Pedang Tujuh Naga Bagian 3: Chapter 1 - 173 Views

Sebelumnya pedang 7 naga bagian 2.

“Akhirnya aku dapatkan juga pedang ini ayah, ibu apa kau mendengarku?” ucap Ling dengan mata berkaca-kaca.

Setelah Ling mendapatkan pedang tujuh naga di air terjun lalu Ling mengikatnya di punggung. Ling terlihat seperti orang yang linglung, akan kemanakah arah kakinya melangkah setelah kehilangan kedua orang tuanya yang amat dia sayangi, Ling tak punya alur jalan kehidupannya sendiri, dunia ini begitu luas dan bermacam ragam manusia yang penuh dengan nafsu dan juga keserakahan.

Dengan langkah tak menentu Ling segera pergi meninggalkan air terjun tujuh naga, lalu menembus hutan belantara saat hari mulai senja, Ling berharap dia dapat menemui seseorang di dalam hutan, walau hanya harapan kosong pikirnya. Dan hari pun mulai gelap suara binatang malampun mulai mengeluarkan suara-suaranya, Ling segera mencari ranting-ranting kayu di sudut-sudut hutan, untuk ia jadikan api unggun guna menghangatkan tubuhnya dan juga sebagai cahaya penerang saat tidurnya malam nanti.

Saat Ling mulai merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Ling di kejutkan sesosok bayangan hitam yang keluar dari balik semak-semak, dan bayangan itupun segera menghampiri Ling yang sedang berbaring.

“Ling bangunlah!!” ucapnya.

Dengan sigap Ling beridiri dan menyempurnakan kuda-kudanya.

“Siapakah kau?” ucap Ling.
“Ini aku, pendekar manis” ucap kakek harimau.
“Hah? Dia kakek, maaf aku tidak mengenalimu, kakek harimau memakai jubah hitam” ucap Ling merasa senang karena ada teman yang dapat dia ajak bicara saat malam di dalam hutan.

“Kau memang gadis tangguh Ling! Aku bangga kepadamu” ucap kakek harimau memuji Ling.
“Ah, kakek jangan puji aku seperti itu, aku jadi malu *hahaha” balas Ling sambil tertawa.
“Kek, siapa nama kakek sebenarnya?” tanya Ling.
“Panggil saja aku kakek harimau”
“Kakek harimau? Baiklah kek!” ucap Ling.

“Ling kau harus pergi dari hutan ini! Sudah saatnya kau mengembara dan menolong orang yang lemah, gunakanlah pedang tujuh naga di jalan yang benar, pedang tujuh naga hanya bisa di kendalikan oleh orang yang berhati bersih, ilmu yang aku turunkan padamu tempo hari akan meresap dengan sendirinya, kau hanya mengucapkan lewat lidahmu, jurus tersebut akan tercipta” ucap kakek harimau kepada Ling.

“Baik kek! Oh iya kakek tinggal dimana?” tanya Ling.

Belum habis perkataan Ling terhadap kakek harimau, tiba-tiba kakek harimau sudah menghilang seperti sebelumnya.

“Lagi-lagi kakek harimau menghilang begitu saja, lebih baik malam ini aku istirahat saja.” ucap Ling.

Chapter 1: Tewasnya Iblis Merah

Malam itu Ling tertidur pulas di rimbunan hutan yang gelap di temani cahaya api kayu bakar, dan begitu cepat malam berlalu, dan saat pagi tiba suara kicauan burung-burung dan hewan-hewan hutan mulai bersahutan terdengar sibuk sekali di pagi itu, Ling pun terbangun dari tidur malamnya yang amat nyenyak sekali, tiba-tiba Ling mendengar suara seseorang yang sedang meminta pertolongan dari arah timur.

Dengan sigap Ling mematikan sisa api unggun yang masih terbakar semalam dengan cara menginjak-injaknya. Ling segera mengambil pedangnya yang masih tergeletak lalu kembali mengingkatkannya di punggung, dan dengan segera mencari sumber suara wanita yang meminta pertolongannya itu.

“Tolong, tolong, tolong”.
“Ayolah, gadis manis kita bersenang-senang di hutan ini, tidak ada orang yang tahu hanya kita bertiga saja” ucap laki-laki berewok.
“Tubuhmu mulus sekali gadis cantik” ucap salah satu laki-laki berewok.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku, dasar laki-laki bi*dab”.
“Di mana suara wanita yang meminta pertolongan itu? Apa telingaku tidak salah mendengar?” ucap Ling bertanya-tanya.

loading...

Ling pun berlari melesat di atas dedaunan yang tumbuh di hutan, dengan cepatnya Ling sudah berada di sumber suara orang yang meminta pertolongan. Ling mengamati di sekelilingnya, ternyata ada seorang wanita yang hendak di perkosa oleh kedua laki-laki berewok berbaju hitam-hitam.

“Hei, binatang! Lepaskan wanita itu” ucap Ling.
“Siapa kau gadis manis, lancang sekali mulut kau? Oh kau cemburu rupanya pada kakang *hahaha, baiklah kalau begitu kita bersenang-senang secara berpasangan saja gadis manis” ucap laki-laki yang hendak memperkosa wanita desa.

