Malam yang begitu indah begitu banyak bintang-bintang. Di langit ku pandang sambil mendengarkan musik di tepi jembatan hanya seorang diri, tak mempunyai teman sama sekali apa arti teman jika datang hanya membutukan kita saja. Lebih baik menyendiri keluargaku semuanya hancur hanya aku sendiri di rumah, keluargaku tewas di rumah karena ayah telah membunuh keluarganya sendiri hanya karena hutang yang di milikinya. Saat aku pulang semuanya sudah bersimbah darah di lantai. Saat itu aku shock berat dengan semua keadaan ini aku menjadi lebih pendiam sekarang.

Hari ini aku hanya mendengarkan musik, yang membuatku mengingat masa laluku air mataku menetes begitu deras di pipiku. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan meloncat di jembatan ini dan membenturkan kepalaku ke bawah jembatan itu, aku mulaiĀ  menaiki pembatas jembatan dan mulai menutup mataku dan loncat. Tiba-tiba bajuku seperti ada yang menarik dengan kuat, aku membuka mataku melihat ke bawah mobil berjalan begitu cepat, aku melirik mataku ke atas apa ini? Gadis memegang bajuku dengan kuat sekali

“Apa yang kamu lakukan dasar bodoh!” teriak gadis remaja memegang bajuku dengan erat.

Aku tak mampu berbicara dengan gadis ini, dia menarik bajuku ke atas menyuruhku untuk naik ke atas lagi, entah mengapa tubuhku mengikuti kata gadis itu, aku berusaha naik ke atas jembatan lagi dengan di bantu gadis ini. Aku pun berhasil naik lagi. Plakk! Tamparan keras mengenai pipiku, suasana sangat hening saat itu gadis ini pipinya di basahi air mata.

“Kamu bodoh apa?! Hah! Mau bunuh diri, gak ada gunanya justru malah kamu tak akan tenang di alam sana” kata gadis remaja di basahi air mata.
“Kamu siapa? Kenapa peduli denganku?” kataku bingung.
“Aku Lita aku dari tadi, memandangimu dari sudut toko disana, kamu kelihatan sangat depresi, aku lalu firasatku mengatakan kamu pasti akan bunuh diri” kata Lita mengusap wajahnya.
“Kenapa kau peduli denganku?”.
“Karena kita manusia harus saling peduli dengan yang lain” kata Lita.
“Tapi kau tidak tahu yang aku rasakan sekarang” kataku.
“Bercerita lah dengan kawanmu, untuk menghilangkan bebanmu, karena manusia hidup bersosial bukan penyendiri” kata Lita.
“Kau mengucapkan mudah sekali, teman yang di butuhkan dan teman membutuhkan itu sangat berbeda!” kataku membentak.

Aku terduduk lesu menangis sejadi-jadinya sambil melihat galeriku dengan keluargaku. Tiba-tiba Lita menepuk pundakku dan berbisik ditelingaku.

“Tenang saja aku akan menjadi temanku, dan menemanimu di manapun aku janji karena sebelumnya kau telah menolongku” kata Lita di telingaku.
“Menolongmu?” kataku menoleh tetapi Lita sudah tak berada di sampingku.

Aku merasa sangat bingung dengan malam ini yang aku alami, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Keesokan harinya aku bangun dari tidurku membuka gorden jendelaku, memandangi langit yang cerah dengan burung beterbangan kesana kemari, aku mulai bangkit dari kasurku menuju kamar mandi untuk mandi dan mulai menuju ke sekolah. Setelah pulang sekolah aku harus bekerja di toko untuk membiayai hidupku sendiri, aku melihat uang di sakuku hanya tinggal 20 ribu saja untuk hari ini.

Aku membuka pintu rumahku, tiba-tiba kakiku tersandung, aku melihat ke bawah sebuah kotak sarapan lengkap dengan minumnya. Aku melihat isi kotak makan yang aku pegang terlihat lauk yang sangat enak. Aku tak pikir panjang dan memakanya setelah selesai aku berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah aku berjalan menuju kelasku, mataku memandang arah ke lantai 2 yang ada di sekolah. Mataku terfokus kepada gadis yang sedang berjalan menuju kelasnya mirip, sekali dengan gadis yang semalam menolongku. Aku berlari secepatnya naik ke atas untuk menghampirinya. Saat sampai di atas gadis itu masih berjalan, aku menghampirinya dan menepuk pundanya. Dia pun berbalik tenyata aku salah orang.

