Cerita Hantu > Cerita Hantu > Diary Kematian

Diary Kematian

Assalamualaikum, selamat membaca. Huff aku menghela nafas panjang sembari menutup buku diary ku yang mungkin sebentar lagi lembaran berwarna birunya itu akan habis. Pada tanggal 1 Desember 2019 ini aku masih berada di Seoul, Korea Selatan, agak segan rasanya jika pulang ke Indonesia.

Bahkan nenekku sudah beberapa kali meneleponku agar diriku lekas pulang ke Aceh. Aku mengambil handphoneku, banyak sekali sahabatku dari Medan yang menanyakan kabarku, tapi malas rasanya untuk berkata aku baik-baik saja, aku malas memberitahukan mereka dimana keberadaanku sekarang.

Aku masih saja merenung di atas meja belajarku sambil menghadap ke jendela yang diluar sana sedang dibasahi oleh airnya hujan. Suasana mendung menambah keinginanku untuk membuat susu di pagi hari itu, aku bergegas ke dapur menemui bibi jinggo asal Korea itu. Bibi jinggo yang melihatku keluar kamar, langsung tau bahwa aku akan membuat susu yang ternyata sudah di siapkan oleh bibi jinggo ku ini.

Read Another Stories:

“Nadia kapan kamu balik ke Aceh?” perkataan bibi jinggo membuatku malas untuk menjawab.
“Entahlah bi, nadia tak tau, entar kalau nadia mau pulang bakal nadia kasih tau bibi juga” kataku sambil mengambil susu dari tangan bibi jinggo dan lekas kembali ke kamar.
“Kalau nadia mau pulang ke Indonesia, jangan lupa kasih tau bibi supaya tiketnya biar bibi yang urus, kasihan nenek sendirian disana” perkataan bibi masih terdengar walaupun aku sudah menutup pintu kamar.

Entah kenapa bibi jinggo memanggilku dengan nama Nadia begitu pula dengan Taehyung, sedangkan pamanku memanggilku dengan nama Bismi, ahh mungkin Nadia lebih enak di ucapkan oleh bibi jinggo yang asli Korea itu.

Setelah menghabiskan susu, aku lantas ke rumah untuk membeli buku diary yang baru, dengan payung hijauku ini aku berjalan keluar, hujan masih saja belum reda saat diriku menghampiri toko buku yang pemiliknya seorang nenek tua.

Nenek tua itu menyodorkan sebuah buku bersampul kupu-kupu pink, sedangkan lembaran di dalamnya berwarna putih agak kemerah-merahan. Aku suka dengan buku itu rasanya sangat cocok untuk dijadikan buku diary ku selanjutnya. Aku langsung membayar harga buku tersebut, tetapi melihat tatapan nenek tua itu padaku membuatku agak mengeluarkan keringat dingin.

Aku lantas pulang dengan cepat takut hujan akan turun lebih deras lagi, sesampai di rumah aku tak menemukan bibi jinggo. Kemana kah bibi? Tanpa memikirkannya lagi aku langsung saja masuk ke kamar dan langsung menulis sesuatu di lembaran buku diary baruku itu. Padahal buku diary yang lama masih tersisa beberapa lembaran lagi, tapi entah mengapa aku sangat ingin menulis sesuatu di diary baruku ini.

Kata yang tetulis dalam bahasa Korea dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “Sungguh Tuhan Aku Ingin Mati” itulah kalimat pertama yang ku tulis di halaman depan diary itu. Karena beberapa hari ini aku marahan dengan bibiku di Indonesia, bahkan sempat marahan juga dengan pacarku, bukan cuma itu saja pertengkaran keluargaku sesama anggota keluarga yang lainnya membuatku stress mendengar ocehan atau pun maki-makian yang mereka lontarkan itu.

Saat aku memandang tulisan itu aku melihat balasan dari lembaran selanjutnta “akan ku kabulkan” itulah yang tertulis di halaman selanjutnya. Aku merasakan hawa yang aneh saat diriku melihat balasan itu, hawa mendadak panas di dalam kamarku padahal diluar sana hujan deras belum juga reda.

