Wewe Gombel Si Penunggu Pohon Mangga - 501 Views

Wewe gombel atau biasa yang disebut kalong wewe atau yang lebih dikenal dengan si tukang sembunyi anak kecil, perempuan yang seram, bertubuh tinggi, dan payudara yang menjuntai kebawah, bahkan hingga ke tanah. Kisah nyata ini berawal dari aku ketika masih kecil. Cerita ini sudah sangat lama sekali, dan kejadiannya di salah satu villa di puncak.

Karena tuntutan dari pekerjaan orang tua yang selalu berpindah pindah tugas, kami sekeluarga di haruskan berpindah pindah kota pula. Dan sewaktu aku kecil, aku pernah tinggal di Jakarta, di Jakarta Pusat jalan Menteng. Aku memang bisa melihat mereka dari kecil, dan aku menganggap mereka itu ya hanya manusia biasa.

Karena tuntutan pekerjaan orang tua yang berpindah-pindah, maka saat di Jakarta di adakan sebuah acara perpisahan pekerjaan, yang dimana keluarga kami kebagian akan pindah ke kota Medan. Dan para atasan pun memutuskan untuk mengadakan acara tersebut di villa puncak Bogor. Karena masih kecil, tentu saja aku senang dan berpikiran ini liburan yang menyenangkan, dan apalagi ada teman aku yang seumuran aku yang ikut kesana. Sebut saja amel, amel merupakan anak dari teman ayah aku waktu saat itu. Dan keluarga dia kebagian di kota Medan, ya sama seperti keluargaku.

Dari Jakarta Pusat kami berangkat ke puncak memakai mobil, dan keluargaku beserta keluarga amel 1 mobil yang sama. Pada saat di jalan, aku selalu saja melihat wanita yang selalu saja mengikuti mobil kami, dia terbang di samping jendela mobil kami, aku yang saat itu masih kecil hanya bisa berbicara kepada ayahku “pah, kok mbak ini gak ikut ke mobil ya pah? Kan kasihan mbak nya harus lari-lari gitu pah”.

Kami semua mulai hening. Lalu ibuku berkata “nak, sini pindah sama mamah kedepan”. Dan aku pun pindah kedepan bersama ibuku. Dan mulai saat itu kami semua tidak berbicara, hingga aku tertidur. Setelah sampai di villa, aku kembali melihat wanita itu selalu terbang terbang dari satu pohon ke pohon lain. Dan saat malam tiba, kami semua makan malam di ruang tamu dan si wanita itu hanya melihat dari atas pohon di luar sambil tersenyum, dan aku pun bersama amel melambaikan tangan ke dia, dan senyum-senyum.

Karena orang tua kami mulai curiga dan mulai takut, maka kami tidak boleh keluar selama di villa, dan kemana-mana harus bilang dulu ke orang tua kami. Saat tengah malam, aku mendengar suara wanita itu bernyanyi, tapi tidak jelas dia bernyanyi apa, dan bahasa apa di pakai dia, semua tidak jelas, yang jelas dia bernyanyi dan bernada. Aku pun membangunkan orang tuaku karena merasa terganggu dengan suara wanita itu.

“Mah. Mah. Bangun, adik dengar suara mbak yang tadi lagi nyanyi, mamah gak dengar ya?”.

Ibuku pun langsung membuatkan susu dancow hangat dan aku meminum lalu terlelap tidur. Keesokan paginya, banyak anggota keluarga lain yang bermain sepak bola di depan villa tersebut, aku dan amel pun ikut keluar tanpa memikirkan kalau aku dan amel gak boleh keluar villa. Kami bermain sampai sore, setelah jam 5 kami pun hendak masuk ke villa, dan ternyata di pojok ada sebuah pohon mangga yang berbuah. Dan amel pun bilang.

“Eh kesana yuk, banyak banget buahnya, kayaknya manis, ayo kita kesana, kita ambil.”
“Bentar ya mel, aku mau cari batu dulu, pohonnya kan tinggi banget”.

loading...

Lalu aku pun mencari batu yang agak jauh, setelah ketemu batunya aku pun teriak ke amel.

“Amel ini batunya, ayo kita lemparin”.

Saat itu amel hanya diam saja, dan dia berlari ke arah pohon mangga tersebut, dan dia melihat ke atas pohon mangga tersebut, dan terus-terusan melihat pohon itu. Dia tidak menjawab atau berkata sedikitpun. Dia melihat keatas sambil mulutnya terbuka lebar, karena penasaran aku pun datang berlari. Dan setelah di samping dia, aku bertanya sama dia.

