Korban Kali Angke 1740 - 1.15k Views

Sekian tahun menjadi mualaf, tentu belum cukup mumpuni untuk menyandingkan ilmu agama Islam di banding dengan santri-santri pesantren tempatku menimba ilmu agama. Dulu, 20 tahun silam saat aku masih kelas 3 SD, kakekku seorang Rsi Pedanda melihat telapak tanganku dengan amat cermat.

“Kamu ini Melik”.
“Melik itu apa, Pekak (kakek, bahasa Bali)?”.
“Di senangi bangsa halus, termasuk para Dewata”.
“Kenapa Pekak tahu?”.
“Ida Bathara Shambu, ada tanda trisula di telapak tangan kananmu”.
“Untuk apa?”.
“Tunggu sampai kamu dewasa”.

Perkataan almarhum Pekak atau kakek itu sempat terlupakan. Aku kira toh aku sudah mualaf, mungkin penggambaran penglihatan Pekak sudah tidak berlaku, walau aku tahu bahwa Pekak sebagai Rsi Pedanda adalah orang yang Sidik Paningal. Penglihatan sakti. Melebihi orang-orang lain.

Kini, walau aku tergolong santri baru di pesantren. Romo Kyai selalu menaruh perhatian lebih padaku. Mengajari secara rahasia ilmu-ilmu tinggi yang bahkan tidak diberikan pada senior. Itu cukup membuat iri para santri-santri tua yang sudah lama tinggal di pesantren di banding aku yang dijuluki Santri Kalong. Santri yang tidak selalu menetap di pesantren. Lebih sering pergi-pulang. Maklumlah, sedikit banyak aku mewarisi cara dan ilmu Pekak untuk mengobati orang yang datang ke rumah dan membutuhkan bantuan. Belum lagi, ayah sibuk bekerja. Adik-adikku masih sekolah. Hingga harus aku yang turut menjaga rumah.

“Ngger, anakku. Kunjungilah Jakarta”.
“Ada keperluan apa sampai Romo Kyai mengutus saya mengunjungi Jakarta? Saya tidak ada saudara di sana yang bisa saya mintai tempat menginap”.
“Kamu punya teman seorang polisi? Dia berasal dari Gianyar”.

Oh, aku baru ingat. Bli Nyoman.

“Romo tahu?”.
“Mintalah bantuan dia. Insha Allah akan dibantu”.
“Tapi, ada perlu apa ya Romo?”.
“Tidak bisa cerita. Menginaplah seminggu. Jika tidak ada uang saku, akan Romo beri uang saku. Cukup, insha Allah”.

Dan jujur saja. Seingatku aku hanya memiliki uang 50 ribu rupiah. Guna ongkos pulang naik bus dari pesantren. Romo tersenyum, merogoh kocek dan mengeluarkan segepok uang. 2 juta.

“Banyak sekali Romo? Ini terlalu banyak”.
“Ini cukup. Tidak akan kurang. Lebih hanya sedikit. Romo yang mengutus kamu. Manut saja Ngger”.
“Inggih Romo”.

Aku sungkem pada Romo yang duduk bersila. Mencium punggung telapak tangan Romo yang bersandar di lututnya. Keberangkatanku digelayuti tanda tanya besar. Kenapa orang-orang linuwih seperti Pekak dan Romo Kyai selalu memberi tugas dengan teka-teki? Kenapa tidak langsung saja dikatakan dengan gamblang? Bli Nyoman menjemputku di Stasiun Pasar Senen. Tumben katanya.

“Entahlah Bli. Romo Kyai yang beri tugas”.

Rumah yang bernuansa bali. Padmasana yang megah. Harum dupa cendana tiga kali sehari, canangsari yang elok. Mengingatkanku pada Pekak. Andai Pekak masih hidup. Tidak ada hal penting yang aku lakukan di Jakarta seperti kesibukan orang-orang yang subuh-subuh berangkat kerja menanti kopaja atau busway. Lepas isya baru sampai rumah. Aku hanya di rumah Bli Nyoman, berkeliling seperti kucing rumahan dan melangkah ngeluyur mengikuti kata hati. Agar tak bosan menurutku.

