Assalamualaikum sobat KCH smuanya, maaf ya aku sudah lama gak ngirim cerita, maaf banget hehe. Habisnya aku belakangan ini sibuk banget. Oh iya supaya lebih akrab lagi, perkenalkan aku Bismi dari Aceh, ini adalah ceritaku yang ke-91 loh. Selamat datang ya bagi member-member yang baru. Oh iya aku kelas 12 SMA sekarang, terakhir aku menulis cerita di blog ini yaitu saat masih kelas 11 SMA.

Oke langsung ke ceritanya ya, dari pada entar yang baca malah marah, bismi nih lama benar cerita-ceritanya heheh. Aku masih ingat kejadian yang aku alami saat masih menduduki kelas 9 SMP. SMP-ku dulu memiliki 4 lantai, lantai 1 terdapat ruang guru, lab, mushola, serta kelas 7. Lantai 2 terdapat kantin, gudang, serta kelas 8 dan lantai 3 yaitu kelasku yaitu kelas 9 dan ruang olahraga serta seni.

loading...

Nah sedangkan lantai 4 dibiarkan kosong begitu saja. Aneh kan? Aku pun merasa demikian. Hingga pada hari itu, aku lupa hari apa hahhaha sudah tua loh akunya sudah 17 tahun juga hahah. Nah tanpa sengaja saat lagi khusyuknya belajar, aku seperti mendengar suara tangisan dari lantai 4. Tangisannya itu sangat menyeramkan, bukan tangisan kuntilanak seperti yang ku dengar dulu-dulu.

Tapi tangisan ini tangisan yang memiliki suatu makna, aku bahkan tak tahu maknanya apa. Nah pada jam istirahat, aku memberanikan diri untuk menaiki lantai 4. Tangga menuju lantai 4 kusam sekali, berarti tak pernah dibersihkan. Aku melangkah dan terus melangkah, hingga akhirnya aku sampai di depan pintu sebuah ruangan. Suasana mendung dan hujan rintik-rintik membuat bulu kudukku merinding.

Aku membuka pintu itu yang ternyata tak terkunci. Hujan mulai deras, aku sendiri menatapi satu bangku kosong di dalam ruangan ini. Apa-apaan ini, hanya satu bangku kosong di dalam ruangan? Lantas suara tangisan tadi itu apa? Pikirku. Saat aku membalikan badan ingin kembali ke kelasku, eh tiba-tiba aku mendengar bangku itu seperti di geser. Aku lantas membalikan lagi badanku, dan alangkah terkejutnya aku, ada seaosok wanita sebayaku yang sedang duduk di bangku itu.

Dia tersenyum lebar sambil tertawa bak nenek lampir. Aku terjatuh, tertunduk, aku takut, entah mengapa. Aku sangat takut mendengar tertawa bak nenek lampir, aku bangun dan pergi secepat yang aku bisa. Sumpah aku sangat ketakutan, bahkan saat kepergianku, dia terus menatapi diriku dari atas tangga sambil tertawa tak henti-hentinya. Saat ku menuruni tangga terakhir lantai 4, kakiku seperti ada yang menariknya hingga akhirnya aku terguling-guling ke bawah tangga.

Mulai hari itu aku berjanji tak akan menaiki lantai 4 itu lagi, dan kejadian aku ini, aku tak menceritakannya kepada siapapun. Cukup kalian saja yang tahu ya ok. Ku dengar-dengar lantai 4 itu sudah tak ada, dan kudengar pula SMP-ku itu sudah di bedah dan di buat menjadi sekolah yang lebih baru. Cukup sekian ceritaku, maaf ya jika ceritaku tak bagus, hehe wasaalamualaikum.

Facebook: Bismi Jasein
Whatsapp: 0813 7040 0622