Cerita Hantu > Cerita Hantu > Kisah Bumil

Kisah Bumil

“Neng aunty yang cantik senyum donk, masa cemberut begitu, di bawa happy saja, semangat buat masa depan” rayu temanku yang sering ku panggil “Mba wie”.

Kami bersahabat sejak saya menikah dan tinggal di “Rumah Baruku” di cerita sebelumnya. Namun saat itu saya tidak tinggal disana hingga sekarang. Setiap hari tanpa canda tawa darinya, namun kadang berantem layaknya anak kecil yang rebutan mainan. Ah masa yang tak terlupakan hingga menjadi baris cerita suka maupun duka bersama.

Saat itu mba wie sedikit berubah, entah dari perasaanku atau dari kondisinya yang sedang hamil yang tak di harapkan. Ya, dia bilang kebobolan (hamil tanpa disengaja). Kadang dia sering sedih dan marah-marah tidak jelas. Apalagi sekarang tempat tinggalku jauh darinya dan hanya bertemu di tempat kerja, seolah dia tidak ada tempat curhat lagi. Seperti biasa ku balas senyuman, kadang ku balas dengan wajah datar. Jadi sering dia yang meledekku karena aku “Datar”. Saat itu dia cerita tentang keseharian dirumah, saat hatinya normal.

Read Another Stories:

“Ih sekarang mba gak bisa curhat lagi, biasanya ada tempat pelarian, tapi ini jauh, huhu” dengan tingkah manjanya.
“Iya, tapi kan sekarang masih sering ketemu walaupun cuma di tempat kerja” ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.
“Ih tetap bedalah, biasanya kayak maling minta mie instans dan biasanya wara-wiri tukeran sayur matang” cercanya sambil bibirnya di majuin tanda manyun manja.

Ku hanya nyengir lihat raut wajahnya yang sering ku rindukan. Lalu dia cerita kalau akhir-akhir ini sering ketakutan dirumahnya, dan seperti ada yang mengintainya di setiap waktu. Terlebih lagi menjelang maghrib hingga petang, tuturnya. Kadang saking takutnya, dia sampai tak berani ke dapur atau ke kamar mandi sendirian.

Dia bercerita, pas pulang kerja agak sore, dia lupa belum mengangkat jemuran baju di belakang rumah. Belakang rumahnya ini hanya selebar meter, karena ada tembok penyekat ke tanah kosong bekas gudang pupuk peninggalan Belanda belakang rumahnya. Nah saat itu dia lupa juga gak ngingetin anak-anaknya untuk angkatin jemuran sebelum ibunya pulang dari kerja.

Pas buka pintu belakang, hawa angin sepoy-sepoy langsung menerpa tubuhnya. Dengan langkah tergesa, dia ambil semua jemuran, namun hawa saat itu tidak seperti biasanya. Merinding dan tegang, ah susah di gambarkan jika tau rasanya mereka datang.

Pas hendak selesai mengangkat jemuran, tiba-tiba “hihihihi” tanpa basa-basi mba wie langsung narik jemuran terakhir dan “hiiii” lariii. Sampai pintunya pun di tabrak tanpa peduli menutupnya kembali. Sampai anaknya pulang dari bermain, barulah dia menyuruh anaknya untuk menutup pintu belakang.

Lain waktu, pas dia sedang asyik memasak di dapur, seperti ada yang mengintip di pintu L belakang yang tidak pernah di buka, kecuali kalau pas butuh. “Ah mungkin perasaan mba saja kali” cercaku. Namun dia serius dengan ceritanya. Kadang dia minta di temani anaknya yang nomor 2, jika ke dapur atau ke kamar mandi yang depannya ada pintu L-nya. Lalu aku bertanya padanya “kenapa gak bikin gelang Dlingobengle saja?” ucapku.

Namun dia malah menceramahiku dalam segi agama bahkan bertanya kegunaannya, meski ku jawab itu bukan jimat, tetap saja dari segi pandangnya itu musyrik dan lain-lain. Ah jika sudah begitu saya paling malas membahasnya, karena pasti ujung-ujungnya berdebat, tahu deh kalau dah ngomong pasti saya banyak salahnya, itu sebabnya saya sering bersikap biasa saja atau sering di sebut “Datar” olehnya.

Suatu hari, pas dia ikut lembur pulang malam, dia di antar pulang oleh rekan kerja laki-laki yang masih single dan senior seperti dia. Katanya di jalan pulang ada yang terbang dari pohon mangga milik tetangga tempat kerjaku hingga sampai di gang rumahnya, lalu hilang. Sekian.