Menyasar kesana kemari. Harap-harap pula menemukan sesuatu yang Romo Kyai maksud. Entah apa itu. Hari ke-5. Jam 7 malam baru saja aku tiba di rumah Bli Nyoman, sedangkan si empunya rumah sudah lebih dulu sampai rumah setelah bekerja.

“Dari mana Raka?”.
“Melali gen Bli. (Jalan-jalan saja Bli)”.
“Sampai mana? Hati-hati kesasar lho, Ka. Maaf ya Bli gak bisa menemani”.
“Entah. Kebon jeruk mungkin. Sudah kesasar tadi. Hahaha. Gak apa-apalah Bli. Bli sibuk pula kan. Makan yok ah, lapar”.

Mie Aceh menjadi jujukan kami.

“Kok pucet cai (kamu)? Demam?”.
“Masa? Enggak, baik-baik saja ini Bli. Banget?”.
“Rada”.
“Gak enak pikiran saja si tiba-tiba. Pingin cepat balik Bli”.
“Makan dulu eh. Terus buruan balik”.

Selesai makan, kami berjalan pulang. Bli Nyoman bukanlah orang Melik. Tidak tahu apa-apa tentang alam seberang. Sosok di bawah pohon rambutan itu membawa nisan di tangan kanannya. Andri. Nama itu yang terukir di sana. Rambutnya acak-acakan. Ususnya terburai keluar perut. Darah merata di sekujur dada dan mengucur menuruni kaki. “Tolong aku Bang, tolong”.

“Kok bau amis ya?” tanya Bli Nyoman.
“Ada jalan lain gak?” aku menunduk saja.
“Ngudiang (kenapa)?”.
“Ayo ada?”.
“Kenapa Ka?”.
“Hantu, hantu”.

Memang dasar si Nyoman adalah polisi yang penakut terhadap hantu. Langsung balik kanan dia mengarah pada gang sempit sebelah rumah kost-kostan pegawai BRI.

“Kok gue ngerasa banyak yang ngikutin sih Ka. Elu bawa apaan sih?”
“Bawa apaan? Setan? Lah kurang hobby kali sampai bawa setan. Tyang (aku) juga merinding lah Bli. Entar numpang tidur di kamar Bli saja boleh kan?”.
“Tidur saja. Sekalian nemanin gue. Ngeri”.

Jam 11 malam aku menata pikiran agar lekas tertidur di samping bayangan-bayangan horor tadi sepulang dari beli makan. Bli Nyoman sudah duluan ngorok memeluk guling. Tuhan, semoga aman, semoga aman, semoga aman, batinku sambil memejamkan mata. Entah di mulai pada pukul berapa saat badanku mulai kaku. Aku sadar. Tapi gerakan tangan dan ocehan mulut diluar sadar kendali.

“Seberangkan kami ke Nirwana. Sempurnakan kami. Kami sengsara! Seberangkan kami ke Nirwana!”.

Dari jendela besar kamar Bli Nyoman yang tersingkap kain gordennya, dapat aku lirik orang-orang beraut Cina dengan rambut ada yang di gelung, ada yang kuncir bagi yang laki-laki mirip film Wong Fei Hung. Baju cokelat kumal dan lusuh banyak bekas darah. Laki-laki, perempuan menggendong anak. Mungkin ada 12 orang berjajar 3 sap sambil melambai-lambaikan tangannya. Di dahi mereka tertulis satu huruf Cina merah. Aku kira itu mungkin tanda marga atau semacamnya.

“Aku bukan umat Budha. Aku tidak bisa. Aku bukan umat Budha” batinku menjawab mereka.

Gigiku gemeretak. Dalam penglihatanku, muncul cahaya putih kemilau menembus awan dan langsung masuk ke tubuh. Tanganku membentuk mudra atau sikap jari dan tangan yang aku tidak tahu. Mulutku mengoceh bahasa Cina.

