Kisah Sang Kyai Guru Bagian 9 - 143 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 8.

“Nafisah”.
“Si Nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan di sini aku menghadap kiblat kau menghadapku, bayangkan saja Nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu ke perutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?”.

Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap dia pun menelepon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan. Sementara itu Nafisah yang di rawat di rumah sakit Aisiyah Bojonegoro, di minta duduk oleh ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga duduk berhadap-hadapan, kami berdua berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri yang ada di tubuh kami. Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan mengalir ke telapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan ke arahku, udara serasa bergumpal-gumpal, aku membayangkan tubuh Nafisah ada di depanku.

Memang kekuatan anugrah Allah yang tak terlihat ini begitu dahsyat, aku pernah mencoba pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar, tapi pemuda itu tak percaya akan ada tenaga sehebat itu, lalu aku menyalurkan tenaga ke tangan dan mengaduk isi perutnya, padahal jaraknya denganku tiga meter, Tarsan muntahkan semua isi perutnya, lalu aku coba menulis namanya di udara dengan jariku, dan kupukul dengan tanganku, walau tanpa menyentuhnya dan Tarsan terpental.

Aku memejamkan mata dan membayangkan tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari belakang, lalu dia merasakan seperti ada ribuan semut memasuki tubuhnya, dan seperti mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya. Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti kesemutan. Aku dan Macan masih duduk, menyalurkan tenaga.

“Turunkan pelan-pelan Can, tenaganya jangan di sentak” kataku memberi aba-aba.

Dan selesailah proses pengobatan kami. Aku mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu juga Macan. Ku seruput kopi yang penghabisan dan menyalakan rokok.

“Selanjutnya bagaimana Ian?” tanya Macan.
“Ya nanti telepon lagi, minta di ronsen ulang, moga-moga saja pengobatan kita berhasil, sekarang aku tak pamit dulu” kataku.

Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal Kampung Rambutan. Aku berangkat, memilih bus yang langsung menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat duduk, dan tidur setelah bus berangkat. Kondektur membangunkanku, meminta uang tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua.

Ah sial aku, sementara kondektur itu menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr! Di sakuku ada uang tiga ratus ribu, ah pastilah Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui. Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk membayar bus, ku berikan uang seratus ribu kepada kondektur, dan setelah di berikan kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan Pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang Sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat pesantren.

“Ojek mang?” kataku ke arah mang Sofyan.
“Ke rumah kyai ya jang?” tanyanya.
“Iya mang, berapa?” tanyaku.
“Lima belas ribu jang”.
“Byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan taksi”.
“Sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang jarang, jadi ya kenaikan berlipat, mau gak jang”.

Terpaksa aku menyetujui. Dari pada ribet urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh, paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah. Motor ojek mang Sofyan segera mengantarku, motor itu menggerung-nggerung, karena jalan aspal yang sudah rusak di sana-sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam.

loading...

Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah diperbaiki berkali-kali, tapi uang untuk perbaikan jalan kebanyakan di sunat sini, maka imbasnya jalanan hanya di perbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi. Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, ponselku bunyi, segera ku angkat, suara Macan dengan nada bahagia.

“Ian syukur, adikku tak jadi di operasi, dah sembuh, dan sudah di ijinkan pulang, makasih ya Ian”.
“Wah jangan berterima kasih padaku, kita kan cuma berusaha, kesembuhan ada di tangan Allah jua. Bersyukurlah pada-Nya”.
“Iya, iya, wah ceramah terus”.
“Eh uangku, kamu masukkan sakuku, tanpa setahuku ya Can?” tanyaku ketika ingat uangku ada di saku.
“Ah enggak, ini masih ku pegang, iya, iya, nanti aku kembalikan, sekarang ku pinjam dulu. Jangan kuatir” nadanya serius, setahuku Macan orangnya tak suka main-main, kalau bilang A ya A kalau bilang B ya B.

Lalu kenapa ada uang di sakuku. Para santri segera menyambutku, dan bersalaman mesra, mereka-mereka seperti saudara-saudara kandungku.

“Mas Ian sudah di tunggu kyai” kata Mujaidi. Bibirnya masih seperti dulu, di kelotoki karena sariawan, sehingga kelihatan jontor sana-sini, wajahnya juga makin banyak lubangnya bekas jerawat batu di penceti, malah lebih kelihatan seperti kayu di makan rayap, yah biarlah itu kesenangannya sendiri. Aku segera berlalu, kulihat kyai berdiri di bawah pohon melinjo, aku segera menghampiri, dan bersalaman mengecup tangannya dengan takzim.

