Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 89. Masih di kungkung kebingungan. Aku coba tanyakan khodam malaikat, dan dia juga menjawab bahwa silsilah itu benar adanya. Makin bingung. Di mimpi berikutnya, aku di datangi Syaikh Abdul Jabar, beliau tersenyum.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku Abdul Jabar, kakekmu”.
“Syaikh Abdul Jabar Nglirip?” tanyaku.
“Benar”.
“Apa benar menurut para ayah dan kakekku, aku ini ada keturunan dari kakek Jabar?”.
“Benar sekali ngger, itu sama sekali tak salah”.
“Tapi kemarin Sunan Giri dan Sunan Ampel mendatangiku, kalau aku ini keturunan mereka”.
“Itu juga benar, darah mereka memang mengalir di darahmu ngger”.

Aku mengambil silsilah yang ditulis Sunan Giri dan Sunan Ampel. Dan ku tunjukkan pada Syaikh Abdul Jabar.

“Apa silsilah ini benar, tapi kenapa nama kakek-kakekku kok bisa tak sama begitu?”.
“Begini ngger, orang dahulu itu selalu memakai nama-nama julukan, jadi yang Sunan Giri dan Sunan Ampel tulis itu nama julukan, bukan nama asli”.
“Oh rupanya begitu ya kek, apa kakek itu juga saudara sama kakek Sangmbu yang di Lasem itu ya kek?” tanyaku menyelidik.
“Iya ngger, silsilahmu itu sampai kepada Jaka Tarub” jelas Syaikh Jabar.
“Kok sampai sana juga?”.

“Kamu ini bagaimana to ngger, ngger, memangnya ada orang yang bisa punya kelebihan sepertimu ini, kalau tidak bercampurnya silsilah yang berpadu, dari Rasulullah SAW, berpadu dengan silsilah dari alam kahyangan, kan di darahmu mengalir darahnya istri Jaka Tarub, Dewi Nawang Wulan, makanya kenapa kamu bisa menaklukan dan menjadi raja di raja jin, aku saja ndak bisa kok, heheheh”.
“Saya jadi merasa kecil kek, aku ini ndak punya apa-apa kok, malah dapat amanat kepercayaan sebesar ini”.
“Sudah, di jalankan saja takdirnya gusti Allah ngger”.
“Doakan saya kek”.
“Oh ya macan putih yang menunggu makam kakek sudah kamu Islamkan ya”.
“Iya kek, macan, dan semua penunggu hutan Nglirip juga jin yang mengaku putri Nglirip semua sudah ku Islamkan kek”.

“Weh, weh, cucuku, aku bangga mempunyai cucu sepertimu ngger, sudah menjadi raja segala jin penjuru bumi, masih juga mengurusi jin-jin yang bersifat kecil, kakek saja ndak bisa mengIslamkan mereka, karena kakek ndak punya ilmunya, ingat cucu, jangan banyak jin di sini, nanti kepenuhan gak baik, kalau sudah Islam ya suruh kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, aku lihat di sini sudah terlalu penuh jin, ndak baik mengurusi banyak jin, lebih baik memperbanyak mengajak manusia”.
“Insya Allah kek, kalau boleh cucu minta ilmunya”.
“Wah kamu sudah tinggi jauh di atas kakek, sudah tidak butuh ilmu kakek”.
“Aku malah gak bisa apa-apa kek, sungguh cucu masih tak tahu sama sekali ilmu, cucu sebenarnya sangat minim ilmu agama”.
“Sudah jangan merendah begitu, ikuti saja apa kata gurumu, kyai kecil itu”.
“Insya Allah kek, doakan selalu cucumu yang daif ini”.

loading...

Begitulah dialog dengan Syaikh Abdul Jabar.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 91.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363