Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 91. Mimpi masih berlanjut, sekarang kakekku yang menjadi ayah dari ibuku, yang menemuiku. Ku lihat wajahnya sedih. Aku kenal betul kakekku ini karena sampai umur 16-an aku masih melihat kakekku masih hidup.

“Mbah nang?” tanyaku, setelah ku jawab salamnya. Aku biasa memanggilnya mbah nang.
“Iya Nur, wah kamu sudah jadi orang besar, ilmumu sudah tak terbatas”.
“Wah tidak juga mbah, aku masih seperti dulu”.
“Ya ndak lah nang, kamu sekarang dikenal di mana-mana, eee, kok di kepala mbahmu ada mahkotanya, padahal tadi tidak, nang, mbah bangga padamu, derajat mbah di angkat di sana karenamu”.
“Wah kok karena saya to mbah, aku orang biasa”.

“Ora nang, sungguh mbah ini, tak menyangka, kamu dulu yang nakalnya sampai membuat mbahmu ini kuawalahen, mumet, pusing, kalau tahunya seperti ini, ya mbah dahulu gak akan nglorohi (menegur) dirimu, wes tak biarkan saja”.
“Ndak mbah, sudah tugas mbah, dahulu memperingatkan saya, saya memang anak bandel”.
“Ora nang, mbah sekarang malu denganmu”.
“Wah mbah ini melebih-lebihkan saja”.
“Gak kok nang, mbah sungguh malu sekali, ndak tahu mbah maksute gusti Allah, sekarang mbah sudah meninggal baru melihat, mbah jadi malu sekali, sampai menegurmu dahulu”.
“Mbah, mbah, ada gak kakek buyut yang orang hebat, kok saya jadi orang seperti sekarang”.

“Wah ngger aku ini ilmuku cetek, tak tahu aku”.
“Coba ku tempel ya mbah, tak tempel ilmu penglihatan melihat silsilah mbah”.
“Ya, ya, wah ilmumu banyak buanget, ada, ada ngger, mbah ini keturunan dari Bandung”.
“Bandung siapa to mbah?”.
“Bandung Bondowoso, nang”.
“Oh yang membangun candi Prambanan itu?” tanyaku.
“Iya benar”.
“Mbah, bagaimana nasib mbah putri di sana”.

“Wah aku ndak melihat bagaimana mbahmu di sana”.
“Lhoh apa ndak ketemu mbah?”.
“Ndak itu mbah”.
“Ku doakan biar disatukan sama Allah ya mbah”.
“Ya ngger, doamu yang makbul, jadi kamu yang mendoakan simbah, baru ketemu kamu sekali saja mbah sudah mendapat mahkota, wah sungguh ajaib kue ngger”.
“Ndak mbah, aku orang biasa saja”.
“Wes ngger aku pamit kembali ke sana, itu kakekmu Bandung Bondowoso ingin menemuimu”.

Mbahku sudah pergi, datang lelaki tua renta mendekatiku.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 93.

loading...

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363