Perjalanan Pulang Sekolah yang Bikin Merinding - 1.68k Views

Salam kenal para pembaca KCH. Ini post/cerita pertama saya di sini setelah sekian lama saya baca dan ngikutin cerita-cerita di KCH. Pertama-tama perkenalan nama saya sebut saja Tirta (sebenarnya itu nama belakang tapi saya lebih suka di panggil begitu hehe). Saya tinggal di perbatasan Jakarta-Tangerang (dekat Bandara Soetta) yang daerahnya masih banyak kebun dan sawah juga lokasinya dekat dengan Tempat Pemakaman Umum.

Ini salah satu pengalaman yang saya alami waktu kelas 3 SMP (tahun 2012). Jadi pagi itu saya berangkat sekolah lewat jalan raya seperti biasa, tapi selama perjalanan saya merasa jalanannya terlalu sepi karena saya tidak bertemu satupun anak sekolah di jalan. Singkat cerita saya sampai di depan gerbang sekolah kira-kira pukul 6.30 dan ada teman sekelas saya yang juga datang ke sekolah lebih dulu dari saya, dia bilang kalau ternyata hari itu sekolah di liburkan.

“Sial amat, sekolah libur nggak ada yang ngabarin” saya menggerutu dalam hati.

Karena terlanjur kesal dan ingin segera pulang saya pun langsung meninggalkan sekolah, tapi entah kenapa saya merasa enggan kalau pulang lewat jalan raya yang tadi saya lewati saat berangkat ke sekolah. Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk pulang lewat TPU, karena biasanya teman-teman saya berkumpul di dekat TPU kalau sekolah di pulangkan cepat.

Sialnya tidak ada satupun teman yang saya temui di dekat TPU, setelah berjalan mulai masuk ke TPU disana ada lapangan sepak bola yang jadi pembatas antara TPU dan pemukiman warga. Dari pinggir lapangan saya melihat di tengah lapangan ada anak yang memakai seragam sekolah melambaikan tangannya kepada saya seolah mengajak untuk jalan pulang bersama (karena mata saya minus jadi saya tidak bisa memastikan dia teman saya atau bukan).

Dalam hati saya merasa senang karena nggak jalan pulang sendirian, saya berniat langsung menghampirinya. Tanpa sadar saya sudah berjalan sampai di tengah lapangan, saya berdiri tepat di posisi anak yang tadi melambaikan tangan, tapi disana tidak ada satu orang pun kecuali saya yang berdiri di tengah lapangan seorang diri. Saat itu saya langsung merasa ada yang “nggak beres” tapi kalau mau kembali pun sudah kepalang tanggung, akhirnya saya memberanikan diri untuk terus berjalan melewati TPU seorang diri.

Di sepanjang perjalanan yang di kelilingi makam saya terus berdoa dan bershalawat dengan bibir yang gemetaran, sampai akhirnya tibalah saya di tempat yang di cap “angker” oleh warga sekitar. Itu adalah pohon besar yang sudah tua, tepat di bawahnya ada beberapa makam anak-anak atau bayi. Dari kejauhan saya sudah memperhatikan pohon itu, saya merasa ada benda putih yang aneh di atas pohon tapi saya belum bisa memastikan karena pandangan mata saya agak kabur. (Bendanya di atas pohon bukan di dahan, jadi terlihat kayak menonjol keluar seperti berdiri di atas dedaunan).

Setelah berjalan cukup dekat saya bisa melihat dengan jelas kalau benda putih yang tadi saya lihat “berdiri tegak” di atas pohon seperti/seukuran “guling bayi”. Spontan saya berpikir ini pasti ada hubungannya dengan kejadian aneh di lapangan bola tadi, benda itu pasti bukan benda biasa karena jika itu benda padat harusnya terperosok ke bawah. Saya memberanikan diri melewati pohon tua itu sambil terus berdoa dan menundukkan kepala tanpa berani melihat ke arah lain.

loading...

Tak lama saya berjalan melewati pohon itu akhirnya saya sudah keluar dari TPU dan sampai di perkebunan warga, tapi masih dibayangi dengan rasa merinding sampai akhirnya saya sampai di gerbang belakang perumahan tempat tinggal saya. Mungkin sampai disini dulu cerita dari saya, bila ada kesempatan saya ingin menceritakan pengalaman lainnya yang saya alami. Sekian, terima kasih.