Sebelumnya kesepian.

“kamu mau kerja?” kata Lita tiba-tiba berhenti di sampingku.
“I-i-iya kok kamu bisa tahu?” kataku bingung.
“Ini pakai sepedaku nanti kamu bisa telat” kata Lita tersenyum tipis ke arahku.
“Benaran nih boleh, nanti kamu naik apa? Pulangnya” kataku.
“Gak apa-apa aku bisa naik angkutan umum, besok kembalikan saja sepedanya di sekolah” kata Lita.
“Terima kasih banyak Lita, kau sangat baik kepadaku” kataku menundukkan kepalaku.
“Sudah jangan gitu ah” kata Lita.
“Sekali lagi terima kasih ya” kataku menaiki sepeda Lita, saat aku menoleh dia melambaikan tangan ke arahku aku tersenyum tipis memandangnya.
“Pandai-pandai bergaul gugun, biar kamu tidak kesepian, aku sedih selama ini kamu kesepian!” teriak Lita dari jauh.

Hatiku terasa ada yang menuntunku, aku menganggukan kepalaku kepadanya. Sesampainya di tempat kerjaku, aku menaruh tasku, bosku sangat lah ramah denganku baik juga padaku. Sesampainya aku di tempat kerja, aku buru-buru mengganti seragamku dan memakai baju kerja sebagai sales sosis. Sebenarnya pekerjaanku serabutan semua, terkadang tak ada orderan, aku hanya di toko menata barang-barang yang habis.

Petang pun tiba waktunya toko tutup. Jam memunjukkan pukul 5 sore tinggal 1 jam lagi waktu maghrib, aku bergegas pulang ke rumah. Tiba-tiba langit mendung gelap sekali, air hujan pun jatuh membasahi tubuhku. Mataku tertuju gadis yang berada di depanku, aku menghampirinya.

“Lita?” kataku menyapanya di tengah hujan deras.
“Eh. Gugun ngapain kamu?” tanya Lita.
“Seharusnya aku nanya? Ngapain kamu hujan-hujanan?” kata Gugun.

Badan Lita terlihat pucat sekali, seragamnya basah terkena air hujan .

“Oh iya ini sepedamu, terima kasih atas kebaikanmu” kataku tersenyum tipis.
“Ah iya sama-sama Gun”.
“Oh iya sebagai gantinya, ayo kita makan bakso di ujung sana” kataku menunjukan warung bakso.

Aku berlari menyebrangi jalanan, aku tak menghiraukan kendaraan yang ingin menabrakku. Tiba-tiba sebuah dorongan tangan membuatku terselamatkan oleh mobil yang ingin menabrakku. Aku melihat Lita tertabrak, aku menutup mataku saat aku membuka mataku. Lita berlumuran darah, mulutnya mengeluarkan darah. Air mataku pecah melihat kejadian mengerikan ini, aku berlari menghampiri Lita. Aku meminta tolong seseorang tetapi tak ada yang mendengarkanku, aku terpaksa menggendong Lita membawanya ke rumah sakit.

“Kamu disini dulu ya aku panggil dokter” kataku memegang wajah Lita.

Lita hanya tersenyum tipis memandangku.

“Bu, tolong ada temanku yang kecelakaan!” teriakku di ruang umum.

Semua mendengar teriakanku, para suster mendatangiku membawa semua peralatan mereka. Aku menuntun mereka ke tempat aku menaruh Lita, saat tiba di tempatnya Lita menghilang aku bingung apa yang terjadi.

“Kamu jangan berbohong dik” kata suster.
“Benaran bu! Tadi temanku disini, dia berdarah” kataku.
“Kami bisa melaporkanmu ke polisi, karena telah menipu dan membuat panik para suter dik” kata suster.
“Benaran suster, aku tidak bohong lihat tanganku berdarah” kataku bingung tanganku yang tadi berdarah sudah hilang.

“Kamu sudah gila ya? Kamu hanya sendirian dari tadi dengan teriakanmu itu” kata suster.
“Apa sendirian? Tidak mungkin, jelas-jelas dia bersamaku tadi” kataku terduduk lemas memegang kepalaku.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya seorang dokter.
“Ini dok, dia berbohong dengan kami bahwa ada yang kecelakaan” kata suster.

“Kamu ?” kata dokter yang terlihat mengenalku.
“Dokter mengenalku?” tanyaku.
“Bukan kah, kau yang mengantarkan adikmu waktu kecelakaan itu” kata dokter.
“Adik dok?” tanyaku bingung sambil memegang kepalaku.

loading...