Bel pun berbunyi tandanya, pelajaran segera di mulai aku memasuki kelasku, dan masih memikirkan gadis itu apa dia bersekolah disini?(Gumamku). Tak lama pun pelajaran selesai, aku hanya duduk di kursiku memainkan musik di telingaku tiba-tiba hantaman bola mengenai kepalaku. Aku menoleh ke arah yang melempariku ternyata murid jahil amar yang terkenal dengan kenakalannya, yang suka cari gara-gara.

“Hahaha kasihan” kata amar menertawakanku.

Aku hanya menghela nafasku, membiarkannya tertawa dan berjalan meninggalkan kelas. Dia mengikutiku dan melempariku dengan bola begitu keras hingga terjatuh. Aku sempat emosi dan langsung memukulnya, dia tak terima, teman-temannya memegang kedua tanganku, dan memukulku begitu keras kearah perutku hingga aku memuntahkan air dalam mulutku. Dia mulai memukulku lagi, tiba-tiba tangannya terhenti, aku membuka mataku dan melihat gadis itu memegang tangan amar.

loading...

“Kalian ini seperti anak kecil saja, main bully orang, kalian ini sudah SMA. Kita di haruskan mencari kawan bukan lawan” kata Lita memegang erat tangan amar.
“Lepasin tanganku?” kata amar.
“Enggak sebelum kau minta maaf kepadanya” kata Lita menatap amar.
“Sial lepasin! Ayo kita pergi dari sini gak seru!” kata amar meninggalkan kami berdua.
“Terima kasih ya, kamu sudah menyelamatkan ku”Kataku terseyum tipis kepadanya.
“sama sama” kata Lita berjalan meninggalkanku.
“tunggu aku lupa namamu?”kataku memanggilnya.

Dia menoleh wajahnya begitu manis.

“Aku Lita, gugun” kata Lita.

Aku terkejut dia mengetahui namaku, aku berlari menghampirinya.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku sambil berjalan di sampingnya.
“Karena nama di label seragam itu” kata Lita menunjukan label namaku yang tertera di bajuku.
“Oh iya ya, terima kasih kau juga telah menyelamatkanku dari bunuh diri” kataku
“Sudah jangan di bahas sekarang, kita berteman sekarang” kata lita menyodorkan tangannya.

Hatiku terasa sedikit senang, karena Lita ingin menjadi temanku, aku menyalami tangannya dan aku melihat gelang tangannya, begitu bagus dengan warna kayu dan berbentuk 2 wajah terseyum. Terlintas di pikiranku aku pernah memberikannya kepada seseorang.

“Kamu kenapa gun?” tanya Lita.
“Eh enggak apa-apa kok” kata Lita yang membuyarkan lamunanku.
“Kamu sudah makan?” tanya Lita.
“Sudah tadi pagi sarapan” kataku.
“Iya sudah aku pergi dulu ya, ada urusan sebentar” kata Lita.
“Ba-baiklah hati hati ya” kataku sedikir kaku.

Tak lama kemudian bel pun mulai berbunyi lagi, semua murid memasuki kelas masing masing termasuk aku. Tak lama kemudian jam pulang pun tiba aku membereskan buku dan berjalan cepat ke tempat kerjaku, yang jaraknya cukup jauh untuk kesana dan harus berjalan kaki sekitar 1 KM. Karena dulu motor dan sepeda aku jual untuk membiayai hidupku.

“Kamu mau kerja?” kata Lita tiba-tiba berhenti di sampingku.
“Iya kok kamu bisa tahu?” kataku bingung.
“Ini pakai sepedaku nanti kamu bisa telat” kata Lita tersenyum tipis ke arahku.
“Benaran nih boleh, nanti kamu naik apa pulangnya?” kataku.
“Gak apa-apa aku bisa naik angkutan umum, besok kembalikan saja sepedanya di sekolah” kata Lita.
“Terima kasih banyak Lita, kau sangat baik kepadaku” kata ku menundukkan kepalaku.
“Sudah jangan gitu ah” kata Lita.
“Sekali lagi terima kasih ya” kataku menaiki sepeda Lita, saat aku menoleh dia melambaikan tangan ke arahku, aku tersenyum tipis memandangnya.
“Pandai-pandai bergaul gugun, biar kamu tidak kesepian, aku sedih selama ini kamu kesepian” teriak Lita dari jauh.

Hatiku terasa ada yang menuntunku, aku menganggukkan kepalaku kepadanya. Sesampainya di tempat kerjaku aku menaruh tasku, bossku sangat lah ramah denganku baik juga padaku. Bersambung kesepian bagian 2.