Cerita kali ini adalah pengalaman pribadi sahabatku, sebut saja Danil. Maaf kalau ada yang tidak mengerti ceritanya. Jadi penulis menceritakan kembali kisah yang di ceritakan sahabatku, dengan versi penulis. Bingung juga sih jelasinnya, :v oke kita mulai. “Praaang” Terdengar suara gaduh seperti orang melempar tutup panci di seberang rumahku, tepatnya di rumah sahabatku, Danil. Dia bisa di bilang anak nakal, suka membangkang, dan pecandu game online.

“Elu kalau gak mau nurut sama orang tua, mending lu pergi sana!” kemarahan ibunya si Danil mungkin sudah tak terbendung. Dan suaranya sampai terdengar ke rumahku.

Pagi yang mestinya tenang, kini berubah jadi medan perang ibu dan anak.

“Bikin ulah apalagi tuh anak?” bisik ibuku.
“Entahlah bu, ibu tahu sendiri kan gimana si Danil” jawabku “kemarin dia minta uang buat bikin SIM, ibunya bilang belum ada uangnya”.
“Gara-gara duit lagi” kata ibuku, sambil dia bergegas ke arah dapur.
“Lupa matiin kompor lagi” pikirku.

Kira-kira pukul 12 siang hari, Danil datang ke rumahku, matanya merah nafasnya terengah-engah, seperti orang habis berlari jauh.

“Napa Lu?” aku coba memulai obrolan.
“Ibu gue, padahal anaknya mau bikin SIM, masa gak di kasih duit” jawabnya dengan nada kesal.
“Emak lu gak ada duit kali”.
“Tapi gue butuh SIM buat kerja”.

Entah apalagi alasan si Danil kali ini untuk dapat uang dari ibunya, padahal ibunya janda, kerjanya cuma bungkusin bumbu dapur. Tapi anaknya menuntut yang tidak-tidak ke orang tuanya. Sebenarnya bukan cuma kali ini saja si Danil bertingkah. Pernah suatu hari, demi ke warnet, dan bermain game online kesayangannya, dia menjual luwak peliharaan adiknya, beserta kandang seharga 400 ribu.

“Lu minta duit ke emak lu buat main game kan?” tanyaku.
“Kagak lah, kali ini benaran buat bikin SIM”.
“Eh Nil kasian emak lu, yang ada mestinya elu yang ngasih duit ke dia, lu kan sudah bukan bocah lagi” ku ceramahi dia sampai kupingnya berwarna merah.
“Rese lu!” tukasnya sambil bergegas pergi.

Tanpa lirik kiri kanan, si Danil berlari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, si Danil kembali merongrong, sampai ibunya kehabisan kata-kata dan menyerah, di serahkannya lah uang yang tinggal selembar itu.

“100 ribu!? Mana cukup!” bentak si Danil.
“Kalau lu mau, ambil. Kalau gak butuh, sini balikin!” ibunya tak mau kalah.

Dengan terburu-buru, si Danil bergegas menuju kamarnya, mengganti baju dan segala persiapan menuju tempatnya menghamburkan uang. Warnet!.

“Bayu. Oy Bayu!” teriak Si Danil.
“Apaan?” jawabku dari jendela.
“Game gak?” ajak si Danil setengah membujuk.
“Gak ada duit” jawabku singkat.
“Ya sudah gue cabut!”.

Dan, Danil pun melaju bersama motornya, ke warnet kesayangan. Sesampainya di warnet, Danil memilih komputer yang sekiranya nyaman. Tak lama kemudian, Danil sudah tertelan oleh asiknya bermain game online, bahkan sampai lupa waktu. Waktu menunjukan pukul 11 malam, saat operator warnet hendak menutup gerbang, si Danil tersadar kalau malam sudah larut. Dia bergegas membayar billing, baru setelah itu dengan terburu-buru dia menyalakan motornya. Danil pun melaju lumayan kencang di jalanan yang sepi. Hingga pada suatu ketika. Motor yang dia tumpangi mendadak berat, kecepatannya pun melambat.

“Habis bensin?” Danil bergumam.
“Tapi baru tadi sore di isi”.

Mau tak mau, Danil menuntun motornya, dan berharap ada satu atau dua kios bensin yang buka. Tapi harapan tinggal harapan, bahkan setelah menuntun motor sampe sekitar 1 KM pun, tak ada juga kios yang menjual bensin. Danil meraba sakunya, dan mengeluarkan handphonenya.

“Anjr*t jam 2 pagi”.

