Rumah Baru Si Pembawa Maut - 1.37k Views

Awalnya aku hanya bingung dengan yang di sebut “Pemberian” dari Tuhan, dari kecil aku sudah dapat melihat mereka yang kalian sebut dengan hantu. Hingga aku besar, aku terbiasa melihat mereka, mendengar mereka, bahkan katanya sewaktu aku kecil aku mempunyai teman yang bernama jimmy. Hingga umurku yang sekarang sudah 20 tahun, aku masih melihat mereka, merasakan mereka, dan juga mendengar mereka.

Namaku Adii, Adii wijaya laki laki berumur 20 tahun dan aku tinggal di Medan. Karena tuntutan dari pekerjaan orang tua aku selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi sekarang aku menetap di Medan. Pada malam itu keluargaku merencanakan untuk berpindah rumah, dan akupun setuju karena sudah tidak betah dengan keadaan rumahku yang sebelumnya.

Aku kira dengan berpindah rumah, maka “mereka” akan tetap di rumah lamaku, tapi kenyataan tidak. Pagi itu aku dan keluarga sudah menemukan rumah baru kami di perumahan Asam Kumbang, Medan. Setelah itu kami pun mengurus berkas rumah dan sebagainya. Di sinilah kejadian ini bermula, karena aku ada urusan pada saat itu aku memutuskan untuk hanya membantu mengangkat barang dari rumah lama dan langsung pergi tanpa masuk kedalam rumah terlebih dahulu.

Hari esoknya aku datang kerumah untuk bersih bersih, dan begitu aku sampai aku langsung di sambut dengan dia yang tinggi besar di depan rumahku, dan dia berkata “apa lihat-lihat” karena aku geram dan kesal, aku ludahin saja. Sambil berkata “jangan sombong” lalu aku mengambil barang bawaanku masuk, dan tibanya saat masuk, aku mengira bahwa hanya ada 1 makhluk saja, tapi aku salah.

Aku masuk ke kamarku, kamarku dengan WC tergabung dalam kamar yang lumayan luas beserta jendela kaca besar yang setengah badan. Jadi kebayang kan kalau melihat keluar, pasti kelihatan jelas. Setelah aku beres-beres di kamarku, pintuku terbuka dan aku melihat ada anak hitam lari. Karena aku sudah tahu aku bilang saja “jangan lari-lari nanti jatuh”.

loading...

Dan tetap saja yang pastinya anak kecil tersebut tidak mau mendengarkan dan selalu saja lari ke sana ke sini. Setelah itu aku memutuskan untuk menginap di rumah ini. Satu hari dan dua hari semuanya sama saja, anak kecil yang berlari dan dia yang besar di luar sana. Setelah malam, jam 01.14 WIB aku mendengar ada yang mengetuk pintuku, aku sudah paham betul kelakuan anak kecil jam segini. Aku mengecek ponsel dan ternyata jam 01.14 WIB. Setelah itu aku bilang “dik sudah dong mainnya, aku capek, mau tidur” setelah itu dia berlari entah kemana. Akhirnya aku bisa tidur enak pikirku.

Tak lama setelah itu, ada yang kembali mengetuk, tapi kali ini bukan pintu, melainkan jendela, iya jendela yang sangat besar, karena baru 3 hari tinggal di rumah ini, kami belum sempat membeli kain penutup jendela. Jadi tempat tidurku itu disamping jendela. Setelah ada yang mengetuk aku kembali bilang sambil mata tertutup “dik berisik sudah malam, sana main di tetangga saja, banyak teman juga kan di sana”. Tapi dia tidak berhenti. Karena begitu capek aku tidak mempedulikannya, dan tidak membuka mata. Setelah mengetuk agak lama, dia pun berkata “tolong” dengan suara tangisan merdunya. “Waduh, mampus, siapa lagi, aduh” dalam hatiku.

“Tolong saya, tolong”.
“Sudah malam mbak, lontong gak ada yang jual”.
“Tolong”.

Dia mengetuk dengan sangat kuat. Karena reflek aku membuka mataku dan benar saja, dia di balik jendela, dengan badan yang pucat, kulit seperti warna semen, rambut panjang, sangat panjang menutupi wajahnya. Karena kaget aku bilang “asu tenan koe mbak, bikin kaget saja”.

Dia pun tertawa dan menembus jendela kamarku dan dia sekarang sudah di kamarku. Aku pun panik, dan aku kembali menanyakan ” kamu siapa? Ngapain ganggu, sana sana pergi”. Dia hanya diam dan pelan-pelan datang menghampiri. Aku diam, dan dia seperti menunjukkan memori masa lalu dia. Jadi dulu dia merupakan wanita yang berumur 32 tahun tapi belum menikah, sebelum rumah ini di bangun, dia sudah ada disini dan dia punya rumah, setelah itu dia bunuh diri dengan cara gantung diri karena pria yang sudah bertunangan dengannya di kabarkan sudah menghamili wanita lain.

Setelah itu aku melihat bayangan bahwa dia tinggal di pohon belakang dekat dengan kamar mandi belakang, pohon itu tidak terlalu besar, layaknya pohon remaja lainnya. Tapi ternyata sudah di tebang oleh ayahku karena mengganggu kolam ikan di belakang. Dia pun menanyakan akan tinggal dimana karena dia sudah lama duluan tinggal di sini. Ya karena aku gak mau ribet, aku bilang saja tinggal di kamar mandiku, asal kalau aku mandi jangan ngintip dan harus pergi dulu. Dan dia pun menyetujuinya.

Lamban laun, hari demi hari, mereka yang tinggal di rumah lamaku kembali mengikutiku dan mereka menetap. Aku mengiyakan asalkan tidak mengganggu. Tapi, ternyata setelah beberapa hari aku tinggal di rumah ini, masih banyak misteri disini. Pantas saja harga di rumah ini murah-murah semua. Sudah gitu sepi banget kayak kuburan. Atau jangan-jangan dulunya ini kuburan? Sampai cerita ini aku tulis kan di baca oleh banyak orang. Mereka tetap di rumahku, dan mbak yang bunuh diri masih di kamar mandiku dengan nyanyiannya yang merdu dan menginginkan 1 anak, hanya 1 anak. Apakah anda berminat? Mari berteman.

Whatsapp: 082167693546