Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 92.

“Apa mbah ini yang bernama Bandung Bondowoso?” tanyaku setelah orang itu mengucap salam yang bukan assalamualaikum. Kalau tak salah om santi-santi.
“Ya ngger aku benar Bandung Bondowoso, kakekmu. Kakek dari jalur ibumu”.
“Jadi benar kisah membangun candi Loro Jonggrang itu yang membuat kakek?”.
“Benar sekali cucu, kakek dulu yang membuat”.
“Berarti kakek dulu belum Islam ya?”.
“Ya belum, sekarang kakekmu ini rendah derajatnya di sana ngger”.
“Kakek mau saya Islamkan?”.
“Ya mau, mau sekali ngger”.

Lalu ku ajak kakek Bandung Bondowoso masuk Islam. (mimpi ya memang aneh). Setelah membaca dua kalimat sahadat, kakek Bandung Bondowoso menangis sesenggukan beberapa lama. Setelah tangisnya reda.

“Ngger kakek tak pernah selama hidup mengalami kebahagiaan seperti ini, terima kasih ya ngger”.
“Ya kek, sama-sama, kek kalau boleh cucu tahu, apa benar kakek membangun candi Sewu itu dengan bantuan jin?”.
“Benar sekali ngger, itu cerita nyata, dan memang kakek punya pasukan jin yang bisa membantu membangun candi itu”.
“Kok saya sebagai raja jin, sering memerintah jin, tapi kok batu yang dibawa bersifat gaib, tak nyata”.
“Walah ngger, jin sekarang beda dengan jin zaman dahulu”.
“Bedanya di mana kek, bukannya sama-sama jinnya”.
“Ya beda saja”.
“Apa jin kakek itu masih hidup?”.

“Ada cucu, tapi kakek sudah tidak bisa memanggil mereka”.
“Apa ini mereka kek?” kataku setelah menarik semua jin yang menjadi anak buah kakek Bandung.
“Lah, benar ilmumu sangat tinggi sekali cu, kakekmu ini tak ada apa-apanya”.
“Wah kakek ini merendah”.
“Ya tidaklah cu, kakek ini kan ruh, mana bisa pakai merendah segala”.
“Kek, kalau boleh jin ini ku perintah untuk mengangkatkan batu?”.
“Ampun kyai, saya tak bisa menerima perintah dari siapapun kecuali Kanjeng Prabu Bandung Bondowoso” kata para jin.
“Bagaimana kek?”.
“Kalian taatlah pada cucuku ini”.
“Sendiko dawuh Kanjeng Prabu”.
“Sudah ngger aku tinggal dulu, terima kasih derajatku sudah pindah di sana”.
“Sama-sama kek”.

Sebentar kakek Bandung Bondowoso terbang ke atas, aku berhadapan dengan para jin yang milyaran banyaknya.

“Kalian tinggal di mana?” tanyaku pada para jin yang menunduk bersimpuh di depanku dengan khidmat.
“Kami tinggal di pintu gerbang Prambanan gusti”.
“Tak usah memanggilku gusti, panggil saja kyai”.
“Ya kyai, saya ikut saja apa kata kyai”.
“Bukankah di Prambanan dan sekitarnya para jin sudah ku Islamkan, kenapa kalian tak pernah menghadapku untuk minta di Islamkan?”.
“Wah kyai, kami ndak berani menghadap, kalau kyai tak memanggil kami, kyai keturunan tuan Prabu Bandung Bondowoso, sedang kami hanya orang kecil”.
“Kalian ku Islamkan dulu ya”.
“Siap kyai, apa yang kyai perintahkan, akan kami laksanakan”.

Lalu ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat, dan setelah selesai, aku bicara lagi.

“Kalian bisa mengangkut batu yang besar sebagaimana mengangkatkan batu milik kakek Bandung?”.
“Bisa kyai, tapi kami hanya bisa di malam hari, jika di siang hari kami tak bisa”.
“Oh begitu rupanya, aku pernah memerintah ribuan raksasa untuk mengangkut batu, tapi kok ndak menjadi nyata, batunya tetap gaib, itu bagaimana?”.
“Ya kyai, jika batu yang di ambil dari alam gaib, ya gaiblah kyai, batu yang di ambil dan di angkat dari alam nyata, nanti batunya akan nyata, kyai beli batu saja, nanti kami yang akan mengangkatkan”.
“Walah, kalau begitu ya ndak usah di angkatkan”.
“Lalu bagaimana maunya kyai?”.
“Ya kan semua telatah sungai, gunung Merapi dan semua gunung di segala penjuru adalah daerah kekuasaanku, kenapa tak mengambil dari sana”.
“Baik kyai perintahkan saja, kami mengambil dari mana, nanti akan kami ambilkan”.
“Ya begitu saja, nanti kalau aku butuhkan kalian kami panggil”.
“Siap kyai”.

Lalu jin yang menjadi anak buahnya Bandung Bondowoso itu pergi pamit, dan aku masih dalam mimpi yang panjang, dan mimpiku ini belum habis untuk diceritakan.

loading...

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 94.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363