Hantu Sarman Si Maling Sakti - 1.01k Views

“Jangan kemana-mana, Le. Ini malam selasa wage” kata nenekku sambil mengunyah kapur sirih hingga merah sekali giginya. Beliau memakai bahasa jawa.
“Ada teman yang minta di kunjungi, Mbok. Sudah lama tidak bertemu”.
“Besok saja”.
“Aku sudah janji e, terlanjur lewat telepon”.
“Ah, kamu ini. Anak muda di beri nasihat orang tua kok gak nurut. Beda dengan anak zaman dulu. Nurut-nurut”.
“Memangnya kenapa sih Mbok?”.
“Angker”.
“Masih sore juga kan gak apa-apa”.
“Jam berapa?”.
“11”.
“Sudah tengah malam ini. Oalah, Le. Ya sudah. Hati-hati. Berdoa dulu”.

Sialnya, motor satu-satunya yang aku canangkan sebagai tunggangan telah raib di bawa adikku dan jam sekian ia belum pulang. Terpaksalah jalan kaki. 1 kilometer berjalan tidak mengapalah. Hitung-hitung sekalian olah raga. Jalanan kampung yang masih banyak gelapnya ditutupi rimbun kelapa, pisang, pohon sawo, kapuk randu, jati, semak-semak bahkan beringin mencuat kesana kemari dari pinggir jalan. Kalaupun ada lampu, kebanyakan cuma bohlam-bohlam orange yang cahayanya terlihat tua.

Suara kodok-kodok bersahut dengan suara tokek. Suara anjing melolong mengiris hati bersahutan dengan suara jangkrik dan burung hantu yang bertengger di atas pohon-pohon. Mereka seperti meledekku, sengaja menakut-nakuti agar aku berjalan kembali pulang. Tapi, ketika aku membayangkan bibir dan gigi nenek yang merah itu, ku pikir malah lebih seram disertai dengan suara tertawa yang terkekeh-kekeh.

Rokok di bungkusnya tinggal 1 batang. Aku rogoh saku. Aduh, naas. Korek ketinggalan. Tidak ada warung buka pada jam sekian. Mini market masih jauh sekali. Aku keburu tidak tahan untuk menghisap tembakau sekedar mengalihkan perhatian dari suasana dusun yang mengerikan. Di ujung pertigaan jalan nampak orang yang duduk sendirian sedang nyantai sambil kebal-kebul menghisap rokok, pakai caping gunung topi sawah. Berbaju hitam dikancingkan, bercelana kombor hitam, nyeker tanpa alas kaki, kakinya bersila. Anehnya kepalanya tak kelihatan. Rokok dimasukkan ke bawah caping dan sebentar kemudian asap hembusan mengelilingi orang itu. Mujur benar, pikirku. Ku hampiri dia.

“Pak, kulo nyambut korek” (Pak, saya pinjam korek).

Dia tidak menjawab.

“Pak, kulo angsal nyambut korek?” (Pak, saya boleh pinjam korek?).

Ku tunggu beberapa hitungan tapi tetap saja orang itu tidak menjawab. Dia masih menyelipkan rokok dan menghembuskan asapnya.

“Pak, ngapunten. Kulo nyambut korek. Korek kulo kantun wonte griyo” (Pak, maaf. Saya pinjam korek. Korek saya tertinggal di rumah) sambil ku sentuh lengannya.
“Dapak korek Le. Endas aku gak nggowo!” (Jangankan korek, nak. Kepala saja aku tidak bawa).

loading...

Dia berkata begitu sambil melepas caping gunungnya, di biarkan jatuh ke tanah. Ngeri. Yang nampak hanya leher yang menyiprat-nyipratkan darah disertai aliran asap ringan. Bau anyir tiba-tiba terasa memukuli hidung. Kaki sudah kaku ingin aku ajak berlari. Hanya mata yang tertegun melotot memandangi sosok mengerikan sekaligus menjijikkan disertai tawa terpatah-patah lewat pembuluh darah besar yang masih memercikan darah dan kuning, mungkin nanah.

“Nggiih” (iya), jawabku pelan dan melangkah mundur beberapa langkah.

Slap. Hilang wujud itu tiba-tiba. Kalau aku berlari, aku pasti terjatuh, kira-kira aku merasakan betis yang kaku dan lutut yang seakan macet. Cara jalanku mirip robot kurang oli. Toh kalau lari, nanti semakin banyak dedemit mengganggu bagaimana. Aku kembali pulang saja.

“Lho, kok cepat?” tanya nenek yang sedang menggelar tikar pandan di lantai.

Aku cuma menggelengkan kepala.

“Kalau selasa wage, biasanya di pertigaan jalan itu ada memedi. Gak punya kepala. Suka ganggu orang baru. Namanya Sarman”.

Aku mengangguk kepala.

“Kamu ditemui Le?”.
“He’em” aku angguk lagi.
“Nah kan, mbok bilang juga apa”.
“Kok mbok tahu dia namanya Sarman?”.
“Tahun 1961, dia dari desa sebelah. Maling yang terkenal sakti. Di tembak, di pukul, di bacok. Tidak kunjung mati. Malah licinnya seperti belut. Buyutmu, Buyut Ronggo yang meringkusnya. Ibarat di lucuti kesaktiannya si Sarman. Baru mati di penggal, kepalanya di pisah. Agar tidak hidup lagi kata Buyutmu. Kepalanya di bawa jauh menyeberangi sungai brantas. Di masukan sumur dan sumur itu di pendam, di penuhi batu gamping, ya di buk pertigaan itu Sarman di bunuh”.
“Walah. Gusti. Terus badannya?”.
“Di bakar”.
“Abu dan tulangnya?”.
“Dibuang ke segara kidul. Sampai sekarang kalau ada pengunjung atau orang baru, Sarman pasti ngajak kenalan. Embuh apa maksudnya”.