Pasar Bubrah - 544 Views

Gunung Gumitir adalah jalur pegunungan yang membatasi kota Jember dan juga Kota Banyuwangi, pegunungan ini dilalui oleh jalur jalan raya nasional antara kota Jember dan juga kota Banyuwangi, namun pesona keindahan alam Kumitir juga di bumbui oleh hal-hal berbau mistis salah satunya adalah urban legend Pasar Bubrah.

Pasar Bubrah adalah pasar yang di huni oleh makhluk halus, disana juga terjadi transaksi jual beli tetapi semua itu dilakukan oleh makhluk halus dan letak pasar bubrah ini juga membaur dengan masyarakat, terutama di daerah terpencil, seperti hutan atau pegunungan. Salah satu urban legend yang cukup populer di kawasan jalur nasional Jember-Banyuwangi melalui Gumitir adalah fenomena pasar bubrah yang kebetulan di alami oleh teman saya sebagai driver bus pariwisata cepat tujuan Banyuwangi, bahkan juga sering di alami oleh beberapa sopir kendaraan besar disana, tetapi saya memilih untuk menceritakan kisah ini karena menurut saya lebih seru untuk di ceritakan.

Saat itu sedang musim liburan, yaitu hari sabtu malam minggu. Pak Eko (nama disamarkan) yang hendak mengantar wisatawan menuju ke salah satu pantai di Banyuwangi, sedang membersihkan kaca depan bus. Jam tangannya menunjukan pukul 7 malam. Para wisatawan berangsur-angsur datang ke garasi bus tersebut yang terletak di daerah Sidoarjo, Jawa Timur.

loading...

Setelah waktu pemberangkatan tiba, pak Eko segera duduk di kursi supir, tidak ada firasat apapun kala itu, dia di temani oleh 1 orang kenek bus (asisten driver) bernama pak Rudi (nama disamarkan) dan juga pak Darwin (nama disamarkan) sebagai kru bus. Ada sekitar 30 wisatawan di dalam bus. Sekitar pukul 9 malam perjalanan di mulai. Pak Eko sudah biasa mengemudikan bus ketika malam hari seperti ini, karena memang dia sudah profesional sebagai driver bus antar provinsi jam malam.

Karena memang jika jam malam seperti ini, bus lebih bebas untuk melaju karena jalanan dalam kondisi lengang. Serta ketika sampai di tempat tujuan sudah menjelang pagi. Kemudian, ketika bus sampai di sebuah rumah makan di daerah Probolinggo. Pak Rudi bergantian menjadi driver menggantikan pak Eko agar tidak kelelahan. Sekitar pukul 11 malam perjalanan kembali di lanjutkan, semua penumpang tertidur lelap, termasuk 2 kru bus pak Eko dan pak Darwin yang tidur di kursi belakang bus.

Memasuki hutan Gumitir, hawa dingin secara tiba-tiba masuk ke bus dan membuat pak Rudi agak terkejut, tetapi dia tetap berpikir positif mungkin karena bus ber-AC dan kondisi sedang sunyi sehingga udara dingin sangat terasa. Lalu lintas pada kala itu cukup sepi dan bisa membuat bus melaju pada kisaran 40-60 KM/jam, jalan juga berliku-liku hingga membuat beberapa kali pak Rudi harus menginjak pedal rem. Saat jalanan di depan cukup gelap dan berkelok, mata pak Rudi di kejutkan dengan cahaya redup yang banyak di depan jalan, semakin bus mendekat cahaya itu semakin terang dan bergerombol.

Ketika sangat dekat, pak Rudi melihat bahwa bus tersebut melintasi sebuah pasar! Pak Rudi hapal betul rute Banyuwangi-Jember di daerah Gumitir, tetapi seingatnya tidak ada pasar di Gumitir! Pak Rudi segera mengurangi kecepatan bus karena dia melihat banyak orang lalu lalang, bertransaksi hingga beberapa pedagang makanan hingga hasil bumi berupa buah dan sayur, orang-orang tersebut memenuhi jalan dan nampak seperti pasar tumpah. Beberapa kali pak Rudi membunyikan klakson bus agar orang-orang memberi jalan.

Pak Rudi juga melihat gaya berpakaian mereka, sangat tradisional dengan baju adat jawa dan baju tahun 80-an. Anehnya mereka berjalan, bertransaksi dan berdagang dengan kepala tertunduk tanpa memperlihatkan wajahnya. Pasar tersebut cukup panjang dan sangat ramai, suara-suara hiruk pikuk kegiatan pasar juga jelas terdengar, tetapi pak Rudi tetap saja berpikir positif karena daerah pedesaan terutama di musim libur seperti ini pastilah sering ada pasar kaget dan pasti juga ramai.

Semakin lama keanehan demi keanehan mulai di rasakan, pak Rudi merasa tidak ada kendaraan lain yang melintas selain bus yang dia kemudikan. Tapi tetap saja pak Rudi tidak menghiraukannya dan tetap fokus mengemudi di tengah kerumunan manusia aneh itu! Kurang lebih 15 menit bus melintasi pasar itu, hingga akhirnya bus sampai di sebuah SPBU untuk memberi kesempatan pada penumpang yang ingin buang air kecil atau beristirahat. Lalu pak Rudi mulai ngobrol dengan pak Eko dan pak Darwin.

Pak Rudi menceritakan tentang pasar yang di laluinya, tetapi pak Eko dan pak Darwin tidak melihat pasar sama sekali! Pak Rudi yakin bahwa yang di lintasi barusan adalah sebuah pasar besar nan ramai, pak Darwin melihat di kaca jendela bus tidak ada pasar, hanya hutan yang sangat gelap saja, pak Darwin juga heran kenapa pak Rudi membunyikan klakson bus beberapa kali dan melajukan bus dengan pelan padahal di depan bus tidak ada apa-apa.

Pak Eko kemudian menyambung cerita tentang pasar Bubrah yang terletak disana, mungkin pak Rudi merasa bus mereka melintasi pasar Bubrah. Pak Eko menjelaskan tentang pasar Bubrah dan menjadi perbincangan hangat selama perjalanan di dalam bus di antara mereka bertiga. Pak Rudi bersyukur karena masih di beri keselamatan, dan tidak terjadi hal-hal yang aneh selama melintasi pasar astral tersebut.

Banyak penduduk di sekitar Gumitir percaya bahwa pasar Bubrah hidup disana, dan mengganggu pengguna jalan ketika pada malam hari. Terima kasih sudah membaca cerita horor saya. Jika ingin mengenal saya lebih dekat bisa follow Instagram saya.

Instagram: @agung_shimazaki48