Cerita Hantu > Cerita Hantu Jepang > Seramnya Hantu Ichi

Seramnya Hantu Ichi

Assalamualaikum, selamat membaca. Setelah kejadian melihat hantu ichi 2 bulan yang lalu, maka sejak itu pula aku tak pernah pergi ke ruang kesehatan 1 lagi ataupun ke kantin yang bersebelahan dengan ruangan itu. Aku duduk merenung di tepi jendela ekskul biola, kalau bersekolah di Jepang setiap siswa harus mengikuti salah satu ekskul yang ada di sekolah. Jadi ku putuskan diriku ini mengikuti ekskul biola.

“Woii ngelamun saja” Guren mengejutkanku.
“Ihh terkejut tau, apaan sih kamu, kayak hantu kesorean saja deh” jawabku.
“Ekskulnya sudah kelar, ayo pulang, atau jangan-jangan kamu teringat hantu ichi ya?” perkataan guren mengingatkanku akan kejadian 2 bulan yang lalu.

Aku menarik tangan guren untuk segera pulang,tapi sebelum pulang perutku rasanya perlu di isi, hingga aku mengajak guren untuk ke kantin membeli cemilan. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore,siswa lain yang mengikuti ekskul sudah pada pulang, jadi tinggal diriku bersama guren di sekolah. Kami sampai di kantin di lantai 2 dekat dengan laboratorium (kalau di indonesia di sebut lab kimia) tapi sayang kantinnya sudah tertutup.

Read Another Stories:

“Setau aku sih kalau jam segini cuma di kantin dekat dengan ruangan kesehatan 1 yang buka, tapi gak mungkin kan kita kesana” guren mengatakan hal ini padaku, membuatku agak ragu untuk mengiyakan.
“Gak apa-apa ih, dari pada aku lapar, ya sudah ayo” kataku yang membuat Guren terkejut.

Saat berjalan ke arah ruang kesehatan 1 aku merasa hawa yang seperti 2 bulan yang lalu, hawa yang hening dan membuat bulu kudukku berdiri. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutku atau pun guren, hanya suara langkah kaki terdengar, kemudian sekitar berjarak 6 meter ruang kesehatan 1 itu sudah terlihat. Pintu ruangan itu tertutup rapat, guren menggenggam tanganku, dapat ku rasakan tangan guren yang sudah berkeringat.

Aku dan guren tetap berjalan hingga pada didepan pintu ruang kesehatan tiba-tiba pintu itu terbuka alias terbanting kebelakang. Aku dan guren saat itu syok bukan main, jantung guren berdegup kencang saat melihat ke arah lemari besar di pojok ruangan. Guren memejamkan mata, tapi diriku malah ingin rasanya memasuki ruangan itu lagi. Tanpa ku sadari suara seseorang memanggilku dari dalam ruangan.

“Come Here” begitulah suara yang ku dengar, aku pun melepas genggaman tangan guren dan mulai memasuki ruangan itu. Tak ada seorang pun di dalam ruangan ini, aku mencium bau darah, aku lantas berjalan tempat lemari itu, tempat dimana aku melihat hantu ichi 2 bulan yang lalu. Lemari itu bergetar, seperti ada seseorang yang ingin keluar dari dalam lemari tersebut.

Aku sudah berada di depan lemari itu dan mulai memegang gagang lemari dan langsung membukanya dengan hati yang tak tau bagaimana berdetak lagi, aku menyambut tubuh guren yang terjatuh ke arahku. Lahh kenapa guren ada di dalam lemari! Bukankah tadi ia diluar, ku coba menyadarkan guren yang mengeluarkan darah dari hidungnya dan akhirnya guren pun sadar dan langsung menangis sambil memelukku.

Katanya seumur hidupnya ia tidak pernah mengalami kejadian syok seperti ini. Suara merangkak terdengar dari luar ruangan, aku membantu guren untuk berdiri kembali dan bergegas keluar dari ruangan. Saat itulah hantu ichi berada tepat di depan kami, aku dan guren terjatuh, guren menindih tubuhku hingga diriku tak bisa berdiri kembali.

Hantu ichi sedang merangkak lambat ke arah kami, dengan tubuh tel*njang berselimut tanah dan darah, guren yang melihat hantu ichi untuk yang pertama kalinya malah berteriak dan mengalami trauma yang sangat hebat. Aku memeluk guren memohon padanya agar berhenti berteriak, hingga kemudian senpai kakei datang dan seketika itu pula tubuhku lemas tak terkendali, semuanya gelap sungguh aku pun terhentas ke lantai. Saat aku tersadar aku telah berada di rumah, mama memegang erat tanganku sambil berkata.

“Ya allah sayang akhirnya kamu sadar, sudah 2 minggu kamu tak sadarkan diri” kata mama sambil memelukku.

Aku lantas menelepon konan dan bertanya bagaimana keadaan guren, betapa terkejutnya aku bahwa konan berkata guren mengalami trauma atas kejadian 2 minggu yang lalu, bahkan sekarang guren sedang berada di rumah sakit jiwa, dan yang lebih terkejut lagi, pak kepala sekolah akan menghancurkan ruangan kesehatan 1 itu setelah penemuan seorang mayat perempuan di belakang lemari besar di pojok ruangan itu. Aku merasa lega jika semua itu benar bahwa ruangan itu akan dihancurkan.

Keesokan harinya aku, konan, dan karin mengunjungi guren di rumah sakit, sungguh hantu ichi itu seram sehingga membuat guren berteriak-teriak bak melihat hantu ichi kembali, aku memeluk guren menyuruhnya agar tenang. Ayah dan mama guren sama sekali tak tau harus berbuat apa. Tapi semenjak seminggu aku menenangkan guren, maka kesadaran guren perlahan-lahan mulai stabil dan akhirnya ia sembuh dan mulai bersekokah lagi. Setiap siswa di sekolah itu melarang menceritakan tentang hantu ichi ini kepada siapapun. Hingga saat kenaikan kelas 3 mama menyuruhku agar kembali ke Indonesia.

Berat rasanya kembali bersekolah di Indonesia, apalagi aku sudah mulai nyaman di sekolah negara Jepang ini. Mau tidak mau akhirnya aku mengiyakan. Saat ingin berpulang ke Indonesia aku memeluk guren, konan, dan karin. Tak lupa pula ku ucapkan kata perpisahan kepada teman sekelasku.

“Bismi chan di Indonesia nama kotamu apa? Biar kapan-kapan kami bisa menyusulmu” kata yahiko si pria tampan yang menjadi teman sebangkuku.
“Namae Aceh” jawabku.

Aku berjalan di koridor sekolah, membungkuk saat bertemu dengan guru dan teman-teman lainnya. Hingga langkahku terhenti setelah suara ichi memanggilku “Bismi, good bye”. Aku berbalik arah kebelakang, hujan mulai turun dan awan mendung membuat koridor itu gelap, dari ujung koridor aku melihat hantu ichi sedang berdiri melayang. Aku berbalik lagi dan bergegas keluar dari sekolah itu. Sekian, wassalamualaikum.

Fb: Bismi Jasein