“Bagaimana, Macan tak mau?” tanya kyai. Sambil mengajakku duduk di kayu pohon sengon yang telah mengering, dan telah tumbuh jamur di sana-sini, jamur kecil-kecil berwarna kuning kemerahan.
“Dia tak mau kyai”.
“Ya sudah kalau tak mau, nanti kamu menjalani sendiri, kamu sanggup, menjalani laku gila?”.
“Sanggup kyai” jawabku mantap.

“Sekarang pun kalau kyai memintaku berangkat, aku akan berangkat kyai”.
“Tak usah buru-buru, mungkin sebulan lagi, nanti setelah shalat ashar, kamu aku baiat, dan nanti malam mulai melatih ilmu rogo sukmo”.
“Bagaimana aku melatih ilmu itu kyai? Sedang aku tak punya” tanyaku meragu.
“Ilmu itu telah ada dalam dirimu, hanya kau tak tahu, nanti kalau ingin melepas sukma baca ini” kyai membisiki telingaku.

“Wah cuma dua lafat itu kyai” tanyaku heran.
“Iya cuma itu, dan bayangkan tempat yang akan kau tuju” kata kyai.
“Apakah ada pantangannya kyai?”.
“Tidak, tidak ada pantangan, tapi hati-hatilah, karena bila merogo sukmo, kau akan melihat aneka macam makhluk Allah, dan kalau bertemu jin fasik, pasti akan berantem, kalau kau merasa tak mampu lebih baik menghindar, dan jika kau butuh sesuatu di alam sukma, bayangkan saja dengan hayalmu”.
“Terima kasih kyai, saya mau istirahat dulu” setelah berpamitan aku pun menuju ruang pembuangan jin yang luas, untuk tidur siang sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan meminta pijit pada jin.

Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka, suara menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar. Dan udara dingin menusuk kontan kurasakan, nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara dalam rumah pembuangan jin ini tak berjalan. Rumah ini walau tak pernah di masuki orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang mengelupas, dulu cat ini aku juga yang mengecatkan, dengan motif whos, yaitu kain di sobek-sobek seperti kain pita, setelah segenggaman tangan lalu di ikat, nah ujung kain itulah yang di buat menjadi motif, di celupkan ke cat dan di kecrok-kecrokkan ke tembok.

Untuk hasil yang sempurna, cat tembok putih di campur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat seperti kertas wallpaper yang di tempelkan. Warna tembok ku motif warna bunga lavender, dan di tembok lain ku motif bunga tulip. Aku segera mencari tempat untuk tiduran, aku dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main cinta.

Aku memilih di ruang sebelah, ruang ini luasnya delapan kali lima meter, cukup luas, aku menggeletak di pinggir tembok. Ku eratkan jaketku, untuk mengurangi hawa dingin. Jam tangan ku lihat pukul sebelas siang. Kurasakan ada jin yang mendekatiku, dari arah kananku, karena pipiku menebal, ku ucapkan salam dalam hati, dan ku katakan aku ingin di pijat, walau aku belum bisa melihat mereka karena rendahnya ilmuku, tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka.

Ku rasakan tanganku ada yang memegang dan memijat-mijat, juga kepalaku, lalu kakiku juga ada yang memijat, rupanya dua jin yang memijatiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum tidur aku minta di bangunkan jam dua, akupun tertidur. Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit. Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu beranjak pergi. Mengambil sabun yang biasa ku selipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai,

“Gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur” kata Jauhari dan Kholil ketika berpapasan denganku.
“Ah nanti saja”.

Aku segera berjalan di jalan berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah, setelah melewati dua kotak sawah aku pun sudah sampai di tempat anak-anak pada mandi, masih ada Tarsan dan Majid masih sibuk mandi, aku pun bergegas mandi, setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus mandi, aku pun mencebur.

“Awas mas, banyak lintah” suara Tarzan memperingatkan, tapi terlambat, karena ada kurasakan sesuatu menempel di dekat mata kakiku, aku segera keluar dari air dan naik ke atas batu bundar pipih, sebesar kerbau yang di tempati Tarzan mencuci.
“Wah ketampel lintah nih” kataku melihat binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain lintah.
“Biar mas tak ambilnya mas” kata Tarzan.

Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari kakiku.

“Untuk apa Zan?”.
“Biasa mas, untuk memperbesar”.
“Jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo”.

Setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke kamar, dan shalat dhuhur, melakukan dzikir setelah shalat, dan pergi ke dapur, ternyata teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena paling mudah, kelapa tinggal manjat, lalapan daun pepaya dan daun kopi muda, sedap juga. Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan shalat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk di baiat. Teman-temanku semuanya telah berkumpul.

Aku pun diminta duduk menghadap kyai, tangan di jabat dan menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan. Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan syariat Islam secara kaffah, dan bersedia menjauhkan diri dari segala macam perbuatan dosa. Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat di lakukan oleh Rasulullah, dan di jelaskan untung ruginya.

Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak. Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali. Malam itu setelah isya aku di suruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar. Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku, karena aku belum tahu akan bagaimana nantinya. Ku duduk membaca Al-fatehah tiga kali, An-nas tiga kali, Al-falaq tiga kali, ayat kursi tiga kali, lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh. Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan membaca doa yang tadi siang di ajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah tiga kali tanpa napas.

Leess! Aku seperti begitu saja tertidur, tahu-tahu aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di udara, sementara jasad kasarku tergeletak dalam kamar. Aku segera keluar kamar menembus dinding, bersalto di udara, terbang kesana kemari, hinggap di pucuk pohon kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku menghampiri majlis dzikir, masih melayang-layang, kulihat semua santri selain diriku tengah konsentrasi dengan wirid masing-masing, sementara kulihat kyai juga tengah duduk memangku bantal tidur, dan tangan kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu mengangguk.

Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku, akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya di terangi oleh beberapa bintang yang nampak. Sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri di kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan sebuah sekolah madrasah, yang angker sekali, aku ingin menyelidiki ada apa sebenarnya di sekolah itu.

Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku, tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana perluasan masjid, maka madrasah itu di pindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu tentulah di butuhkan tanah urukan untuk menyamaratakan tanah, dan tanah untuk batur itu di ambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit, hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak, tapi kalau musim hujan datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele, bandeng, dan ikan-ikan yang lain, anehnya kalau ikan itu di ambil dan di makan, maka orang yang memakan akan keracunan.

Madrasah itu jauh dari rumah penduduk, rumah paling dekat adalah tujuh puluh meteran, sehingga madrasah tak di beri penerangan listrik mengingat kalau malam madrasah tak di gunakan kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur di pasang, tapi belum sempat di beri saluran kabel listrik, tapi sungguh aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering menyala sendiri.

Keluarga yang tinggal paling dekat dengan madrasah itu adalah keluarga pak Makrum, yaitu istrinya bu Rah, anak perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laki-laki, yang satu berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak Makrum adalah pindahan dari desa lain. Tapi tak sampai setahun tinggal di situ, semua keluarganya meninggal satu persatu, dari si balita meninggal, di susul kakaknya, kakaknya lagi, kemudian istri pak Makrum, dan terakhir pak Makrum sendiri meninggal selang satu bulan, anehnya tanpa di dahului sakit sama sekali. Yang selamat adalah anak pak Makrum yang telah menikah dan di bawa hidup di daerah suaminya.

Sekitar lima puluh meter di depan madrasah ada sebuah sumur pompa, di buat oleh santri, dan saat kemarau panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini selalu di datangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering, tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering. Dan pasti di musim kemarau, akan ada cerita-cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air di malam hari, lalu melihat hantu, macam-macam ceritanya, ada yang melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang melihat pocong, ada yang melihat orang menggantung di pohon.

Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai rambutku berkibaran. Kulihat ke bawah, kerlip lampu beraneka warna, dan gedung-gedung menjulang, pasti ini Jakarta, pikirku, karena kulihat dari angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret seperti sisik naga raksasa.

Baru beberapa menit terbang aku telah sampai di Jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang menukik ke bawah. Ah betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan, kulihat dari atas kereta api berjalan, aku menukik turun, dan terbang di samping kereta api, kulihat penumpang di dalamnya, lalu aku terbang di atas kereta dan hinggap di atasnya. Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak bayangan berkeledepan. Sekejap saja aku telah sampai di sekolah madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri di udara depan madrasah. Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan.

Ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas, karena aku tak bawa jam, jadi kurang tahu waktu. Ku lihat dua orang pemuda, kira-kira umur tiga puluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau kulihat rasanya bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada lingkar hitam. Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri mereka berdua.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 10.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET