Cerita Hantu > Cerita Hantu > Dia Mengintip

Dia Mengintip

Jangan baca ini sendirian, saya ingatkan lagi lewat KCH. Sungguh ini real kisah nyata. Dari narasumber sahabatku Eka khoyimah. Tempat kejadian di rumah lamanya, jika pernah baca cerita “main petak umpet lucu tapi horor” pasti tahu rumahnya. Karena sekarang sudah berubah. Ok kita mulai ke alur cerita, pov Eka.

Kejadian itu membuatku trauma jika melihat sesuatu yang pernah ku alami, terlebih lagi baru kemarin sahabatku memposting hal konyol yaitu gambar buntelan putih di wall facebooknya yang mengingatkanku pada kejadian seram dulu.

Waktu itu, aku pulang ke kampung halaman dari merantau. Dan saat itu pula ayahku resmi menjadi “Juru kunci”. Karena kakek dari ayahku sudah meninggal sehingga gelar itu di wariskan pada ayahku. Menjadi Juru kunci itu tidak mudah,entah Juru kunci menjaga gunung seperti almarhum mbah marijan, atau Juru kunci tempat-tempat sakral lainnya. Namun ayahku adalah sebagai Juru kunci pemakaman di desaku.

Read Another Stories:

Awal pertama kali aku menginap dirumah,aku tidak tidur sendiri. Aku tidur dengan ibu. Saat itu malam sudah larut, sekitar jam 12 malam lebih aku terbangun karena kebelet BAK. Ketika mau bangun dan memfokuskan pandangan, tiba-tiba ku tertarik melihat pintu kamarku yang sedikit terbuka. Ku amati terus karena penasaran.

Setelah tahu itu adalah kain putih, berbentuk lemper dengan ikatan di kepala, sontak ku geser posisi tidur sambil memeluk ibuku yang masih terlelap. Lalu ku lihat lagi dia yang mengintip itu, ternyata masih di tempatnya. Posisinya seperti orang yang mengintip. Kulitnya hitam, wajahnya rata mirip sekali di postingan sahabatku dwi.

Sampai kutahan rasa ingin BAK ini hingga pagi, sakit sekali perutku menahannya. Bagaimana tidak, usaha untuk bangunin ibupun tak sanggup,seolah-olah bibirku terkunci, badanku gemetar panas dingin campur aduk menahan takut dan nahan air.

Namun buntelan yang sering di sebut Pocong itu tidak bergeming, malah tetap di situ hingga sebelum azdan subuh berkumandang, karena di desaku ada orang mengaji dimasjid sebelum azdan. Barulah dia menghilang. Dan kami terbangun untuk aktivitas pagi. Saat ku ceritakan kejadian semalam pada orang tuaku, mereka hanya tersenyum.