Tragedi Mengerikan Bagian 4 (Nadia Wanita Indigo) - 490 Views

Hay sahabat KCH. Kelanjutan tragedi mengerikan bagian 3. Sedikit lebih ke cinta-cinta gitu team, wkwkk. Wanita satu sekolah denganku itu memanggilku, panggil saja “Nadia”.

“Hey, sudah sehat, dari mana kamu?” sapaan dan senyuman manisnya mendekatiku.
“Eh kamu, nih baru siap beli jajanan di situ, kamu dari mana?” jawabku dengan gugup.
“Aku tinggal di dekat sini, mampir ke rumah yuk” dia mengajak dengan senyuman.
“Masa iya kamu tinggal di dekat sini, kok aku baru tahu ya” aku pun semakin bingung dengan rasa malu ini.
“Iya Lex, kalau gak mau ke rumah, kita pergi ke tempat favoritku yuk” sambil memegang tanganku, menuntun ke tempat favoritnya.

Aku hanya terdiam dan mengikuti arahnya. Saat sesampainya di sebuah taman, senyuman itu kembali menghiasi hariku.

“Hey, jangan pandang aku kayak gitu, aku gak tanggung jawab ya kalau kamu suka” dengan tawaan kecil sambil mengarah ke sebuah danau yang indah.
“Apaan sih, memangnya kamu mau berteman sama aku, aku di sekolah nakal lho” sambil menoleh ke arah danau dan berdiri di sebelahnya.
“Itukan di sekolah, aku yakin kok kamu gak sejahat itu” senyuman itu kembali netral kan kekeselanku.
“Sebenernya aku mau ngasih tahu kamu, Kalau aku ini..” pembicaraan nya terhenti saat Melihat Ke belakang ku.
“Kamu kenapa? Suka ya sama aku, gak apa-apa kok aku masih single” jawabku dengan PD yang berlebihan.
“Ih siapa juga yang suka kamu, jangan ke-PD-an kamu, aku bisa lihat apa yang kamu gak bisa Lihat” sambil mencubit dan menatapku dengan tatapan kosong.
“Apaan sih, jangan bikin takut dong” aku langsung merinding mendengarkan perkataannya.
“Aku serius” pandangannya pun kembali ke arah danau.

Apakah Nadia ini serius bisa lihat makhluk dunia lain. Kalau benar, berarti dia bisa membantuku memecahkan masalah yang aku alami dengan kakek tua itu.

“Kita pulang yuk, sudah sorean banget ni” sambil berpaling dari danau dan melangkah pergi.
“Jangan main tinggal dong” aku kesal dengan caranya, sedikit takut sih.

Kami berjalan keluar dari taman itu sambil membicarakan hal mistis. Kebetulan aku sangat suka hal mistis, dia langsung memperjelas apa kelebihannya. Dia bisa melihat dan merasakan makhluk gaib dengan jelas. Walaupun aku sedikit ragu, tapi aku coba lebih mencari tahu tentangnya. Kita sampai sini ya, rumah aku di sebelah situ. Sambil menunjuk sebuah rumah yang besar, namun sangat menyeramkan bagiku.

“Ouh, itu rumah kamu ya? Gede banget, pasti banyak hantunya” tawaan kecilku yang membuatnya kesal.
“Ya sudah aku jalan dulu” sambil menghiraukan kekesalannya.

Aku masih gak percaya sama Nadia, masa cewek cantik itu bisa lihat hantu, tapi kenapa ya waktu dekat sama dia sensasinya dingin gitu. Apa benar? Aku pun bingung dan masih memikirkan hal aneh yang beberapa hari ini ku alami. Saat di rumah aku langsung masuk ke kamar, dan memandangi batu pemberian sang kakek dan menatap kaca melihat bekas tanda di bahuku, padahal waktu di urut sama pemuda kemarin gak ada bekas sedikitpun.

Malam pun semakin larut, saat pukul 11:30 WIB aku mendengar sebuah ketukan di arah jendela. Tiba-tiba suasananya berubah menjadi dingin. Aku langsung menebak, pasti gangguan kakek itu lagi. Karena telah sering terjadi dan perkataan bapak tadi yang katanya kakek tersebut menyelamatkanku, aku jadi tidak takut lagi. Suasananya lama kelamaan semakin dingin, dan sedikit demi sedikit kabut itu mulai datang lagi.

“Jangan ganggu lagi, kenapa tak memperlihatkan wujudmu?” sontak aku kaget dengan perkataanku.

Tiba-tiba suara aneh datang membisikan sesuatu.

“Akhirnya kamu tahu kelebihanmu”.

Suara halus itu membuatku lebih nyaman, karena suaranya bernada halus. Tapi sosok itu tak pernah menampakan wujudnya. Saat semuanya kembali seperti semula, tak ada gangguan dari makhluk itu lagi aku pun mulai istirahat, karena besok aku mulai sekolah. Paginya aku begitu bersemangat karena aku ingin menceritakan kejadian yang aku alami kepada Nadia.

Aku datang pertama kali di sekolah, matahari pagi pun belum seutuhnya menyinari pekarangan. Aku duduk di kantin tempat biasa aku nongkrong, sambil memperhatikan setiap murid yang masuk. Beberapa lama ku menunggu, akhirnya orang yang di tunggu datang juga. Aku langsung berlari mendekatinya, namun Langkahku terhenti dan langsung berbalik arah.

“Perasaan ini? Apa yang aku lakukan? Mengapa aku seperti ini?” pertanyaan bodoh lagi-Lagi terasa.

Saat melihat Nadia bersama seorang cowok, perasaanku tak menentu, ingin marah namun tak bisa, hanya bisa memendam dengan rasa yang sangat pedih.

Bersambung tragedi mengerikan bagian 5. Kritik dan sarannya.

Whatsapp: 0822 8864 7504

loading...