Aku kemudian merasakan sesak seperti seseorang yang mencekik leherku. Aku sulit bernapas dan mulai terjatuh dari kursi, aku memegang leherku sendiri sambil terbatuk-batuk karena menahan rasa sesak di dadaku. Aku merangkak ke arah pintu, mencoba membuka pintu dan meminta tolong.

Tapi langkahku terhenti ketika seseorang menahan kakiku dan malah menarikku menjauhi pintu, buku diary itu berterbangan kesana kemari, lembarannya mulai terjatuh satu persatu, mataku merah menahan sesak yang semakin menjadi-jadi, aku melihat sosok nenek tua tadi yang di toko sedang mendekat ke arahku dan tak lama kemudian dia menindihku sambil tangannya yang busuk itu mencekikku.

Dapat kulihat wajahnya yang penuh darah serta beberapa bolongan yang menampakan isi dalam wajahnya yang mulai membusuk, ingin rasanya aku muntah tapi dada sesak ku ini menghalangiku. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Tuniki yang melihatku sulit bernapas langsung menghampiriku dan membangunkanku, tak lama kemudian aku sudah tak sadarkan diri.

Saat aku tersadar aku telah berada di rumah sakit, ku lihat bibi jinggo dan pamanku berdiri diluar bersama seorang dokter. Hingga aku masih meraskaan dadaku yang lumayan sakit itu. Setelah beberapa jam di rumah sakit aku di perbolehkan pulang. Aku bertanya pada bibi jinggo kenapa dengan diriku, tapi bibi jinggo berjata aku cuma terkena asma dan tak perlu di cemaskan lagi karena asmaku ini hanya sementara saja.

Aku juga berpikir dari dulu aku sama sekali tak mengidap penyakit asma, saat tiba di rumah aku melihat Ustad ahmad di rumah kami, aku tau kalau ustad ahmad ada tugas di Korea. Tapi kenapa dia ada di rumahku? Bibi berkata ustad ahmad hanya mampir saja ke rumah kami, aku kembali lagi ke kamar, beberapa waktu lalu aku lupa apa yang terjadi sebelumnya hingga semuanya teringat kembali saat diriku melihat buku diary baruku itu. Aku mengambil buku diary itu dan pergi keluar sambil membuang dan membakarnya. Buku itu mulai terbakar hingga mengeluarkan debu berwarna merah.

“Dasar Diary Kematian yang menyeramkan, aku menyesal telah membelimu” kataku dalam hati. Aku berbalik hingga masuk kembali kedalam rumah hingga aunmi menghampiriku sembari berkata.

“Aku juga pernah membeli buku diary kematian itu pada seorang nenek, hingga aku menulis aku ingin pacarku mati karena saat itu aku dan pacarku sedang bertengkar parah, hingga itu pula pacarku meninggal beberapa jam setelah aku menulis kalimat itu di buku itu” perkataan aunmi membuatku terkejut bahwa bukan aku saja yang mengalaminya tetapi aunmi juga.
“Aku tak tau kau akan membeli buku itu di toko tersebut, tapi sekarang cobalah kau pergi ke toko tersebut lagi, setelah kau sudah melihatnya langsung pulanglah dan katakan padaku apa yang telah kau lihat” kata aunmi sambil pergi.

Aku bergegas pergi ke toko buku itu kembali, tapi betapa terkejutnya aku bahwa toko tempat aku membeli diary itu adalah sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni, aku bertanya pada orang-orang yang melewati tempat itu dan mereka berkata tidak ada toko buku di sekitar sini, rumah tua ini memang dulunya adalah sebuah toko buku tapi kemudian entah kenapa tak terpakai lagi.

Aku terkejut bukan main dengan hal ini, sekarang jika diriku mengingat Diary Kematian itu membuatku ingin marah dan menyesal telah membeli dan juga menulis kalimat yang seharusnya tak ku tulis itu. Tapi untung saja semua itu tak merenggut nyawaku. Sekian. Wassalamualaikum.

WA: 081370400622