Danil berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Tapi, tak lama kemudian. Terdengar suara lonceng, suara seperti lonceng yang umum digunakan tukang delman. Awalnya suaranya pelan, tapi lama kelamaan, suaranya makin kencang seperti mendekat. Keringat dingin pun mulai bercucuran, Danil tak tahu apa itu, dan apa yang harus dilakukan! Sampai suatu ketika, suara lonceng itu menjauh. Danil pun kembali bernafas lega. Dan anehnya, motornya kembali hidup.

loading...

Tanpa ba-bi-bu lagi, Danil menjalankan motornya dengan kencang. Setengah tiga pagi, akhirnya Danil sampai di kampungnya. Jalan satu-satunya untuk bisa sampai ke rumahnya adalah jembatan yang terkenal angker di daerahnya. Para warga sering menyebut daerah sekitar jembatan itu “Gonggo”. Teringat waktu kecil, aku (penulis) dan danil adalah teman masa kecil, kakeknya Danil kakek Ece, pernah bercerita pada kami bahwa, beliau pernah bertemu dengan dua sosok kembar penunggu gonggo. Oke kembali ke cerita.

Sekitar 30 meter sebelum gonggo, motor Danil kembali mati, dan terpaksa (lagi) dia menuntun motornya. Dari jarak yang agak lumayan jauh, samar-samar Danil seperti melihat dua orang seperti sedang memancing di bawah jembatan. Perasaannya sedikit lega, mungkin karena Danil mengira dia bertemu orang lain. Hal itu tentu saja membuat Danil sedikit tenang. Sepuluh meter, sembilan meter. Makin dekat Danil dengan “orang-orang” yang seperti sedang memancing itu.

Tepat ketika Danil berada di belakang kedua “orang” itu. Danil pun hendak bersopan santun dengan berkata “permisi”, sontak saja ke dua “orang” itu menoleh ke arah Danil. Dan wajah kedua orang itu sama! Kembar. Dengan setelan seperti tentara, lengkap dengan sepatu boot hitam, kedua orang itu menatap Danil dengan tatapan dingin, matanya putih semua, wajahnya pucat, kepalanya berdarah (menurut kesaksian si Danil, salah satu dari orang itu mempunyai kepala hampir seperti habis kena bacok, sementara yang seorang lagi, mempunyai mata dengan darah yang mengucur di keduanya).

Tak tahan dengan si kembar di depannya, Danil pun jatuh pingsan. Di temukan sejam kemudian oleh orang yang hendak pergi ke pasar. Pukul 4 pagi, di depan rumah si Danil, sudah ramai orang yang menggotong Danil, ada juga yang membawa motornya. Karena penasaran, aku bergegas ke rumah Danil, yang jaraknya hanya beberapa langkah. Sesampainya di rumah Danil, sebuah pemandangan yang terbilang cukup mengerikan, terpampang nyata dihadapanku, tubuh sahabatku seperti membeku, kejang-kejang, sementara mulutnya menganga, matanya melotot.

Ada juga pak Ustadz yang sedang berdoa dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Danil tak henti-hentinya bergumam, yang aku bisa tangkap dari kata-katanya cuma “ampun, ampun, ampun, ampun”. Adzan subuh pun berkumandang, dan sepertinya Danil sudah mulai tenang, dia bisa tertidur lelap. Sementara ibunya, hanya bisa menangis. Mengingat siang kemarin sebelum kejadian aneh itu, dirinya bertengkar dengan sang anak.

Setelah kejadian itu, Danil mendapatkan ceramah 2 jam full dengan segala jenis wejangan, dan nasihat, dari pak Ustadz. Beberapa hari itu, Danil terlihat seperti orang yang berbeda. Atau cuma perasaanku saja. Tapi yang jelas, dia lebih seperti pemurung. Baru sekitar seminggu kemudian, Danil mau bercerita kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Dia pun menyesal, mungkin si kembar itulah orang yang memberi pelajaran kepada Danil, atas sikap membangkangnya terhadap ibunya.

Diapun berjanji akan menjadi lebih baik. Dan, sampai sekarang. Janji tetaplah janji, boro-boro berubah sikap, malahan mungkin sekarang lebih kurang ajar lagi sikapnya terhadap ibunya. Warnet masih jadi tempat favoritnya. Itulah sahabatku, atau lebih tepatnya sahabat kurang ajarku. Mudah-mudahan si kembar kembali dan memberi anak durhaka itu pelajaran yang lebih keras.