Halte Bus

Cerita Hantu > Cerita Seram > Halte Bus

Assalamualikum, selamat membaca. Aku berdiri cukup lama di pinggiran toko karena menunggu hujan untuk reda ini. Tapi sayang hujan sepertinya tak kunjung reda juga. Sudah seminggu ini aku tinggal di rumah paman, pertengkaran mama dan papa membuatku tak betah berada di rumah. Jadi kuputuskan untuk menginap di rumah paman sementara waktu yah menenangkan pikiranku ini yang sungguh kacau.

Paman dan bibiku malah tidak keberatan jika aku menginap di rumah mereka, karena mereka tau papa dan mamaku seperti apa. Tak ada sehari pun mereka tak beradu mulut. Aku masih berdiri di pinggiran toko sambil menenteng 1 tas berisi sayur-mayur dan buah-buahan. Kalau tau akan hujan begini maka dari tadi aku akan bawa payung, uhhhh sebal deh, gerutuku.

Kemudian seseorang memegang pundakku sambil menyodorkan payung bernuansa kupu-kupu merah kepadaku. Aku mengambilnya dan saat akan mengucapkan terima kasih. Laki-laki seperti sebayaku itu langsung pergi, aneh deh, mau tidak mau aku harus menuju ke halte bus untuk pulang ke rumah paman.

Read Another Stories:

Tibalah aku di halte bus yang lumayan sepi ini, cuma ada aku dan 4 orang ibu-ibu di sini, jadi tak lama kemudian aku melihat laki-laki yang memberiku payung tadi berdiri di halte sambil memandang ke arah hujan. Aku mendekatinya dan memegang lengannya.

“Terimakasih atas payungnya” kataku.
Dia menoleh sambil menjawab “sama-sama, tak apa kau pakai saja dulu” jawabnya dengan tatapan dingin.
“Nama mu siapa? Mau pulang kemana?” tanyaku lagi yang berusaha akrab.
“Weri, di jalan bunga no 7” jawabnya.

Kemudian ibu-ibu di belakang malah melihat ke atas kami sambil manyun-manyun gak jelas gitu.

“Apa kau pernah merasa terjatuh ke dalam lubang yang dalam” tanyanya.
“Emm tidak, aku tak pernah jatuh ke dalam lubang” jawabku.
“Kau bohong, buktinya sekarang kau sedang terjatuh” katanya yang membuat aku tambah bingung apa maksudnya.

Dari arah timur munculnya bus berwarna jingga, aku lantas berkata padanya.

“Ayo pulang, busnya sudah datang dan saat turun nanti aku akan mengembalikan payungmu” kataku yang membuatnya tersenyum. Ahh senyumannya sangat manis, ciaaa.

Ibu-ibu di belakangku mulai menaiki bus, saat tiba giliranku aku sempat melirik ke arah weri berdiri tetapi weri malah tidak ada. Kemana dia? Apa dia tak naik bus? Lantas bagaimana dengan payungnya. Kemudian tanpa pikir panjang aku langsung naik ke bus, di dalam bus ibu-ibu yang di belakangku tadi berkata padaku.

“Dek tadi di halte bus kenapa ngomong sendirian? Adek masih waras kan, cantik-cantik begini kok bicara sendiri” kata ibu itu.

Aku mengernyitkan kening, bicara sendiri? Yang benar saja, jadi weri tadi itu bukan manusia? Kemudian bus kami dihebohkan dengan kecelakaan yang ada di depan. Dapat kulihat muka orang yang kecelakaan itu saat diangkut ke mobil ambulans, karena aku duduk di dekat jendela maka sangat jelas terlihat dan saat itu aku terkejut sekaligus syok ternyata yang kecelakaan tadi itu adalah weri.

Darah segar keluar dari kepalanya, aku duduk kembali, memegang jantungku yang berdebar sangat cepat, apa arti semua ini? Dan sampai sekarang aku masih saja melihat weri di halte bus itu jika diriku ke pasar membeli sayur, dia pasti ada di halte bus itu dan saat itu juga aku dapat mendengar suaranya yang berkata padaku “payung itu untukmu saja” begitulah kata yang di bisikkannya pada telingaku. Sekian, wassalamualikum.

WA: 081370400622
Fb: Bismi Jasein