Cerita Hantu > Cerita Horor > Pocong Balita

Pocong Balita

Hari ini aku lelah sekali, “ah duduk dulu lah sambil lurusin kaki” gumamku dalam hati. Tiba-tiba ibu mengagetkanku dari arah dapur menuju teras depan yang ku duduki lantainya.

“Hei, kalau duduk pakai alas bokongnya” ucapnya yang ku balas dengan nyengir kuda.

Pantang seorang Bumil duduk di bawah atau lantai tanpa alas apapun, kata orang tempo dulu. Lalu paklek datang ke rumah dan ngobrol sama bapak. Kedatangannya untuk menanyakan padaku, jadi atau tidaknya kami pindah ke rumahnya. Rumah yang waktu itu sempat ku tanya kabarnya bersama suamiku, rumah dari simbah yang di wariskan oleh paklek.

Read Another Stories:

Karena kurang terawat oleh paklek yang sering di tinggal pulang ke rumah orang tua istrinya yang jauh, dan hanya di tinggali paklek kalau sedang ada kerjaan di sawahnya. Jadi otomatis mana sempat merawat rumahnya. Meski sudah hampir 2 tahun lebih tak pernah ku injak kaki ke rumahnya, tapi aku dan suamiku ingin menempatinya atas ijin paklek dan keluarga besar dari bapak.

Lokasinya dari rumah orang tuaku tidak terlalu jauh, hanya beda gang. Rumah itu di pinggir desa dekat TPU,dan hanya tersekat pekarangan kosong milik peninggalan moyang kami yang tak seberapa luas, jadi masih terlihat aneka bentuk nisan dari jarak rumah paklek. Dan suamiku belum tahu lokasinya, jadi dia nurut saja padaku.

Malam itu juga kami langsung pindah kesana,di bantu paklek dan bapak. Kami hanya bawa baju, karena itu yang kami punya saat ini. Tanpa ku sadari sejak tadi ada yang mengintip di balik pohon pisang di kebun tetangga sebelah rumah paklek. Seolah-olah dia mengamati kami, terutama aku. Setelah paklek membuka pintu ruang L rumahnya dan menyuruh kami masuk, lalu dia pamit untuk pergi pulang ke rumah mertuanya karena takut kemalaman di jalan. Setelah kami masuk, ku lihat jendela dapur yang menghadap ke sumur dan area makam masih terbuka .

“Mungkin paklek lupa menutupnya” pikirku. Aku masih berdiri diam terpaku melihat sekeliling ruang dapur, sedangkan suamiku sudah di ruang tengah dan mungkin menata baju di kamar. Saat sendirian di dapur, tiba-tiba “bruk”. Ada buntelan putih yang hinggap di atas genting yang bawahnya ada pintu dapur yang mengarah ke sumur. Dan membuat genteng berjatuhan, hingga terlihatlah dia sedang berdiri di atas sana sambil melihat tajam ke arahku.

Buntelan itu berbentuk kerdil atau anak kecil sekitar 2 tahunan, wajahnya seram, kulitnya hitam kecoklatan, kain kafan yang membungkus seluruh badannya terlihat putih bersih seperti baru. Matanya selalu tajam melihatku hingga ke perutku, sontak aku menjerit ketakutan dan membuat suamiku berlari ke arahku. Namun dia tidak sadar apa yang terjadi, dia menepuk pipiku karena mataku melotot sambil melihat ke arah pocong balita. Mulutku masih menganga, hingga tersadar saat suamiku memelukku.

“Kamu kenapa Bun?” ucapnya panik. Lalu ku balas dengan menunjuk sesuatu di atas sana, dan setelah suamiku menengok ke belakang, pocong balita itu sudah tidak ada. Dan menyisakan kebingungan kami berdua. Lalu suamiku mengajakku masuk ke kamar untuk istirahat karena sudah mulai larut malam, namun ku tolak karena masih takut harus melewati lorong kecil dan atap yang di hinggapi buntelan tadi.

Akhirnya aku memilih keluar rumah dan di ikuti suamiku. Dan saat berada di luar,aku menjerit karena pocong tadi terbang dengan kecepatan tinggi akan menabrak perutku yang buncit. “Aargh” aku terkejut, lalu “bun, bun, bun kenapa bun, bangun bun” sambil menepuk bahuku suamiku membangunkanku yang mengigau. Dan aku terbangun kaget, namun sedikit lega.

“Kamu mimpi buruk lagi?” tanyanya dan ku jawab anggukan, lalu aku bangun untuk shalat subuh. Dan sore nanti kami berencana akan pindah kerumah paklek yang beberapa hari lalu beliau datang menyuruh kami menempati rumahnya. Tapi beliau bilang kalau butuh di renovasi dulu, karena ada beberapa kerusakan di sana-sini katanya.

Karena kami tak sabar, akhirnya kami hendak menempati dan akan merenovasi sendiri nanti jika sudah di sana, tuturku. Lalu sore hari, kami membawa beberapa baju dan lemari kecil kami yang terbuat dari plastik untuk pindahan. Dan tak terasa sudah sore hari menjelang maghrib. Semua bergegas beresin rumah, dan aku terdiam berdiri sambil melihat keliling luar ruangan yang ada pintu L.

Dan aku melihat pohon pisang di kebun tetangga bergerak-gerak sendiri. Akupun menghiraukannya lalu melangkah masuk ke rumah. Dan maghrib pun tiba seketika gelap, padahal diluar tadi langit masih sedikit terang “aneh” gumamku. Dan saat mau lanjut ke ruang tengah, baru satu langkah. Tiba-tiba aku mendongak kepalaku ke atas dan melihat buntelan itu berdiri di sana sambil menyeringai.

Lalu matanya melihat perutku yang buncit dengan tajam sambil menyeringai senang. Dan refleks tanganku langsung menutupi perutku “mau apa kamu menggangguku!?” ucapku sambil menyentaknya. “Huhuhu aku mau bermain sama dedek bu” ucapnya sambil menyeringai ngeri. “Tidak!, tolong jangan ganggu anakku dalam kandunganku ini, dan aku juga bukan ibumu” sambil menutup perutku dengan kain jarik yang ku bawa.

“Aku hanya mau membawa bayimu, aku ingin bermain dengannya” ucapnya lalu turun dan terbang ke arah perutku. “Tidaak, jangan bawa bayiku, jangan ganggu dia” hiks, hiks, hiks, aku menangis dan “bun, bun, bun bangun, bun bangun kenapa menangis, kenapa bun, bangun” ucap suamiku dan aku terbangun dalam keadaan air mata mengalir. Suamiku terkejut lalu bertanya “kamu mimpi apa sih? Kok dari tadi ngigau mulu, lupa baca doa ya” cercanya.

Dan aku tidak menjawab karena bingung,kami masih di kamar rumah orang tuaku, sedangkan tadi terlihat nyata. Ku lirik jam di dinding, masih jam 2 dini hari. Dengan tatapan heran suamiku, ku hanya diam, ingin ku ceritakan mimpi yang terlihat nyata itu namun ku urungkan dan aku berbaring lagi memunggungi suamiku sambil menangis. Apa maksud mimpi dalam mimpi itu. Ku cerita esok harinya saat bangun tidur, namun jawaban suamiku “itu hanya mimpi”. Sekian.