Melawan Pagebluk - 475 Views

Aku adalah pemuda Indigo. Tapi lebih tepatnya Crystal. 1 tingkat di atas Indigo. Melihat bahkan ngobrol sampai tertawa cekikikan bersama hantu adalah hal yang biasa, bahkan merasa haru karena kisah hantu arwah penasaran juga sering terjadi. Namun beberapa hal menjadi sesuatu yang terlalu seram dan sangat menakutkan.

Contohnya saja pada saat bulan oktober-november tahun 2017 silam. Aku tinggal di sebuah kota B di Jawa Timur. Hawa yang begitu aneh. Termometer ruang menunjukkan angka 19° C pada pukul 22.00, tapi suhu ruangan bahkan suhu luar ruangan menjadi sangat pengap dan panas. Angin semilir tidak menghibur sama sekali. Anjing piaraan tuan Kim, tuan tanah yang biasanya hanya menggonggongi orang lewat yang terlihat dari halaman rumah, bisa melolong panjang dengan suara yang membuat bergidik ngeri. Padahal tidak ada orang lewat di jalanan itu. Hanya beberapa sosok hantu yang biasa aku lihat lalu lalang bahkan berkejar-kejaran.

Penasaran. Itu sikap yang muncul di pikiran. Suka betul aku penasaran dengan hawa yang tidak biasa. Segelas besar kopi dan sebungkus rokok sudah siap menemaniku menunggu hal yang sedikit dapat aku tafsirkan. Mungkin akan kedatangan santet, pikirku agak ngawur. Sarung aku buat menutupi kepala dan punggung dan satu lagi hal yang tidak aku lupa. Udeng ikat kepala pemberian Romo Kyai beberapa tahun lalu. Udeng ampuh kata santri senior memberi kesan.

Jam di handphone hampir menunjukkan pukul setengah satu malam . Angin semilir menggoyangkan dahan pohon belimbing di ujung halaman. Entah apa yang waktu itu ada di dalam kepala, yang pasti aku membuang putung rokok yang masih separuh ke jalan depan rumah, menaruh cangkir kopi yang airnya tinggal seperempat dan aku tersentak untuk beringsut sembunyi di balik pintu rumah. Sambil mengintip kecil dari celah gorden jendela.

Tidak lama. Krincing, krincing, krincing, suara gemerincing seperti lonceng-lonceng kecil yang ada di kaki penari Remo. Dep, dep, dep, dep, suara langkah yang dapat aku dengar itu bukan suara satu orang lewat tapi, banyak orang! Lolongan anjing semakin menjadi-jadi. Dan apa yang aku lihat? Gerombolan makhluk-makhluk bertanduk besar. Mirip tanduk kerbau tapi berliuk-liuk seperti bilah keris.

Ada yang satu, dua bahkan tiga tanduk. Berkulit hitam legam dan belang tidak beraturan. Yang membuat aku tidak suka, ketika mereka yang terdepan memanggul keranda dari bambu ditutupi kain hitam polos. Tapi panggulan belakang dibiarkan terseret ke tanah. Srak, srak, srak, menyapu jalanan. Mereka berhenti di puntung rokok dan segelas kopi tadi. Mungkin mereka sadar bahwa tidak lama ada manusia di situ. Aku.

Aku percaya Kuasa Tuhan. Aku berdoa memagari diri dan berdehem, ku buka pintu. Assalamualaikum, kataku. Mereka menoleh secepat kilat memandangiku dan saling tatap satu sama lain. Terlihat matanya merah dan ada yang polos putih. Dari dalam gerbang aku mendekat, tapi hanya beberapa yang melangkah mundur, sosok paling depan dengan tanduk 3 mungkin dia pemimpinnya.

“Sopo sampean? (Siapa anda)” tanyaku datar.
“Kromoleyo” suaranya menggeram dan bergetar, mungkin kalau bisa di samakan, seperti suara mesin cuci.
“Kate ono perlu opo kok liwat kene? (Mau perlu apa sampai lewat di sini?)” yang aku tahu, Kromoleyo adalah pagebluk.
“Njupuk Nyowo! (Ambil nyawa)”.
“Nyowo ne sopo? (Nyawanya siapa)”.
“Wong kabeh sing duroko. Bakal gantian ben kutho tak parani (Nyawa semua yang durhaka [mungkin durhaka terhadap hukum agama]. Akan berganti tiap kota aku datangi)”.

“Sampean ngertio. Nyowo sampean gak melok duwe. Ojo sembarangan mateni wong masiyo wong duroko (Kamu mengertilah. Nyawa pun kamu tidak ikut punya. Jangan sembarangan membunuh orang walau orang yang durhaka)”.
“Iki wis dharma ku. Kabeh wis katemtuan Sing Nggawe Urip. Aku amung nglakoni dharma ku (Ini sudah tugasku. Semua sudah ketentuan Yang membuat kehidupan. Aku hanya melaksanakan tugasku)”.
“Atas wewejang teko endi? (Atas perintah dari mana?)”.
“Segoro kidul (Laut selatan)”.
“Blorong senopati mu?”.
“Yo”.

loading...

“Oleh sampean njupuk nyawane wong duroko. Tapi samangsane sampean njupuk nyawane wong laku utomo. Wong getih putih. Aku ndungo nang Sing Kuwasa. Bakale lebur sampean kabeh. Tapi becik sampean kabeh ora utik-utik desa iki. Nyingkiro! (Boleh kamu ambil nyawa orang durhaka. Tapi ketika kamu ambil nyawa ora berlaku utama, orang berdarah putih. Aku memohon kepada Yang Maha Kuasa, semoga sirna kamu semua. Tapi baiknya kamu semua tidak menyentuh desa ini. Pergilah!)”.
“Dasare opo? (Atas dasar apa?)”.
“Atas dasar aku khalifah sing tumitis ono alam padhang. Atas dasar aku wakile Gusti ngrumat dunyo. Atas dasar Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.. tak tundung sampean kabeh! (Atas dasar aku khalifah yang turun ke dunia. Atas dasar aku wakil Tuhan untuk menjaga dunia. Atas dasar Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, aku usir kalian semua)”.

Kromoleyo mengangguk, serentak berbalik arah. Lolongan anjing Tuan Kim semakin lama semakin sunyi. Hari berganti hari. Seluruh desa di Kota B di rundung duka. Tiap hari santer terdengar ada orang meninggal. 3 hingga 5 orang sehari. Pagi berangkat kerja, sore sudah tiada. Sore berangkat ke surau, pagi hari namanya sudah disiarkan bahwa ia meninggal. Malam hari meronda bersama rekan, siang hari sudah dimandikan menggunakan daun bidara, siang hari masih bercengkrama dengan tetangga, malam hari kaku di tunggui tetangga.

Sebulan kemudian 64 orang dikabarkan meninggal tanpa sebab. Apalagi pemuda-pemuda pemabuk, mati dalam keadaan masih berbau alkohol. Wallahu a’lam. Inna lillaahi wa inna ilaihi rajiuun.