“Raka! Raka! Kamu kenapa? Bangun!” Bli Nyoman terbangun.

Aku dapat lihat mukanya penuh ketakutan sambil komat-kamit baca doa agama Hindu. Tapi aku tidak khawatir karena aku pernah berpesan ketika awal aku datang ke rumahnya. Jika sesuatu terjadi padaku dengan gelagat aneh pada tidurku, tolong jangan paksa membangunkan aku. Dia pintar. Tidak membangunkan aku tapi malah merekamnya lewat handphone. Guan Shi Yin Phu Sa.

Sosok Dewi Guan Yin atau Dewi Kwan Im bergaun putih bersemu biru dan berseruak cahaya kuning emas sedang merasuki tubuhku. Kenapa bisa? Aku sendiri bingung kenapa bisa begitu. Ini bukan sandiwara atau sesuatu yang aku buat-buat. Muncul begitu saja tanpa aba-aba.

“Romo! Romo!” batinku memanggil-manggil Romo Kyai.

Gerakan tangan seperti menebar sesuatu. Arwah-arwah itu di jemput cahaya kemilau bercampur kabut putih bersih dari langit dan menghilang. Aku ingat senyum mereka sebelum menghilang, bahkan mereka sempat mengucapkan terima kasih sambil beranjali namaskara mencakupkan kedua tangan. Badanku seketika lemas. Bli Nyoman membangunkan aku dan disodori segelas air putih dingin.

“Haih, lemas sekali aku”.
“Kamu lihat ini, aku rekam”.

loading...

Memang betul aku mengoceh bahasa Cina. Padahal aku sama sekali tidak tahu tentang kosakata bahasa Cina. Bau harum yang memenuhi ruangan. Wangi yang segar dan belum pernah aku tahu sebelumnya.

“Ada banyak orang cina meminta tolong diseberangkan ke Nirwana Bli. Dari mana mereka? Aku tidak sempat tanya. Sudah keburu terasuki sosok yang sangat mirip dengan Dewi Guan Yin di lukisan-lukisan”.
“Kali Angke. Mungkin Kali Angke. Kamu lewat sana tadi?”.
“Entah. Aku tidak tahu Bli. Aku tidak hapal wilayah Jakarta”.

Bli Nyoman mulai berselancar di mesin pencari dalam handphonenya.

“Geger Pecinan. 10 ribu etnis cina di bantai. Tahun 1740” katanya sambil menatapkan layar handphone kepadaku.
“Kamu jadi Tang Sin? Kok bisa kerauhan (kedatangan-kerasukan) Ida Betari?”.
“Aku tidak tahu Bli. Toh aku sudah mualaf toh sejak 4 tahunan lalu. Sepertinya dalam islam tidak ada hal tentang Tang Sin atau kerauhan Dewata”.

Bli Nyoman juga bingung. Cepat-cepat ia sembahyang dengan 3 batang dupa. Menghormati Ida Betari katanya. 2 hari kemudian aku kembali ke kota B di Jawa Timur. Berpamitan pada Bli Nyoman yang masih bingung dengan kejadian itu.
Aku meneruskan perjalanan menuju pesantren.

“Sudah sempurna. Andai Romo ini masih muda, tentu Romo tidak akan merepotkan kamu”.
“Tapi kenapa Romo tidak bercerita sebelumnya? Mengapa juga harus Dewi Kwan Im?”.
“Kalau Romo cerita, mungkin kamu tidak akan mau. Dewi Kwan Im sudah dititahkan oleh Tuhan. Tidak ada yang lain. Jalan ada padanya. Sudah kehendak Gusti”.

Aku cuma menangguk-angguk saja tanda sudah paham.

