Seorang Ibu yang Mencari Otaknya - 446 Views

Jumat, 25 April 2008, di perlintasan rel Desa Telaga Murni blok E23 telah di temukan mayat berjenis kelamin perempuan hancur terlindas kereta api yang melintas dari arah barat. Di duga perempuan ini bunuh diri setelah bertemu dengan temannya yang dia temui di pertigaan jalan pemisah blok E23 dan E22. Banyak berita-berita menyebar dengan simpang siur tidak jelas terkait motif bunuh diri sang korban.

Ada sebagian warga yang berkata, “bunuh diri karena hamil di luar nikah”
Ada yang berkata, “bunuh diri karena hamil tapi nggak ada isinya”.
Ada juga yang berkata, “bunuh diri karena di suruh temannya”.

loading...

Wah sepertinya ini berita yang kacau. Peristiwa ini terjadi saat aku menginjak bangku SLTP, mungkin lebih tepatnya menduduki bangku. *Hehe. Biasanya selepas sepulang dari sekolah, aku duduk santai di tepi kolam ikan yang terletak di samping rel kereta api. Rumahku dekat dengan perlintasan rel kereta api, hanya di batasi oleh jalan perumahan dan kolam ikan milik salah satu tetanggaku sehingga aku senang jika mengisi waktu luangku untuk melihat ikan-ikan dan kereta yang melintas. Kurang kerjaan sih, tetapi setiap manusia juga punya caranya masing-masing untuk merehatkan pikiran.

Hari itu, awan mendung. Aku tidak tertarik untuk duduk di tepi kolam depan rumahku. Aku di dalam rumah melihat ibuku yang sedang membuat kue. Waktu itu, ibuku adalah pengusaha kue. Dia memiliki banyak karyawan untuk menjual kue buatannya. Aku belum paham karena saat itu aku belum berpikir tentang pekerjaan. Lama kelamaan aku memahami bahwa menjadi pengusaha sangat menyenangkan.

Waktu telah menunjukkan pukul 13:30 WIB, aku masih memperhatikan gerakan lincah tangan ibuku memotong, menggiling, serta mengukus kue-kue itu. Tak lama kemudian terdengar suara aneh dari luar. Suaranya cukup keras dan memekakan telinga. Membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi ngilu.

“*Pletak! Aaa”.
“Mama Fatir. Mama Fatir. Mama Fatir”.

Aku dengar teriakan Mamanya Indra, tetanggaku yang berlari seperti orang kesetanan ke rumah Mama Fatir, tetangga sebelah kiri rumahku. Aku dan ibuku tak menghiraukan teriakannya karena hampir setiap hari dia seperti itu. Sekitar pukul 13:40 WIB, bau anyir darah tersebar sampai masuk ke dalam rumah membuat siapa saja yang mencium baunya heran dan bergegas keluar rumah. mamahku keluar rumah, aku mengikuti di belakangnya.

“Put, nyium bau amis enggak?” kata mamahku berkata kepada mamanya Puput, tetangga samping kananku.
“Iya, amis banget ya, Bu? Ada yang tabrakan kereta kayaknya”.
“Mau ngelihat ke sana?”.
“Ayo lihat. Temanin ya, Bu?”.
“Ayo, Bu”.

Akhirnya aku, mamaku dan mamanya Puput menuju ke perlintasan rel kereta api. Aku yang mengikuti di paling belakang hanya mendengar mama Puput bicara, “iya, Bu ada orang kelindas. Ibu-ibu kayaknya”. Aku langsung merinding mendengarnya. Entah apa yang di rasakan mamaku dan mama Puput, mereka malah nekat mendekati mayat yang hancur tersebut.

Tak lama kemudian, bapaknya Laila dan Pak RT 08 juga menghampiri sang mayat. Mereka bercakap-cakap mengenai mayat tersebut. Aku tak mendengarkannya karena sibuk foto. Maklum, waktu itu aku masih labil. *Hehe. 15 menit kemudian, para warga berkumpul di lokasi kejadian, di susul polisi yang datang agak telat.

Mayat tersebut di pindahkan keluar jalur perlintasan kereta agar tidak menghalangi beroperasinya jadwal keberangkatan kereta. Aku duduk di tepi kolam ikan, kulihat ada seorang bapak membawa kresek hitam kemudian memunguti sesuatu. Aku melihat ada kerudung berlumuran darah di dekat bapak pemungut itu. Sepertinya itu adalah kerudung si mayat.

“Pak lagi ngapain” seorang ibu bertanya kepada bapak pemungut itu.
“Lagi mungut otak, Bu. Kasihan kalau nggak di kumpulin”.
“Oh, iya. Di pungut saja, Pak”.

Aku baru tahu bahwa yang di pungut tersebut adalah otak yang hancur berceceran. Aku jadi ngeri melihatnya. Otaknya saja berceceran, mungkin bagian kepalanya pecah. Ah, aku jadi tambah ngeri. Malam harinya, aku di rumah sendiri seperti biasanya. Orang tuaku bekerja di konter ponsel dan sering pulang sekitar pukul 22:30 WIB. Aku benar-benar tidak berani keluar rumah, begitu pun tetanggaku yang lain.

Kompleks yang biasanya ramai menjadi sepi sunyi. Sepertinya kejadian tadi siang sangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang. Aku sedang tiduran di kasur, kudengar ada yang mengetuk pagar rumah. “*Tok! Tok! Tok!” suara ketukan tersebut terdengar setiap kereta telah lewat. Jam dinding menunjukkan pukul 22:10 WIB. Aku tak merasakan hal yang aneh, karena setiap malam orang tuaku pulang dari konter jam segitu. Aku segera membukakan pintu. Kulihat ada seorang ibu muda tersenyum kepadaku, aku tak mengenalnya. Dia berkata kepadaku.

“Neng, bantuin ibu cari otaknya *dong”.

Aku mencoba berbaik sangka, mungkin ibu ini salah ngomong. Aku mencoba mengoreksi pembicaraannya yang mungkin sedikit melantur.

“Cari anaknya ibu?”.
“Otak, neng“.

Aku tercekat, badanku panas dingin dan tak bisa di gerakan. Ibu muda tersebut berubah menjadi sosok menyeramkan, aku memejamkan mataku karena tak sanggup melihatnya. Aku terus berdoa dalam hati berharap makhluk itu pergi dari hadapanku. Namun, aku merasakan hawa dingin yang menusuk. aku masih belum berani membuka mata. Suara klakson keras kereta api berbunyi, hawa malam ini berubah normal kembali. Setelah itu, kudengar suara motor lewat. Ibu dan ayahku sudah pulang kerja.

Saat mereka sudah agak santai, aku menceritakan kejadian yang baru saja kualami beberapa jam yang lalu. Orang tuaku sedikit tak percaya, malah mengira aku salah dengar. Akhirnya sejak kejadian itu, aku selalu ikut orang tuaku ke konter. Sekian kisah dariku. Jangan lupa follow media sosialku ya.

Judul: Seorang Ibu yang Mencari Otaknya
Oleh: Ridha Eka Rahayu
Instagram: @ridhaekarahayu
Facebook: Ridha Eka R.