“Mell ngapain? Ini batunya”.

Tapi dia diam saja dan terus melihat keatas. Akhirnya aku pun melihat keatas juga dan yang aku lihat, wanita berambut gimbal, dengan senyum yang sampai telinga, tangan yang kurus dan berkuku tajam, ada semacam lebam di jidatnya, dan maaf payudaranya yang menjuntai ke bawah, dan kakinya yang biru seperti orang yang di aniaya. Lantas aku pun sama seperti amel, hanya melihat dia terus-terusan. Tapi aku tersadar ketika mendengar suara kodok yang entah dari mana, dan aku langsung berlari masuk ke rumah, dan meninggalkan amel di bawah pohon mangga tersebut.

Setelah masuk villa, aku pun menangis dan para anggota keluarga yang lain saat melihatku heran dan langsung memanggil orang tuaku. Dan saat itu, semua orang yang ikut liburan di villa tersebut berkumpul di ruang tamu, lalu aku menceritakan bahwa amel ada di bawah pohon mangga, aku meninggalkan dia karena ada mbak-mbak yang seram bukan main.

Setelah mendengar semua itu, ayah amel langsung keluar ke pohon mangga, dan beberapa anggota keluarga yang lain mulai ikut dan mencari amel, tapi amel sudah tidak ada. Semua orang mencari keberadaan amel yang entah dimana. Berjam-jam hingga 3 hari amel belum juga di temukan. Kemudian atasan kami melapor ke warga setempat dan datanglah ustad. Ustad tersebut berkata bahwa amel di bawa oleh wewe gombel.

Keluarga amel langsung menangis tiada hentinya. Dan si ustad juga bilang kalau tidak cepat-cepat di selamatkan, si amel tidak akan bisa pulang lagi. Mendengar ustad tersebut, ibu amel terus menangis. Ustad tersebut pun mendatangi pohon mangga tersebut, lalu diam beberapa menit. Setelah itu kami di sarankan membawa peralatan dapur yang bisa di pukul pukul agar bersuara.

Ada yang membawa sendok, garpu, piring kaca, pisau dan sebagainya. Kami di bagi beberapa kelompok dan berkeliling terus terusan sambil menyuarakan nama amel sambil memukul-mukul panci. Setelah jam setengah 6 sore, ustadpun berkata bahwa amel sudah kembali. Kami pun senang, tapi kami tidak melihat amel dimanapun. Lalu kami semua disuruh mengikuti ustad tersebut. Lalu si ustad pun masuk ke dalam dan kearah dapur. Lalu si ustad teriak, “tolong bantu saya mengeluarkan anak ini”.

Dan ternyata amel ada di balik gas elpiji yang berwarna biru. Amel pingsan dan badannya penuh air seperti orang yang habis mandi, basah semuanya. Amel pun di angkat oleh kami, dan aku pun hanya melihat saja. Amel tidak kunjung sadar dan setelah 1 harian tertidur akhirnya amel sadar tetapi amel hanya diam dan tidak bisa berbicara. Si ustad berbicara bahwa si amel akan berbicara nanti, karena si amel sudah memakan makanan yang di beri oleh wewe gombel tersebut. Dan si ustad pun banyak memberi air kelapa muda dan banyak di campur dengan yang lainnya.

Dan amel pun bercerita bahwa ketika dia di bawah pohon mangga, si wanita tersebut lalu mengelus kepala si amel dan si amel pingsan. Ketika amel bangun, dia melihat di sekeliling dia hanya gelap dan meraba sana sini, dia pun mendapatkan makanan, dan dia juga saat itu sangat lapar. Tanpa memikirkan apapun dia langsung makan, dan kembali tertidur sambil menangis karena mendengar suara ribut sekali yang memanggil namanya. Akhirnya dia sadar dan sudah di kelilingi oleh banyak orang termasuk orang tuanya.

Dan sampai sekarang, aku percaya dengan cerita wewe gombel atau kalong wewe itu nyata. Dan beserta bentuknya yang banyak di ceritakan oleh orang banyak. Memang bagi sebagian orang, cerita wewe gombel itu hanya untuk menakut-nakutin anak mereka, atau urban legend. Tapi bagi saya, wanita menyeramkan itu ada, dan sebaiknya kalian lihat sendiri saja bentuk dan seram dia seperti apa, agar kalian semua percaya.

Yang mau berteman dan tanya-tanya boleh dari whatsapp ya.
Whatsapp: 0815 3140592