Assalamu’alaikum semua, namaku Zahrah bisa di panggil Ara. Kali ini aku akan menceritakan kisah mistis yang pernah di alami temanku yang bernama Ranita Fitria di rumah nenek dan kakeknya di desa. Aku akan bercerita sebagai Rani. Kejadian ini terjadi sudah lama sekali, beberapa tahun yang lalu saat aku masih kelas 5 SD, dan sampai sekarang pengalaman ini tidak akan pernah aku lupakan.

Liburan sekolah tiba, aku dan keluargaku memilih untuk berlibur ke rumah nenek karena sudah lama kami tidak bertemu dengan nenek dan kakek. Perjalanan menuju rumah nenekku di desa lumayan jauh dan harus melewati sebuah hutan kecil dan juga perbukitan. Sesampainya di rumah nenek, tampak nenek dan kakek sedang bercocok tanam di kebun mereka. Aku langsung turun dari mobil dan menghampiri nenek dan kakek. Kedua orang tua ku juga menghampiri nenek dan kakek di kebun dan bersalaman. Pada siang harinya, ibu membantu nenek memasak di dapur untuk makan siang. Sedangkan aku,ayah,dan kakek berbincang di teras depan rumah sambil duduk dan makan kue buatan nenek.

“Kakek, tadi aku lihat nenek dan kakek sedang bercocok tanam di kebun, aku juga ingin bercocok tanam di kebun, ayo kita ke kebun!” kataku pada kakek.
“Kamu tidak perlu bercocok tanam di kebun, Ran! Pekerjaan berkebunnya sudah kakek dan nenek selesaikan, tetapi kalau kamu mau melihat kebun saja boleh, ayo!” jawab kakek bangkit berdiri.

Aku dan ayah juga berdiri dan kami pun langsung menuju kebun yang terletak di belakang rumah nenek dan kakek. Nenek dan kakek selalu merawat kebun itu dengan baik, sehingga tanamannya tumbuh subur dan lebat. Beberapa tanaman yang di tanam di kebun itu adalah jagung, tomat, dan terong, dan ada juga tanaman buah-buahan seperti pohon mangga, pohon jeruk, dan juga pohon jambu.

Aku senang sekali melihat kebun nenek dan kakek karena sangat segar dan juga indah. Selain tanaman sayuran dan buah-buahan, di kebun itu juga di tanam beberapa jenis bunga, seperti bunga mawar, melati, dan juga bunga khas dari desa itu yang aku tidak tahu namanya. Aku lihat bunga melati milik nenek dan kakek yang di tanam di kebun itu hampir layu. Aku pun berinisiatif untuk menyiraminya.

“Kakek, bolehkah aku siram bunga melati ini?” tanyaku pada kakek yang sedang mengobrol dengan ayah di bawah pohon jeruk.
“Tentu saja boleh, tapi ayahmu perlu membantu karena airnya harus di ambil dari sumur di samping kebun ini!” ujar kakek.
“Bukankah sumur itu sudah tua? Mengapa masih dapat di gunakan?” tanyaku penasaran.
“Tentu saja sumur itu masih bisa di gunakan, masih berlimpah air yang mengalir dari dalam sumur itu!” jawab kakek.
“Oh begitu, baiklah, kek” sahutku sembari mengambil ember untuk mengambil air dari sumur.

Ayah dan aku pun menuju sumur tua itu.

“Rani, kamu tunggu sebentar dulu, ya! Ayah mau mengambil ember yang satu lagi, kamu jangan coba-coba untuk mengambil air sumur itu sendiri apalagi mendekatinya! Karena sangat berbahaya!” kata ayah kepadaku.
“Memangnya mengapa ayah ingin mengambil ember lagi? Kita kan sudah bawa sebuah ember!” jawabku heran.
“Ember itu terlalu kecil, mungkin kita perlu lebih banyak air untuk menyirami tanaman yang lainnya, jadi kita juga perlu lebih banyak ember” jelas ayah.
“Oh, begitu, baiklah, ayah” jawabku sembari duduk di sebuah kursi bambu yang hanya berjarak 6 meter saja dari sumur tua itu.

Ayah pun pergi mengambil sebuah ember lagi. Sebenarnya aku ingin melihat sumur tua itu dari dekat, namun ayah melarangku untuk mendekati sumur tua itu. Tetapi aku sangat penasaran dengan sumur tua itu. Dari dulu aku masih kecil sampai sekarang setiap liburan ke desa tidak pernah melihat sumur tua ini dari dekat. Jadi aku berpikir, mengingat ayah belum datang, lebih baik aku cepat-cepat melihat sumurnya lebih dekat dan kembali duduk di kursi bambu.

loading...

