Arwah Korban Tenggelam - 707 Views

Seringkali berpindah kost adalah hal wajar bagiku. Maklum, tugas kerjaku berpindah-pindah untuk waktu yang lumayan lama dari satu kota ke kota lain. Kali ini kota Malang menorehkan cerita. Kost yang terletak paling ujung dan berlokasi tusuk sate memang tidak sesuai Feng Shui dan memberi hawa tidak baik. ‘Jiong’ kata para pakar Feng Shui, sial artinya. Tapi tak mengapa pikirku. Toh, tidak akan sampai setahun aku disana.

Kost yang ramai dan para penghuni yang baik membuat seminggu pertamaku baik-baik saja. Hingga suatu waktu pada tengah malam terdengar suara debur ombak dari kamar salah satu anak kost. Ku kira karena dia membunyikan musik penentram hati yang di backsound dengan suara debur ombak. Namun bau amis laut dan bau garam menyeruak. Aku baru ingat bahwa kamar anak kost yang berasal dari Aceh itu sedang pulang, seminggu untuk merayakan Idul Adha di tanah asalnya.

“Pak, saya boleh pinjam kunci kamar Mas D? Saya sudah whatsapp dia dan dia mengijinkan” kataku meminta kunci kamar kost itu pada pemilik kost.
“Buat apa mas?”.
“Saya mau mematikan laptop dia dan mencabut semua alat listrik yang masih menancap. Saya juga mau pinjam beberapa buku buat referensi laporan kerja saya”.
“Jangan ambil apa-apa selain itu ya mas” ingat bapak kost.
“Baik pak” balasku sambil mengambil kunci yang tergantung di tembok.

Kamar nomor 6. Ini dia. ‘Klak’ kunci terbuka. Satu pemandangan mengerikan ketika harus melihat sosok busuk di atas tempat tidur, bengkak dan basah. Yang lebih mengerikan lagi ketika sosok itu melambai dari kasur sembari berkata serak “tolong! Tolong!”

Busuk. Amis. Bahkan bangkai hewan pun kalah amis dengan bau sosok itu. Cepat-cepat aku tutup pintu seakan-akan pintu ku banting karena saking gugupnya dan hendak muntah karena bau yang menusuk-nusuk hidung. Aku berlari menuju kamarku sendiri. Sejenak, semua bau laut, garam dan bangkai telah hilang tanpa meninggalkan sesuatu pun. Septa teman yang menempati kost paling depan menjadi jujuganku.

loading...

“Sep, aku lihat hal ngeri di kamar Didi. Ada mayat laki-laki bengkak. Tapi seram bisa nyapa Sep”.
“Eh, serius mas? Hantu?”.
“Hantu pasti tuh. Dari dulu memang begitu apa nih kost?”.
“Enggak juga mas. Keadaannya gimana tuh hantu mas?”.
“Busuk. Bengkak. Awal-awalnya sih bau laut gitu nah”.
“Laut?”.
“Iya. Kenapa?”.
“Kok aku jadi ngeri mas. Jangan cerita di sini. Kita cari tempat ngopi saja”.

Aku dan Septa sepakat untuk mencari tempat ngopi sambil cerita daripada mengumbar cerita di kamar Septa.

“Jadi, 4 bulan lalu mas. Kami 6 orang berenang ke pantai Jolosutro di Blitar. Ombak waktu itu masih pasang. Didi memang jago berenang, tapi tidak dengan Ilham. Didi memaksa Ilham agar menemani berenang dengan di tuntun ke wilayah menjorok ke lautan. Karena di paksa dan Ilham percaya pada Didi, dia menurut saja. Entah apa yang terjadi disana kami semua tidak tahu. Karena kami sedang mendirikan tenda. Didi tidak sabar ketika melihat air laut, dia ingin segera berenang. Lama kelamaan Didi kembali ke darat tanpa disertai Ilham sembari berteriak ‘Ilham hilang! Ilham hilang!’

Kami semua sangat panik. Bahkan salah satu teman yang pintar berenang juga sampai terjun ke dalam air untuk mrncari Ilham. Tapi nihil. Sampai sekarang, Didi tidak pernah menunjukan raut muka bersalah. Dia tidak pernah mengakui bahwa yang memaksa Ilham berenang ke tengah laut adalah dia.

Selang seminggu kemudian, mayat Ilham ditemukan jauh di pantai Balekambang, Malang Selatan. Keadaannya sudah membusuk, bengkak dan sangat amis. Di penuhi serangga-serangga laut yang menggerogoti tubuh Ilham. Wajahnya sudah sulit dikenali. Penanda yang ada hanya celana bola berwarna merah dan gelang yang tengah dipakainya”.

“Ya Tuhan, itu yang aku lihat pada sosok itu. Celana merah pendek” timpalku terbengong-bengong.
“Mungkin Ilham masih penasaran dan mungkin juga menaruh dendam pada Didi. Sekarang aku tahu kenapa di kamar Didi sering muncul bau busuk. Ilham. Ya, aku yakin pasti Ilham”.
“Tidak dilaporkan polisi?”.
“Entah lah mas. Sejak Ilham hilang sampai sekarang, tidak ada kabar tentang usutan hukum. Jangan ditanyakan ke Didi ya mas kalau dia pulang. Aku cerita karena mas mengalami hal mengerikan di kamar Didi. Jadi sudah selayaknya aku menceritakan ihwal sosok itu jika benar dia adalah Ilham”.
“Santai saja. Tapi, kok aku jadi ragu buat balik ke kost ya?”.
“Takut?”.
“Bau busuk”.
“Sekarang kan malam Jumat Legi”.
“Kalau lain hari?”.
“Biasanya tidak ada aneh-aneh”.
“Semoga”.

Kopi kami belum habis. Masih utuh karena aku dan Septa lebih banyak bercerita, meninggalkan kopi yang mendingin di atas meja. Mungkin Ilham juga demikian. Merasakan dingin yang tak terperikan dengan kulit perih dan daging yang terkoyak binatang. Matanya tinggal sebelah. Lidahnya menjulur hijau kebiruan dilapisi selaput putih, ditempeli remis-remis. Mungkin malah di suntik dan di rendam formalin di kamar mayat rumah sakit. Di bedah autopsi. Makin mengerikan dia. Sementara Didi, entah karma apa yang menunggunya suatu hari nanti.