Trrrt. Trrt, aku terbangun dari tidur, 02.18 AM, duh, siapa sih yang telepon sepagi ini? Ah, gak tahu deh! Pikirku dalam hati “halo?” tanyaku waktu mengangkat telepon tersebut.

“Hei, kamu siapa? Bisa tolong aku?” tanya seseorang dari telepon tersebut.
“Lah, kamu yang telepon aku kok kamu tanya siapa aku? Lagian ya, gak usah telepon pagi-pagi buta gini juga kali! Masih terlalu dini buat minta tolong!” jawabku.
“Hei, kamu siapa? Bisa tolong aku?” kata penelepon itu lagi.
“Kamu siapa sih?” tanyaku.
“Tolong aku” kata penelepon itu lagi.

Sebenarnya waktu ku dengarin nih ya, suaranya kayak cewek gitu.

“Halo, halo? Maaf, ini siapa sih? Jahil banget!” tanyaku.
“Panggilan berakhir” kata suara yang biasa kalian jumpai dalam telepon (pastinya suaranya ms. Google dong) orang itu nyebalin banget sih! Batinku dalam hati

Keesokan harinya.

“Woi! Bangun woi! Sudah kayak sleeping beauty saja ni anak!” seruku ke Liva.

By the way kalau mau kenal Liva lihat saja ke ceritaku, Restoran yang Aneh *iklan. Ok back to story, Liva memang anaknya sudah kayak beruang hibernasi, gak bisa di bangunin!

“Apa sih, banguninnya sudah kayak monster ngamuk tahu gak” kata Liva.
“Ih salah sendiri, hari minggu masa’ gak mau shopping?” tanyaku.
“Wait, wait, wait. Gak salah dengar nih? Shopping?” tanya Liva.
“Iya dong!” kataku.
“Ok deh!” jawab Liva

Ckiit, kita berdua sampai di depan mall.

“Sudah yuk, masuk!” kataku.
“Ya sudah ayo, tasmu nih!” kata Liva sambil menyodorkan tasku.
“Ok thanks”.

Kita pun masuk, tiba-tiba. Trrt. Trrt.

“Eh Lis, ada telepon masuk tuh” senggol Liva.
“Oh ya! Aku angkat ya!”.
“Ya sudah, cepat angkat”.

Aku pun minta ijin pergi ke toilet agar tidak berisik karena takut mengganggu suasana mall.

loading...

“Halo, siapa?” tanyaku.
“Tolong aku”.

Oh My GOD! Penelepon yang sama dengan orang yang tadi telepon di ponsel Liva pagi-pagi buta tadi!

“Apa maumu sih? Kenapa kamu ganggu aku dan Liva terus?” tanyaku lagi.
“Kamu tidak ingat aku?” tanya gadis dalam telepon itu.
“Memangnya siapa kamu?”.
“Aku Rena, kau ingat?” tanya gadis itu lagi.

Aku terperanjat, aku ingat sekarang, Rena adalah sahabatku, ya sampai kelas 6 SD, waktu itu aku berjalan-jalan bersama Rena, aku ingat terakhir kali kita bergandengan tangan, tiba-tiba Rena tergelincir, dan sayangnya, jalan yang waktu itu kita lalui adalah jalan kecil di pinggir sungai besar, Rena pun jatuh, aku berusaha memegang tangan Rena sekuat mungkin agar dia tidak termakan arus sungai, namun apa daya, aku tidak lebih kuat dari pada tenaga air, Rena berteriak “Lisa! Lisa!” berulang kali.

Aku menangis dan meminta tolong, namun terlanjur, Rena sudah hanyut, penduduk desa kemudian menemukan Rena, bajunya tersangkut akar, Rena masih setengah sadarkan diri dan sempat di larikan ke rumah sakit, tapi saat di ambulans, Rena mati begitu saja tanpa sempat diperiksa, aku ingat, aku ingat semuanya, waktu itu orang tua Rena menangis tersedu-sedu, memeluki tubuh Rena yang tak bernyawa.

“Kau ingat kan, Lisa?” tanya Rena di telepon.

Mataku mengeluarkan air mata sangat deras.

“Iya, aku ingat” jawabku pelan.
“Lisa, aku harus menemuimu sekarang” kata Rena.
“Jangan, Rena! Kumohon!” pintaku.
“Aku tahu kau takkan lagi menganggapku sebagai sahabatmu, tapi cukup sekali ini saja Lisa, biarkan aku menemuimu dan memelukmu. Aku sangat rindu padamu”.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku “Re, Rena“ air mataku mengalir deras. Lihatlah, lihat, wajah Rena masih sangat cantik, walau tak secantik dulu, kulitnya juga putih, walau kini kulit itu hampir sangat putih karena kedinginan, sosok Rena itu memelukku erat dan mengembalikan sebuah kalung merah yang pernah aku pinjamkan ke dia “Rena, ini” belum sempat aku mengatakan apapun, tiba-tiba sosok Rena berubah menjadi Liva.

“Lisa? Ngapain kamu nangis sendirian di toilet? Ayolah shopping lagi!” tanya sekaligus ucap Liva.
“Eh, eee, eng, enggak apa-apa kok Liv” kataku sambil mengusap air mataku.

Aku tahu, sebuah tali persahabatan takkan putus walaupun kita berbeda alam, bukan begitu, Rena?