“Tolonglah aku pendekar, aku hendak di perkosa manusia-manusia kep*rat ini pendekar” ucap wanita desa.
“Sentuhlah tubuhku, kalau kau mampu binatang-binatang terkutuk” ucap Ling.
“*Hahaha, sombong sekali kau, kau akan menyesal nanti, cepat tangkap dia kakang dan nikmatilah tubuhnya” ucap lelaki satunya.

Dengan satu kali lompatan lelaki itu sudah berada di belakang Ling, Ling hanya diam mematung tanpa pergerakan.

“*Hehehe. Aku berada di belakangmu gadis manis” ucap lelaki itu coba mengejutkan Ling.

Saat lelaki itu ingin memeluk dan hendak mencium Ling, tiba-tiba Ling sudah raib menghilang. Lelaki itu pun menjadi terkejut, seakan hanya memeluk angin yang kosong.

“Kep*rat! Aku di kelabui” ucapnya kesal.
“Rupanya gadis itu tidak bisa kita anggap remeh, mari kita serang bersama kakang” ucap kawannya.

Dengan serempak kedua lelaki berewok tersebut menyerang Ling dengan ilmu pamungkasnya.

*Pukulan Iblis Merah*

“*Hiyat” Ling lompat melesat dan sudah berada di samping wanita yang ingin di perkosa tadi. Serangan kedua lelaki berewok tersebut tidak mengenai tubuh Ling, hanya merobohkan lima pohon pinus di belakangnya.

“Bangunlah! Kau tak perlu takut, kau aman bersamaku” ucap Ling menenangkan sambil membantu wanita desa itu untuk berdiri.
“Aku sangat takut sekali pendekar, terlebih mereka sangat sakti-sakti, apa kau yakin dapat mengalahkan mereka berdua” ucap wanita desa itu merasa ketakutan.
“Kau lihat saja nanti, akan kuberi mereka pelajaran untuk di kenang seumur hidupnya” ucap Ling berubah bengis.

“Bed*bah, masih saja kita di permainkan kakang, kulihat pedangnya sangat bagus dan kekuatannya cukup kuat, pasti dia bukan orang sembarangan kakang! Mari kita serang kembali gadis manis itu kakang, dengan pukulan maut iblis merah, pasti dia akan segera mampus” ucap kawannya.
“Baiklah mari!” ucap lelaki berewok.

*Pukulan Maut Iblis Merah*

“*Hiyat” Ling pun segera membaca ajiannya dan memecah raganya menjadi sembilan orang, lawannya pun saat itu menjadi sangat kebingungan, lalu Ling bersiap-siap menghempaskan pukulannya kepada kedua laki-laki berewok tersebut.

*Pukulan Harimau Terbang Pecah Sembilan*

*Buk, buk, buk! Brugh. Dengan pukulan bertubi-tubi kedua lelaki berewok itu pun jatuh tersungkur secara bersamaan.

“*Argh, tulangku hancur semua, ampun pendekar” ucap lelaki berewok meringis menahan sakit merasa tulang-tulangnya semua patah.
“Tulang-tulangku juga patah semua kakang” ucap kawan berewok satunya.
“Bukan tulang-tulangmu saja yang patah! Kalian pun tidak akan bisa mempunyai seorang keturunan” tegas Ling kepada kedua berewok itu.

“*Argh” teriakan kawan berewok menyesal.
“Mari kita pergi dari tempat ini” ucap Ling kepada wanita desa tersebut.
“Terima kasih pendekar, bagaimana caranya aku membalas budi baik pendekar, kalau kau tadi tidak menolongku, pasti aku sudah di perkosa kedua b*jingan itu” ucap wanita desa itu.

“Tak perlu kau membalasnya, siapa namamu?” tanya Ling.
“Namaku Ayu Lestari, aku tinggal di desa Mayit seberang hutan ini pendekar, nama pendekar siapa? Sepertinya pendekar bukan penduduk disini?” tanya wanita desa.
“Panggil saja aku Ling, benar kau bilang aku bukan penduduk disini, aku hanya orang asing dari negeri seberang sana” jawab Ling.

“Baiklah pendekar Ling! Kau hendak pergi kemana sekarang?” tanya wanita desa tersebut.
“Aku tak tahu, kemana kakiku akan melangkah” jawab Ling.
“*Hmm, apa kau tidak tinggal bersama kedua orang tuamu pendekar Ling?” tanya wanita desa.
“Kedua orang tuaku sudah lama telah tiada Ayu” jawab Ling datar.
“Oh begitu, maafkan aku pendekar Ling, bagaimana kalau kau tinggal bersamaku” ucap wanita desa.

“Kalau kau tidak keberatan malam ini aku bermalam di tempat tinggalmu” balas Ling.
“Oh tentu saja, aku tidak keberatan! Kau pasti sangat lapar pendekar Ling, nanti akan aku masakan ikan yang besar-besar di pondokku.” ucap wanita desa itu merasa senang menjamu Ling.
“Untuk apa kau berada di dalam hutan seorang diri?” tanya Ling kepada Ayu wanita desa.

“Setiap pagi hari memang tugasku mencari kayu bakar pendekar Ling, romo dan biyungku mengurus ladang, mungkin hari ini, hari naasku bertemu b*jingan-b*jingan itu” ucap wanita desa merasa geram.
“Oh begitu rupanya” jawab Ling.
“Mari cepat pendekar Ling, kita pulang ke pondokku perutku sudah terasa lapar sekali *hahaha” ucap wanita desa.

Selanjutnya pedang tujuh naga bagian 3: chapter 2.