Perjalanan 2 Hari 2 Malam - 1.9k Views

Halo, sudah baca ceritaku sebelumnya? Kalau belum, baca dulu nih “Selfie dengan Kuntilanak”. Kali ini aku mau cerita dengan sedikit berbau sejarah. Pernah dengar kerusuhan yang sempat terjadi di Sambas, Kalimantan Barat antara Melayu Sambas dan Madura? Kalau belum (singkat cerita), dulu pernah ada kerusuhan antara dua suku tersebut yang mengakibatkan banyak yang tewas. Tewas dengan cara yang tragis, yaitu dengan pemenggalan kepala dan di arak keliling kampung. Saat ini terjadi, aku masih belum mengenal siapa aku, namun salah satu temanku yang menjadi saksi mata bercerita akan kejadian tersebut.

Sekitar 1,5 tahun yang lalu, aku dan 4 orang temanku mempunyai misi pekerjaan ke Sambas. Waktu yang kami tempuh dari Pontianak kurang lebih 8 jam. Durasi ini lebih lama dari durasi yang seharusnya, waktu yang dibutuhkan seharusnya hanya 6 jam saja. 2 temanku adalah pasangan suami-istri, dan 2 lainnya adalah kakak-adik yang berasal dari Sambas. Kami akan menginap di rumah kakak-adik ini selama 2 hari 2 malam.

Kami berangkat dari Pontianak sekitar pukul 13.00 WIB. Seperti biasa, kami berbicara seputar sejarah atau cerita akan kerajaan-kerajaan yang ada di Kalimantan ataupun Jawa. Di tengah perjalanan, kami melewati kawasan makam dieng manambon. Tidak diberikan waktu untuk berdiskusi, sang supir dengan refleknya membelokkan stir ke arah makam. Singkat cerita kami keluar dari kawasan itu sekitar pukul 17.00 WIB dan memutuskan untuk makan di Kota Singkawang (saat itu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB). Selesai makan, kami memutuskan untuk langsung menuju Sambas. Keadaan jalanan yang kanan-kirinya masih hutan, jalanan yang tidak terlalu luas, penerangan yang tidak terlalu terang dan jarangnya kendaraan yang berlalu lalang membuat suasana terkesan sudah larut.

Posisi dudukku saat itu di tengah, sehingga membuatku dengan mudah melihat apa yang ada di depan, kanan dan kiri. Tiba-tiba aku berbisik di dalam hati “Wah, ngapain tuh mbak-mbak duduk sendirian”. Aku yang tetap melihat sekeliling berpikir bahwa si mbak lagi menunggu seseorang untuk di menjemputnya karena posisi si mbak yang cukup mudah ditemukan. Dia duduk di pagar jembatan dan di seberangnya ada pohon tinggi, sepertinya itu pohon beringin.

loading...

Mataku melihatnya dengan jelas, dia yang seperti sedang asyik memainkan handphone, menggunakan baju putih dan rambut yang tidak begitu panjang namun menutupi mukanya (karena aku melihatnya dari samping). Kecepatan kendaraan kami yang tidak terlalu laju membuatku melihatnya cukup lama. Namun setelah kami berada di atas jembatan dan aku menoleh ke kiri untuk memastikan bahwa dia benar ada, aku kaget bahwa dia menghilang. Dengan spontan aku berkata.

“Loh, mbak-mbaknya kemana?”.

Istri temanku langsung menyambar.

“Mbak-mbak apa? Mana ada mbak-mbak, Tika”.

Aku langsung menoleh ke belakang namun tidak ada apa-apa.

“Mbak-mbak yang duduk di jembatan tadi”.
“Nggak ada mbak-mbak di jembatan tadi, Tika”.

Suasana mobil seketika terdiam. Tidak beberapa lama kemudian si adik temanku berkata.

“Tika, Tika tahu nggak itu tadi jembatan apa?”.
“Enggak kak”.
“Jembatan itu dibawahnya ada sungai kecil, dulu waktu zaman kerusuhan, banyak mayat yang di buang ke sungai itu”.

Aku memutuskan untuk tidak menjawab dan hanya bergumam “Jadi tadi yang aku lihat bukan manusia?”. Tak ada satu di antara kami yang berbicara untuk sekian lama setelah hal itu terjadi. Sesampai di rumah kakak-adik, kami tidak langsung tidur. Kami memutuskan untuk bercerita sedikit tentang kejadian kerusuhan tahun 90-an. Temanku bercerita bagaimana sampai saat ini, dia masih mengingat dengan jelas wajah sesosok wanita dan pria yang kepalanya di letakkan di depan rumahnya dan wajah kepala yang di arak keliling kampung. Tanpa diketahui dimana jasadnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB.

Singkat cerita, sudah waktunya kami untuk pulang ke Pontianak. Kami yang sangat suka jalan-jalan memutuskan tidak melewati rute saat kami pergi, namun mememutuskan untuk memilih rute lain yang lebih jauh yaitu melewati rute Vendereng. Vendereng adalah jalanan yang mirip dengan kelok 9. Kami berangkat dari Sambas sebelum makan siang, mengingat rute yang kami pilih sedikit memutar. Kami tidak langsung menuju Pontianak, kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa wisata alam yang kami lewati.

Perjalanan menuju Pontianak kami lanjutkan setelah maghrib. Melewati jalanan yang kanan-kirinya hutan, jalanan yang sangat sepi, tidak adanya penerangan membuat kami harus lebih fokus melihat jalan. Saat itu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, belum malam memang namun aku kembali melihat sesuatu. Kali ini aku hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Sang supir yang tidak menghidupkan lampu jauh saat itu, hanya fokus pada jalanan dan tidak berbicara sepatah katapun. Mataku melihat ada sesuatu yang aneh di depan mobil.

“Ya elah nih kakek-kakek, malam-malam gini ngapain jalan sendirian. Berani amat”.

Kakek yang berjalan perlahan di tepi jalan menggunakan tongkat dengan punggung yang sedikit membungkuk. Baru saja aku meminta supir untuk menghidupkan lampu tembak dengan alasan agar si kakek dengan mudah melihat jalanan, tiba-tiba sang supir menghidupkannya. Buzz, si kakek hilang bagai asap. Kali ini aku tak berani mengatakan apapun kepada teman-temanku. Aku hanya terdiam bak batu.

“Tika kok diam? Kenapa?”, komentar temanku yang tahu aku sangat suka mengoceh.
Aku hanya senyum dan berkata, “enggak ada apa-apa”.

Sejak saat itu, setiap aku melakukan perjalanan dengan teman-temanku ini, aku sering melihat sesuatu yang tak pernah ku lihat. Sebelumnya, aku hanya melihat bayangan hitam, merasakan sesuatu ataupun hanya mencium bau anyir bukan sosok-sosok yang sepertinya tidak ada keberadaannya. Thank you for reading my story, you can find me on LINE. Let me know when you like my story.

My id – “kaaartikaaa”.

Agen Bola SBOBET