Halo semua? Apa kabar? Semoga sehat selalu, ya. Nggak pakai banyak basa-basi lagi langsung saja ke ceritanya. Let’s go to my story! Jadi dalam cerita ini, ada beberapa cerita yang berkaitan dengan keanehan dalam beberapa foto yang pernah di ambil oleh saya sendiri dan keluarga saya.

Bertahun-tahun yang lalu saat mama saya masih kecil. Saat saya belum lahir tentunya, *hehe. Orang tua dari mama saya alias nenek dan kakek saya mengajak anak-anaknya berfoto bersama karena sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri tiba. Tepatnya saat malam takbiran nenek dan kakek saya mengajak anak-anaknya berfoto. Mereka berfoto menggunakan sebuah kamera zadul pada masa itu. Nenek dan kakek saya berdiri di tengah sedangkan ketiga anaknya termasuk mama saya berdiri di samping.

Mama saya tiga bersaudara. Setelah cukup banyak berfoto-foto, kakek saya melihat hasil jepretan dari kamera zadul itu. Jadi kata nenek saya hasil foto itu ada 5 gambar. Pada gambar 1 sampai 4 tidak ada kejanggalan/keanehan pada hasil fotonya. Tetapi setelah melihat hasil foto yang terakhir. Kakek saya langsung terkejut dan hampir melempar kameranya. Ternyata pada foto terakhir itu kakek saya melihat sesosok hantu yang ikut berfoto. Hantu itu tidak memiliki kepala alias hantu kepala buntung.

Di lihat dari bajunya kata kakek saya hantu yang ikut berfoto itu mengenakan baju Belanda zaman dulu. Hantu itu berdiri tepat di samping paman saya yang biasa saya panggil wate. Wate saya pun langsung merinding setelah juga melihat hasil jepretan foto itu. Kakek saya pun langsung menghapus foto terakhir itu.

Pada cerita kedua ini, saya beserta keluarga besar saya sedang bersilaturahim ke rumah teman lama nenek saya yang berada di Bogor. Sebut saja namanya umi N. Rumah umi N ini berada di sebuah komplek yang lumayan mewah dan sepi. Di depan rumahnya terdapat taman umum yang lumayan besar. Di taman itu terdapat kolam ikan, kursi taman yang di tumbuhi tanaman rambat, dan pepohonan yang besar-besar. Taman ini seperti tidak terawat dan terkesan angker.

Saya, Akmal, Ikhsan, dan wate saya mengunjungi taman ini hanya untuk melihat-lihat. Akmal dan Ikhsan menemukan sebuah ranting pohon yang lumayan panjang dan sebuah akar pohon yang lentur. Mereka hendak membuat pancingan dari ranting dan akar pohon itu. Setelah selesai, mereka melemparnya ke kolam ikan dan memegangi pancingan sederhana buatan mereka sambil berharap mendapat seekor ikan dari kolam ikan. Namanya juga anak-anak belum mengerti kalau memancing itu membutuhkan umpan.

Aku bilang dari pada menunggu lama dan sampai kapanpun tidak akan pernah mendapatkan ikan dari pancingan yang mereka buat itu, lebih baik kita berfoto bersama saja sebagai kenang-kenangan. Merekapun setuju dan bersiap duduk di salah satu kursi taman. Wate juga ikut berfoto bersama kami. Selesai berfoto, aku mengecek hasil jepretan menggunakan ponselku. Lagi-lagi pada foto terakhir, aku sangat terkejut melihat penampakan kuntilanak yang ikut berfoto. Kali ini tepat di sampingku.

loading...

Aku langsung memperlihatkan hasil foto itu pada wate, Akmal, dan Ikhsan. Akmal dan Ikhsan sangat terkejut sampai merinding. Tetapi wate bilang mungkin itu hanya cahaya putih saja yang berasal dari pantulan cahaya matahari atau cahaya ponselku. Mungkin wate berkata begitu agar Akmal dan Ikhsan tidak merasa takut. Setelah saya memberitahukan kepada mama dan nenek saya, umi N menanggapi hasil jepretan fotoku itu. Katanya di taman seberang rumahnya itu memang angker. Aku pun langsung menghapus foto itu. Sekian dulu cerita dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf jika ada kesalahan kata. See you next time!