Cerita Hantu > Cerita Hantu > Hantu in The Kost Bagian 3

Hantu in The Kost Bagian 3

Sebelumnya hantu in the kost bagian 2. Setelah kaleng itu mendarat di kepala tepatnya di jidatku, seketika membuatnya benjol. Ku meringis kesakitan “sialan tuh kunti, main lempar-lempar saja, mana jatah gue gak di kasih pula” gerutuku sambil gemetar. Sambil memegang kepala ku cari gawai hendak menghubungi Samsung. Namun karena saking paniknya, yang ku hubungi bukan dia, melainkan si Emak.

“Halo Sam, lu kemari ya temenin gue malam ini” ucapku seketika.
“Halo Son, kenapa lu baru nelpon emak, dasar semprul” ucap suara di sebrang sana.
“Eh lho emak, eh anu mak Sony minta pindah kost ya mak” ucapku akhirnya sambil mulai menangis seperti anak kecil minta jajan.

“Eh Son, lu sudah dapet tempat kost gak bilang-bilang, sekali nelpon minta pindah kost, lu pikir emak punya duit apa, kan lu tau sendiri duit emak lu bawa semua!?” ucap emak cepat tambah menggelegar membuat telingaku berdengung dan menjauhkannya dari tempelan gawai.
“Huuaaa, emak Sony pengen pindah kost karena takut mak, takut ma kunti yang selalu dateng gak di undang pulang gak di antar mak” sambil mengisap ingus yang keluar dari hidung lalu kembali menangis lagi.

Read Another Stories:

“Eh busyet nih anak, emang siapa itu kunti, kamu gak ngekost bareng cewe kan, ingat lho biarpun kita miskin emak gak pernah ngajarin lu yang aneh-aneh, apalagi sekamar sama perempuan!?” ucap emak tambah cetar intonasinya.
“Haduh mak, bukan mak, itu cewe bukan manusia, itu hantu cewe kuntilanak yang menghuni in the kost sini, aku takut mak, aku mau pindah kost saja ya mak huaa huaa” sambil ngelap ingus.
“Enggak bisa, emak gak punya duit, lagian mana ada hantu, itu alasanmu saja, laki-laki gak usah penakut, cengeng amat kamu ini, biarin saja dia di situ nemenin kamu biar berani” ucap emak seenaknya yang membuatku semakin takut.

“Ah emak kok gitu, katanya gak percaya tapi malah nakut-nakutin, pokoknya Sony mau pindah kost” ucapku sambil sesegukan tiba-tiba “tut tut tut” ternyata hubungan terputus entah emak yang matiin, entah dari operator.
“Ah, sial, malah mati” gerutuku.

Lalu tiba-tiba “hihihihihi” suara melengking itu datang lagi namun kali ini bukan tertawa menakuti, seperti mengejek. Ku mulai terpaku sambil celingukan melihat sumber suara. Setelah tau dia berada di belakangku, ku mulai gemetar tak tertarik melihat wajahnya.

Lalu ku ingat sesuatu, ku pegang gawai untuk menghubungi Samsung supaya datang menjemputku.
Namun saking panik dan gemetaran dan takut, gawai yang ku pegang terjatuh, dan sialnya langsung berantakan terlepas dari baterainya.

“Ah sial!?” gerutuku.

Tiba-tiba terdengar tawa lagi, kini dia tertawa sambil terbang lalu nangkring di atas lemari, otomatis berada di depanku.

Ku mulai emosi “eh ngapain sih lu gangguin gue mulu, gak capek apa ngerjain gue yang malang ini, salah gue apa coba, gue kan gak gangguin lu, niat gue mau belajar dan ngekost disini biar deket” sungutku.

Lalu dia terdiam sejenak, “maaf saya gak bermaksud gangguin kamu kok, saya hanya ingin berteman” jawabnya lalu terbang turun di hadapanku sambil mengulurkan tangan. Melihatnya kini berada dekat di hadapanku membuat nyaliku semakin menciut dan tambah gemetar.

“Tenang, saya tidak akan menyakitimu Sony, Sony ericson, namaku Nokia, namun temanku memanggilku Kia” ucapnya sambil tersenyum.

Kini ketakutanku berubah menjadi terkejut, bagaimana mungkin dia tahu namaku.

“Saya tahu namamu di kertas itu yang ada di atas laci” ucapnya kemudian membuatku ternganga sambil melihat atas lemari laci yang berserakan kertas.
“Maukah kamu menjadi temanku Sony?”.

Lamunanku terbuyarkan lalu tanpa sadar tanganku bersalaman dengan tangannya. Tangan yang putih pucat serta dingin seperti air es, lalu wajahnya berseri sambil tersenyum. Wajah yang awalnya menakutkan bagiku yang penakut, kini kulihat biasa saja, meski pucat, ada bekas luka dan darah di kepalanya nampak tak kuhiraukan. Kenapa aku bisa berubah tidak takut? Bahkan sekarang sudah terbiasa melihat penampakan sejenis dia. Mungkin sekarang aku sudah bersahabat dengan Kia, bahkan di manapun berada selalu ada Kia. Sekian.

Maaf ya pembaca, ini hanya cerita fiktif pertama saya. Namun saya ingin membuat cerita ini bertambah panjang, hanya saja saya tidak mau bosan apalagi para pembaca. Saya ingin cerita ini ada kolaborasinya supaya semakin seru, tentunya bersama para author di sini. Supaya semakin kompak.

Sebenarnya tulisan part ini juga sudah saya tulis, namun tidak masuk, dan akhirnya berbeda, hehe, karena ini cuma imajinasi spontan saya, yang menulis ketika sedang mood. Semoga para pembaca tidak bosan. Mohon kritik dan sarannya seperti biasa, lewat wall Fb di KCH, terima kasih para pembaca setia.