Tragedi Mengerikan Bagian 3 (di Teror Makhluk Gaib) - 669 Views

Hay sahabat KCH. Kelanjutan tragedi mengerikan bagian 2. Selamat menikmati. Suhu panas pun tak terasa lagi, berganti dengan suhu dingin layaknya di sebuah desa yang terletak di pegunungan, (Natural) “suasananya kembali seperti biasa”. Aku yang masih terdiam dengan hal bodoh yang aku alami hari ini membuatku bingung tingkat Dewa.

Saat aku terdiam duduk di kasur, aku masih memikirkan kejadian itu, dan apa yang aku alami sangat jauh di luar logika. Malam pun berganti, aku terlelap begitu Lama, saat itu aku terbangun siang tepat pukul 12:30 WIB. Mamaku dan teman sekolahku berada di rumah. Suara tawaan dari teman dan bercandaan terdengar di telinga, aku keluar dan semua teman-teman menghampiriku.

“Gimana bro rasanya ketembak petir” ejekan dari salah satu sahabatku.
“Siapa yang di tembak petir?” tanyaku dengan bingung.
“Elu lah bogeng, memangnya lu gak tahu?” sahut teman satu bangku ku.

Saat itu temanku langsung terdiam dan hanya melihatku dengan tatapan sinis. Mereka seperti heran, dan melihat sekelilingku.

“Apa yang lu rasain sekarang?” pertanyaan dari Aurel, temaan sekelasku.
“Gak ada apa-apa, cuma pusing dikit saja” aku menjawab dengan santai.

Saat aku melihatkan sebuah tanda yang ada di bahuku, mereka langsung kaget dengan apa yang di lihatnya. Tanda yang melekat di bahu ini begitu menyeramkan, yang tadinya merah sekarang mulai menggelap. Tapi saat sebuah tangan yang menyentuh bahuku, tangan yang halus dan hangat itu membuatku gemetaran. Tatapan yang indah itu membuatku terpesona. Gadis yang satu sekolah denganku tapi tidak sekelas itu membuatku merasakan hal yang belum aku rasakan. Malu, nyaman, resah, dan senang itu bercampur. Namun aku cuma bisa memandangnya.

Saat aku mulai terlarut dalam untuk memikirkannya, teman-temanku pamit pulang, dan wanita itupun pulang. Aku pun masuk ke kamar dan masih memikirkan wanita itu. Namun tiba-tiba ada kabut yang mendadak masuk ke kamarku, kabut yang tak pernah ada sebelumnya. Begitu tebal hingga membuatku tak melihat pintu keluar. Aku takut untuk bergerak karena tak bisa melihat apapun di sekelilingku, dan cahaya kecil bersinar di sebelahku.

“Benda apa itu?” dengan terheran aku mencoba mendekati cahaya tersebut. Namun cahaya itu berasal dari batu pemberian sang kakek misterius kemarin. Aku hendak mengambil batu itu sambil berharap bisa menerangi jalanku untuk keluar dari kamar. Anehnya lagi saat batu itu di genggamanku, kabut itu menipis dan suasana di kamarku berubah drastis. Lumpur dan rumput-rumput liar berserakan, di tambah genangan air yang tak jelas asalnya itu membuatku sangat bingung dan semakin takut. Aku berlari keluar dan memanggil mamaku.

“Ma! Di kamarku ada hal yaang aneh, banyak lumpur dan rumput liar gitu” dengan nafas yang sesak aku menjelaskan semua.
“Kenapa lagi nak? Mana ada benda kayak gitu di kamarmu, mungkin hanya perasaanmu saja, ya sudah istirahat sana, kamu kan belum sembuh” dengan tenangnya mamaku menghiraukan semua yang aku lihat.
“Aku serius mam, coba lihat sendiri” sambil memegang tangannya dan menuntun untuk ke kamarku.

Anehnya apa yang jelas aku lihat itu tak ada lagi. Tak sedikit pun jejak atau rerumputan yang tadinya berserakan, kini menghilang begitu saja.

“Kan sudah di bilang, cuma perasaan kamu saja, ya sudah istirahat lagi” dengan nada yang sedikit kesal mama aku pergi.

Aku masih kebingungan, aku tak berani masuk ke kamar, aku malah minta ijin keluar rumah. Saat aku berada di warung tempat biasa aku nongkrong, ada seorang bapak yang separuh tua. Bapak itu menanyakan hal yang aneh.

“Kamu ketemu sama raja babi ya?” sambil meminum segelas kopi bapak tersebut bertanya kepadaku.
“Raja babi? Ciri-cirinya seperti apa ya pak?” dengan bingung aku menanyakan hal itu.
“Berambut gimbal, bekas luka robekan di wajah. Dan telapak kaki yang terbalik” sambil menatap tajam mengarah ke bahuku.
“I, iya pak, kok bapak tahu, memangnya aku kemarin kenapa ya pak?” perasaanku semakin gak enak saat mendengar penjelasan bapak itu.
“Kamu kemarin di selamatkan oleh raja babi itu dari kutukan yang ada di desa ini, kamu pilihannya, kamu bisa berkomunikasi dengannya kapanpun kamu mau” pandangannya tetap mengarah ke bahuku dan mengarah ke kantong celanaku.

Saat itu ada suara panggilan dari pemilik kedai. Ia menanyakan mie-nya pedas atau sedang. Aku menoleh dan menjawab pertanyaan pemilik kedai, dan aku kembali melihat ke bapak itu lagi. Namun sosok lelaki itu hilang. Tak ada sedikit getaran seperti seseorang berjalan atau pergi meninggalkan meja, bahkan gelas kopi yang di minum itupun tak ada.

Saat pemilik Kedai itu mengantarkan pesananku, aku menanyakan apakah ada sosok yang berbelanja lelaki berbadan sedikit lebih kekar di sebelahku tadi. Namun sang pemilik kedai pun tak tahu, tak ada yang belanja di kedainya selain aku di siang ini. Aku semakin penasaran dengan bapak itu dan perkataan yang di ucapkannya, aku masih memikirkan “raja babi? Aku bisa memanggilnya kapanpun?”. Saat menikmati mie buatan khusus langgananku, aku masih memikirkan perkataan bapak tadi.

Pertanda apa ini? Apakah kehadiran cahaya aneh dan kabut itu menandakan aku bisa memanggil kakek tua yang bergelar raja babi itu, kalau benar pun berarti babi besar itu adalah anggota dari kakek itu. Rasa penasaran begitu jelas melekat di pikiranku, aku begitu membutuhkan sosok yang bisa mendengarkan semua ceritaku dan membantuku memecahkan permasalah ini. Namun siapa orang itu.

Saat aku selesai menghabiskan makananku, aku memutuskan langsung pulang. Tapi saat di perjalanan menuju rumah, aku di kagetkan dengan suara yang memanggil namaku. Suara yang tak asing lagi di telingaku itu membuat ku gemetaran. Bersambung tragedi mengerikan bagian 4, nantikan kelanjutannya. Masih banyak lagi temanya dalam satu cerita. Kritik dan saran.

loading...

Whatsapp: 0822 8864 7504