“Ini pengalaman baru, Romo. Oh iya, uang yang Romo kasih tinggal 230 ribu. Saya kembalikan karena saya sudah selesaikan tugas dari Romo. Mungkin saya terlalu boros” ku rogoh kocek celana jeans dan menyodorkan pada Romo.
“Sudah Romo hitung sebelumnya. Ambil saja Ngger. 150 ribu buat beli rokok sana dan ongkos kembali ke rumah. 80 ribu kamu berikan pada pengemis wanita yang menuntun 3 orang anak kecil. 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Di perjalanan pulang nanti kamu akan bertemu mereka. 80 ribu itu hak mereka. Jangan kamu ambil”.
“Inggih Romo. Ngestuaken dhawuh Romo. (Iya Romo. Siap melaksanakan perintah Romo)”.
“Hargailah orang-orang lain seperti kamu menghargai saudara-saudara dan keluargamu sendiri, Ngger. Agama itu cuma baju. Dalamnya tetap sama manusianya. Sama-sama tinitah (terutus) di alam dunia”.
“Inggih Romo” kataku sambil sungkem pada Romo.

Setelah makan di dapur, makanan sudah disiapkan dengan sangat baik oleh Ibu Nyai. Mandi, aku mun pamit pulang. Di tengah perjalanan, bus yang aku tumpangi mogok. Bus jadul tanpa AC membuat aku memaksakan langkah keluar menunggu bus selanjutnya yang menyusul penumpang-penumpang terlantar.

“Nak, belum makan nak. Kasihani nak” ibu-ibu setengah baya menepuk lenganku serta menadahkan telapak tangannya yang terlihat kusam dan kasar. Tangan kirinya menggandeng tangan seorang anak perempuan kecil yang ingusnya meleleh ke bibirnya. Sroot, ingus itu naik lagi. Leleh lagi. 2 anak laki-laki yang mungkin kakak-kakaknya membawa bungkusan-bungkusan dalam tas kresek yang entah apa isinya, mungkin pakaian-pakaian. Aku ingat pesan Romo. Uang 80 ribu itu ku berikan padanya. Ibu itu berkaca-kaca. Sambil melihati uang 50 ribu, 2 lembar uang 10 ribuan dan 2 lembar uang 5 ribuan.

“Anak bagus, kulo (saya) tidak pernah di beri uang selain seribuan atau dua ribuan. Di beri 500 rupiah saja sudah membuat kulo bungah (senang). Jika bukan karena anak-anak yang belum makan sejak kemarin, kulo sungkan menerima”.
“Tidak apa-apa, Bu. Itu titipan dari Romo Kyai saya. Maaf, hanya itu Bu. Tidak seberapa”.
“Nggih anak bagus. Matur nuwun (terima kasih)” ibu itu berbalik badan di ikuti anak-anaknya.

Bus susulan belum juga datang. Ibu itu menepi ke penjual nasi pecel yang letaknya tidak terpaut jauh dari tempatku duduk di trotoar sambil menghisap rokok. Dengan tergesa-gesa ibu itu kembali menghampiriku.

“Kulo supe nak, kulo supe. (Saya lupa nak, saya lupa) 3 hari yang lalu ada orang berpakaian warna kemerahan memberikan ini pada ibu. Sepertinya ia biksu budha. Katanya suruh memberikan pada pemuda yang bertindik di telinga kiri dan mempunyai bekas luka di dahi. Tingginya 4 hasta. Berkulit merah. Kulo rasa kok cocok sekali dengan Anak bagus. Ibu berikan ini pada anak bagus”.
“Apa ini Bu?”.
“Ibu juga tidak tahu. Di dalam bungkusan kain merah itu kulo tidak berani membuka. Karena kata biksu itu saya di larang membukanya”.

Aku bingung dan menerimanya. Setelah aku berterima kasih, ibu itu menyusul anak-anaknya yang sedang makan. Bus susulan datang dan segera naik, duduk di bangku agak depan. Penasaran. Aku buka bungkusan kain merah yang besarnya cuma setelapak tangan. Di dalamnya ada sesuatu yang keras. Patung Guan Yin berwarna perak. Aku termangu lagi. Wallahu a’lam