“Iya adik kamu yang pernah aku tangani karena kecelakaan mobil, kamu bawa di tengah hujan seperti ini” kata dokter.
“Di tengah hujan seperti ini? Apa maksud dokter” tanyaku semakin bingung.
“Kamu dulu pernah membawa adikmu, kesini dengan luka di kepalanya karena kecelakaan, aku berusaha menolongmu tetapi adikmu sudah tak terselamatkan karena luka serius di kepalanya” jelas dokter.
“Jadi selama ini yang menemaniku, adalah adikku” kataku berlari meninggalkan dokter.

Aku berlari menuju rumah di tengah hujan lebat, tiba tiba kepalaku sakit. Aku mengingat sesuatu terlintas di kepalaku. Lita adalah adikku yang menemaniku selama ini, kenapa aku bisa melupakannya, sebenarnya kenapa aku ini bisa melupakan adikku sendiri. Tiba-tiba tubuhku bergetar aku pun jatuh pingsan aku bermimpi.

Aku melihat diriku dengan Lita sedang duduk depan rumah sambil bermain. Tiba-tiba sebuah pertengkaran hebat terdengar di dalam rumah. Terdengar teriakan ibuku. Aku dan Lita berlari menghampiri terikan ibu, saat masuk kamar orang tuaku aku melihat ibu dengan darah. Tubuhku lemas tak berdaya melihat ibuku mati di bunuh oleh ayahku sendiri.

“Apa yang ayah lakukan hiks, hiks, ibu bangun bu” kata Lita merangkul ibunya.

Ayahku hanya tertawa seperti orang gila, berjalan ke laci mengambil sebuah pistol dan mengarahkan ke kepalanya.

“Maafkan ayah anak-anak” kata ayahku menekan pistolnya.
“Ayah. Jangan!” teriakku.

Dor! Peluru mengenai kepala ayahku, tubuhku lemas tak berdaya melihat pemandangan ini, orang tuaku meninggal secara tragis.

“Kakak, hiks, hiks, hiks” kata Lita memelukku.
“Sabar dik, hiks, hiks” kataku membalas pelukan Lita.

1 bulan meninggalnya kedua orang tuaku, aku mulai kerja sana sini menghidupi Lita, pada suatu hari Lita sakit parah karena rindunya Lita dengan ibunya, aku jadi kakak hanya bisa menghiburnya.

“Kakak pulang dik” kataku.
“Kakak” kata adiku lemas kursi sofa.
“Kamu masih sakit ya, nih aku bawakan makanan kesukaanmu, hari ini kakak gajian kamu mau apa?” kataku.
“Aku kangen ibu kak, sama ayah” kataku.
“Sudah lah dik, mereka sudah meninggalkan kita berdua, mungkin ini takdir kita” kataku menenangkan Lita.
“Semuanya gara-gara kakak!”.
“Kok kamu nyalahin kakak?”.

“Iya andaikan kakak, tidak nakal suka habisin uang ayah dan susah di atur mungkin hidup kita tidak seperti ini” kata Lita.
“Usahanya ayah bangkrut tidak ada sangkut pautnya denganku” kataku membela diri.
“Kakak yang membuat usaha ayah bangkrut, dengan menghilangkan berkas ayah yang sangat penting, ayah jadinya di pecat, ayah mencari pekerjaan dan mencari tapi tidak dapat, dan kakak hanya minta uang terus, main judi, mabok susah di atur! Ayah banyak hutang gara-gara kakak” bentak adikku.
“Maafkan kakak dik” kataku memegang pundak adikku.
“Hiks, hiks, hiks” kata adikku menangis tersedu-sedu.

Keesokan harinya, aku melihat diriku pergi ke sekolah dengan adikku mengunakan sepeda, yang aku pakai saat itu. Sesampainya di sekolah, aku menaruh sepedaku dan masuk kelas. Jam istirahat pun tiba, aku melihat diriku berjalan menuju kantin persis waktu itu tiba-tiba bola mengenai tubuhku. Aku menoleh ternyata amar yang telah melemparnya aku menghela nafas dan tak memperdulikanya, tapi amar masih melempar ke tubuhku, aku sempat emosi tetapi adikku datang.

“Dari pada cari lawan mending cari teman” kata adikku menatap mereka.

Persis waktu itu aku melihatnya.