Aku pun segera mendekati sumur tua itu dan melongokan kepalaku kedalam sumur. Betapa terkejutnya aku setelah menengok ke dalam sumur, aku melihat sebuah kepala dengan wajah hancur berdarah-darah dan berambut panjang muncul di dalam sumur itu. Aku pun mendadak pingsan tak sadarkan diri.

Setelah aku tersadarkan, ternyata aku sudah berada di kamar nenek. Di sampingku ada ibu, ayah, nenek, dan kakekku. Mereka sangat khawatir padaku mengapa aku pingsan. Aku menceritakan pada mereka apa yang aku lihat di sumur tadi. Kakek bercerita padaku tentang keangkeran sumur tua itu.

“Kakek belum pernah menceritakan tentang keangkeran sumur ini padamu sebelumnya, karena kakek khawatir kamu akan takut datang ke rumah ini lagi, makanya tadi kakek bilang harus di temani oleh ayahmu, bukan karena hal itu saja tetapi juga agar aman!” ujar kakek.
“Oh, begitu, kek, tetapi sebenarnya apa cerita di balik sumur tua itu?” tanyaku pada kakek.

Kakek pun mulai bercerita.

“Dahulu di rumah yang sekarang kakek dan nenek tempati ini, ada seorang ibu dan seorang anak remajanya yang tinggal di rumah ini sebelum kakek dan nenek tinggal di sini, mereka hanya mengontrak di rumah ini. Ibu tersebut sangat miskin dan si anak remaja ini sangatlah rajin membantu pekerjaan ibunya setiap hari, pekerjaan yang paling sering ia lakukan adalah mengambil air dari sumur tua itu, anak ibu tersebut bernama Vina, setiap hari Vina selalu berhati-hati dalam mengambil air di sumur itu dan tidak terjadi kecelakaan apapun, akan tetapi pada suatu hari saat sedang terjadi hujan deras mengguyur desa ini, ibu Vina sedang sakit dan ia harus minum obat, tetapi mereka kehabisan air dan Vina mengambil air dari sumur itu, karena gelap dan air di sumur itu tidak terlihat, Vina harus sedikit lebih dekat dengan sumur, dan saat sedang menarik katrol sumur yang sangat berat, Vina tidak kuat untuk mengangkatnya dan akhirnya terpeleset ke dalam sumur dan kepalanya terbentur dinding sumur, ibu Vina merasa cemas mengapa Vina belum kembali dari sumur, akhirnya ibu Vina memeriksa ke sumur dan betapa terkejutnya ia saat melihat anaknya telah meninggal dalam keadaan mengenaskan, jenazah Vina pun segera di kebumikan keesokan harinya, dan hingga saat ini mungkin arwah Vina masih menghantui sumur tua itu” cerita kakek membuatku melongo.

“Apa kakek serius? kakek tahu kisah ini dari mana?” tanyaku tidak percaya.
“Kakek di ceritakan oleh pemilik rumah ini sebelum kakek dan nenek tinggal di sini, dan pemilik rumah ini di ceritakan oleh ibu Vina dan kemudian setelah kejadian itu ibu Vina pindah rumah dan tidak mengontrak di rumah ini lagi” jelas kakek.
“Tetapi, setelah kakek dan nenek tahu kisah sebenarnya, mengapa kakek dan nenek tetap mau tinggal di rumah yang menyeramkan ini? Dan bagaimana dengan air sumur itu? Bukankah airnya sudah tercemar darah? Mengapa sampai sekarang airnya masih dapat di gunakan?” tanyaku tambah penasaran.
“Iya habis mau tinggal di mana lagi? Kakek dan nenek membeli rumah ini dengan harga yang murah, dan air sumurnya hanya kakek dan nenek gunakan untuk mengairi tanaman di kebun, kalau untuk minum kakek dan nenek mengambil dari sumur umum yang airnya lebih bersih dan jernih yang berada di tengah desa” jelas kakek.
“Oh begitu, sekarang aku tidak mau lagi mendekati sumur tua itu, ah!” jawabku.

3 hari kemudian, aku dan kedua orang tuaku segera pulang ke kota karena aku takut berlama-lama di rumah nenek dan kakek. Sekian cerita dariku. Kurang lebihnya mohon maaf jika ada kesalahan kata.