Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 90. Mimpi masih berlanjut, makin aneh saja alurnya, dan melober kemana-mana. Seorang perempuan yang cantik sekali mendatangiku. Tak bisa aku melukiskan kecantikannya, cantik sekali, kayaknya bintang film juga tak ada yang secantik perempuan ini, rasanya aku akan cepat lupa akan kecantikan wanita seperti ini, karena aku tak menemukan perbandingan akan kecantikan yang di miliki. Tapi matanya terpejam, tak mau melihatku, tapi hidungnya mengendus-endus, seperti membaui sandal jepit yang kebakar. Setelah mengucap salam.

“Siapa ini?” tanyaku agak dag-dig-dug.
“Aku” jawabnya sambil terus mengendus-endus, dan matanya terpejam.
“Aku siapa, kalau boleh saya tahu”.
“Aku, aku, aku mencium darah keturunanku”.
“Di mana?” tanyaku.
“Kamu ngger, kamu darah keturunanku, aku mencium darah keturunanku memancar kuat dari tubuhmu”.
“Kalau boleh saya tahu, siapa bunda ini?”.
“Aku Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub”.
“Haa, jadi cerita Jaka Tarub itu benar?”.
“Iya benar sekali ngger, aku Nawang Wulan. Nenekmu”.

Aku masih bengong, kayaknya mimpiku ini makin ke arah cerita dongeng. Sudahlah biarkan saja, mimpi ini kemana juga terserah, kenapa aku repot, mimpi kecemplung jurang saja gak sakit kok, apalagi mimpi ketemu bidadari.

“Berarti nenek Nawang Wulan itu benar ada, dan nenek ini adalah nenekku?” tanyaku.
“Benar sekali, wah aku kehilangan mahkota, aku kehilangan mahkota waktu turun ke bumi, dan tak ku temukan”.
“Mahkota apa itu nek?”.
“Mahkota yang dipakai oleh para bidadari di kayangan”.

Lalu tanganku reflek mengambil sebuah mahkota, namanya juga mimpi, jadi ‘lap’ gitu saja di tangan langsung ada mahkota.

loading...

“Apa ini nek?”.
“Tidak, tidak seperti itu ngger, mahkotanya seperti ikat kepala dari emas, dan di depannya ada ukiran hiasannya”.

Lalu tanganku mengambil mahkota lagi.

“Apa ini nek?”.
“Ya benar, benar sekali cucuku, wah ilmumu sakti sekali, hanya melambaikan tangan kamu sudah menemukan mahkota nenekmu, padahal nenek sudah lama mencarinya”.
“Nek, kenapa nenek tidak membuka mata, apa tak ingin melihat cucumu?”.
“Aku tak boleh melihat bumi ngger”.
“Kenapa?”.
“Kamu sendiri tahu ceritanya, nenekmu membuat kesalahan karena menikah dengan kakekmu Jaka Tarub, jadi nenek tak bisa membuka mata, tapi nenek melihatmu kok cucuku, walau mata nenek terpejam, hm, nenek bangga padamu”.
“Apa kayangan itu ada to nek?”.
“Ada“.

“Apa nenek ini dari bangsa jin atau malaikat?”.
“Bidadari itu bukan golongan jin dan malaikat”.
“Lalu dari apa nek?”.
“Ya dunia kami di antara jin dan malaikat”.
“Lalu nenek lahir dari apa?”.
“Nenek tak berayah dan tak punya ibu, tapi kami dari berbangsa, dan ada rajanya”.
“Hm, begitu ya”.
“Sudah ya cucuku, aku kembali ke kahyangan, jaga diri cucuku”.

Setelah salam Dewi Nawang Wulan segera terbang ke kahyangan. Benar-benar mimpi yang makin aneh saja. Ada suara yang memberitahuku, apapun di dunia ini menjadi bentuk yang sempurna itu karena perpaduan berbagai komponen yang menjadi satu, bikin sambal saja harus ada cabe, bawang merah putih, bahkan garam harus ada, jika tak ada cabe, atau garam misalkan, maka tak akan tercipta sambal yang enak, sebagaimana seseorang itu dari berbagai keturunan yang menyatu lantas akan terbentuk seorang yang mumpuni, besi pilihan, dan barang yang bermutu tinggi.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 92.

Whatsapp: 0852-1406-0632
Whatsapp: 0822-3243-7363