“Ayo pergi tidak seru!” kata amar pergi dari hadapanku.
“Kakak tidak apa-apa kan?” tanya adikku.
“Iya gak apa-apa, kamu tidak ke kantin?”.
“Ini mau ke kantin tapi”.
“Tapi gak ada uang ya, nih aku kasih uang, makan yang kenyang sana” kataku.

Jadi kejadian waktu,itu Lita berusaha mengulang waktu biar aku mengingatnya. Saat pulang sekolah aku melihat diriku berjalan, tiba-tiba Lita datang menghampiriku.

“Kakak bukannya ingin kerja? Ini pakai sepedaku kak” kata Lita.
“Benaran gak apa-apa nih, terus kamu pulang bagaimana?” tanyaku.
“Kan aku bisa pulang naik angkutan kak” kata Lita tersenyum tipis.

Aku pun melihat diriku bekerja hingga petang ,jam menunjukan pukul 5 sore tiba-tiba langit mendung dan turun hujan. Air hujan membasahi tubuhku, aku mengayunkan sepedaku menuju rumah, tetapi saat di jalan aku melihat Lita adikku berjalan kaki. Aku menghampirinya.

“Eh dik, kamu ngapain jalan kaki?” kataku.
“Aku habis dari rumah teman kak” kata adikku.
“Ayo pulang, kamu nanti sakit”.
“Aku lapar kak” kata adikku.
“Lapar, itu ada warung bakso ayo kesana” kataku berlari menyeberang tak melihat mobil.

Aku melihat adikku berlari mendorongku, membuatku selamat dari kecelakaan tetapi adikku tertabrak mobil. Kepalanya berdarah, mulutnya mengeluarkan darah, air mataku pecah melihat pemandangan itu. Aku berlari menghampiri adikku.

“Tolong! Tolong” teriakku.
“Kakak?”.
“Iya dik, sabar ya kakak akan menyelamatkanmu, kamu yang kuat ya hiks, hiks, hiks” kataku memangku adikku yang penuh darah.
“Aku bisa menyusul ibu kak, kakak harus kuat ya tanpaku biar aku tenang di alam baka kak” kata Lita lemas.
“Kamu jangan bilang gitu dik” kataku mengelus rambut adikku.

Aku pun melihat diriku menggendong Lita, menuju rumah sakit. Di saat itu dokter menangani Lita selama beberapa menit.

“Maaf dik, adikmu telah meninggal dunia” kata dokter.

Air mataku pecah mendengar perkataan dokter, aku berteriak histeris waktu itu, tertawa-tawa sendiri bagaikan orang gila. 2 bulan meninggal adikku Lita, aku hanya melukai diriku sendiri berlari kesana sini dan seperti orang gila, lalu pamanku menaruhku di psikater, semua ingatanku hilang tentang keluargaku. Aku pun terbangun dari mimpiku. Aku berlari ke rumah pamanku.

“Paman!” teriakku di luar rumah.
“Ada apa gun” kata pamanku.
“Di mana makam adikku berada? Kenapa paman jahat menghilangkan ingatanku dengannya” bentakku menarik baju pamanku.
“Karena dulu kamu terus melukai dirimu. Paman terpaksa harus membawamu ke psikater” kata pamanku.
“Tapi jangan ingatanku tentang adikku” kataku.
“Paman akan tunjukan dimana letak, makam adikmu”.

Paman pun membawaku ke makam adikku, terlihat batu lisan bertulisan nama adikku

“Maaf kan kakak hiks, hiks, hiks, tidak bisa menjagamu dik” kataku menangis tersedu-sedu.
“Tidak apa-apa kak, semua sudah takdir” kata Lita adikku yang tiba-tiba berada di depanku memegang tanganku.
“Jangan tinggalkan kakak dik” kataku memohon.
“Terima kasih paman, sudah merawat kakakku”.
“Sama-sama Lita”.
“Kakak dengar ya, kakak harus kuat jangan mencoba bunuh diri lagi ya kak, hidup itu penuh dengan cobaan kak, selama kita masih bisa mengatasinya atasilah jangan berputus asa kak, Tuhan tak akan memberi cobaan dengan batas kemampuan kita” kata adikku.
“Sekarang aku pergi ya kak, jangan lupa sering ke makamku, doakan aku ya kak” kata Lita tersenyum tipis yang semakin menghilang di hadapanku.

Tamat. Terima kasih sudah membaca storyku ya, kalau mau aku buatkan story yang romantis silahkan chat di facebookku ya yang bernama Nak Gugun. Oke bye.