mimpi-mimpi mau di ceritakan keburu lupa, sampai kadang kepikiran apa ada gak ya alat untuk memutar ulang mimpi, agar mimpi yang aneh-aneh itu bisa di ceritakan, paling tidak dari pada membicarakan kejelekan orang, sama-sama nganggurnya, mending membicarakan mimpi yang tidak menyakiti orang lain, misal kok ada nama atau kejadian yang sama, ya kali saja kebetulan, seperti kalau di buku-buku fiksi, jika ada kejadian atau nama yang sama dengan cerita ini maka itu hanya kebetulan saja, sama sekali tak ada unsur kesengajaan.

Juga sama dengan mimpiku, jadi kalau ada kejadian yang sama atau mencakup siapa saja, maka itu tanpa ada unsur kesengajaan, aku hanya menulis mimpiku, kamu juga bisa menulis mimpimu, kalau perlu sedia buku siapa tahu mimpi bisa di terjemahkan ada maksud di balik kejadian di alam bawah mimpi, yang tukang tombok Togel saja selalu mencari arti di balik mimpi. Heheheh.

Ku lanjutkan di cerita mimpi yang lain. Suatu kali iseng-iseng aku memanggil ruh para leluhur sampai pada tarapan tertentu, aneh juga berbondong-bondong ruh para leluhur para silsilahku datang, dan yang membuatku lebih aneh, ada di antara ruh itu adalah orang yang berwajah sebagaimana Sunan Ampel dan Sunan Giri, kenapa ku kenal dengan Sunan Ampel dan Sunan Giri, sebab sebelumnya aku pernah bertemu dengan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga yang memberikan ilmu padaku, juga memberikan nasehat padaku, sehingga aku paham dengan wajahnya, aneh juga.

“Apa ini semua adalah ruh kakekku?” tanyaku polos.
“Benar kami para kakekmu, ada keperluan apa ngger kamu memanggil kami?” tanya salah satu.
“Boleh saya tahu nama-nama kalian, agar saya bisa mendoakan satu persatu?” kataku beralasan.

Lalu salah satu berkata.

“Kalau mendoakan, dijama’ saja ngger, ndak usah satu-satu”.

Wah gak bisa tahu kalau begitu, waduh aku mati kutu.

“Ya kalau begitu, terima kasih atas kehadiran kalian semua, maaf telah mengganggu istirahat para kakek” kataku serba salah.

Aku melupakan saja mimpi itu, ah rasanya ndak begitu penting, selama ini aku ndak tahu siapa kakekku juga tak masalah. Tapi makin aku berusaha tak ingin tahu, makin saja menggelitik rasa ingin tahuku. Apa benar kalau Sunan Ampel atau Sunan Giri itu adalah kakek buyutku? Mimpi lagi. Sunan Ampel dan Sunan Giri duduk di depanku, mereka menyebutku khatib,

“Maaf saya bukan khatib kanjeng Sunan”.
“Heheh, kamu khatib ngger, kami memanggilmu khatib, itu julukanmu di alam ruh”.
“Maaf kenapa kanjeng Sunan berdua selalu mengunjungiku? Apa mungkin ada darah kanjeng Sunan berdua yang mengalir di darahku”.
“Benar sekali” jawab Sunan Ampel.
“Ya benar sekali ngger, darahku mengalir di darahmu, coba kamu tulis silsilah sampai kepadamu” kata kanjeng Sunan Ampel.

Setengah jam menulis silsilah yang panjang, dari beliau berdua. Dari Sunan Ampel lebih pendek silsilahnya menyambung ke beliau, tapi dari Sunan Giri lebih panjang dan berkelok kelok. Tapi aneh nama kakekku aku tak pernah mendengar itu.

“Apa ini benar kanjeng Sunan?” tanyaku.
“Kenapa nama kakekku di kanjeng Sunan Ampel sama di kanjeng Sunan Giri berbeda?”.
“Itu nama julukan ngger, bukan nama asli”.
“Terima kasih kanjeng Sunan” kataku masih di liputi kebingungan.

Karena di silsilah yang ku ketahui, aku pernah dengar kalau aku ini keturunan dari Jaka Tingkir, dan kalau di daerahku aku ini keturunan dari silsilah Syaikh Abdul Jabar, tapi kenapa kok sampai kepada Sunan Giri? Ah makin membuatku bingung saja. Aku diam saja dalam kebingunganku, dan mendengar pesan mereka.

“Sebelum kami pergi, ingat ngger yang kuat menanggung amanah ini dirimu, jadi yang sabar ya ngger cobaanmu sangatlah berat”.
“Doakan saya kek, saya hanya orang biasa, cucumu ini orang lemah tak ada daya”.

Aku tertegun sampai mereka berdua mengucap salam dan pergi.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 90.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363