Pau Paw

Cerita Hantu > Cerita Seram > Pau Paw

Assalamualaikum wr wb, selamat membaca. Aku menikmati secangkir kopi panas di Kafe 88 sore itu, ku lihat jam sudah menunjukkan jam 4 sore. Aku malas beranjak dari Kafe karena hujan di luar datang menghalangi, hingga handphoneku berdering nada lagu Bts Idol.

“Halo pa, ada apa?” jawabku yang ternyata adalah teleponan dari papa.
“Kamu yakin mau tinggal sama mama?” tanya papa padaku.
“Pa, sudah berapa kali aku bilang, aku mau hak asuh aku jatuh ke mama bukan papa, masa harus ku jelaskan ribuan kali” kataku sambil menutup telepon.

Ya perceraian papa dan mama telah usai, tapi hak asuh anak itulah yang menjadi penyebabnya aku malas pulang ke rumah papa. Papa memiliki anaknya sendiri pada istri ke-1 dan juga ke-3 nya. Sedangkan mamaku cuma punya diriku dan kakaku yang sudah menikah. Jika bukan aku yang menjaga mama, siapa yang akan tinggal bersama mama, sedangkan kakakku sendiri sekarang telah berkeluarga dan tinggal di rumah suaminya.

Read Another Stories:

Hujan sudah mulai reda, aku membuka payung biruku dan mulai menerobos sekerumun orang yang ada di depan. Hingga satu anak kecil menabrak diriku dari belakang.

“Heii kalau jalan lihat-lihat dong” kataku.

Anak kecil itu malah menunduk, apakah itu pertanda maaf darinya? Aku mendekati anak itu dengan tatapan iba, karena aku melihat sepertinya dia kedinginan.

“What is your name” tanyaku.
“Pau Paw” jawabnya.

Ahh seperti dugaanku dia bukan asal indo, aku tahu dari tampang wajahnya saja aku yakin dia berasal dari Cina.

“Where you from?” tanyaku lagi.
“Chinese” jawabnya.
“Where’s you parents?” tanyaku kembali.
“I don’t know” jawabnya sambil menangis.

Aku pun membawanya kembali ke kafe 88, ku suruh pelayan agar membuatkan bubur hangat dan susu panas untuknya. Selagi ia makan aku pergi membeli baju untuknya di toko pakaian sebelah.

“For you (untukmu)” kataku sambil menyodorkan pakaian tebal itu.
“For me? Thanks (untukku? terima kasih)” jawabnya sambil tersenyum.
“Your welcome (sama-sama)” jawabku.
“Where’s your house? (dimana rumahmu?)” tanyaku lagi.

Pau Paw menunjuk ke arah timur, setelah ia berganti pakaian, aku berniat mengantarkannya ke rumahnya. Beberapa menit kemudian sampailah aku pada sebuah rumah tua yang besar, semuanya terasa hening dan sepi. Dedaunan kering membasahi atap rumah itu.

“Ini rumahmu?” tanyaku padanya.

Tetapi pau paw tak menjawab pertanyaanku, dan saat kulihat di sampingku pau paw sudah menghilang, perasaan tadi dia ada di sampingku. Aku melihat-lihat ke arah rumah besar itu, barangkali pau paw sudah masuk ke dalam. Tapi aneh rumah itu sepi, tak ada satu suara pun yang terdengar. Aku pun berbalik arah untuk pulang hingga langkahku terhenti dengan adanya tangan seseorang yang menarik bajuku.

Aku berbalik lagi barangkali itu Pau Paw, ahh aku terjatuh ke tanah. Melihat anak kecil bermuka seram, ahh bukan seram kepalanya di penuhi darah yang kental, matanya hampir keluar, giginya rontok ke bawah tanah satu persatu.

“Thank you sister for helping me (terima kasih kakak karena kamu telah menolongku)” begitulah katanya.

Kemudian dia menghilang, aku masih terduduk di atas tanah basah itu. Aku mencoba berdiri dan beranjak pergi dari situ. Aku kembali lagi ke kafe 88, karena payungku tertinggal di situ. Aku lihat bubur dan susu panas itu masi utuh, bukankah tadi sudah habis di makan oleh Pau Paw? Ahh aku stres 😣😣 sebenarnya pau paw itu apa?

“Kak, kakak kemana saja, dari tadi ngomong sendiri dan kakak menaruh bubur di sebelah itu, padahal kakak sendiri duduknya di sebelah sini” kata pelayan wanita padaku.
“Berapa umurmu?” pertanyaanku tak nyambung.
“Ehh emm 16 kak, masih SMK, kalau kakak?” jawabnya.
“18, baru saja lulus SMA tahun ini” jawabku.

Kemudian aku menyodorkan uang bayaran padanya, baru ku sadari bahwa tadi aku lupa membayar 😂

“Terus bubur ini kak?” katanya lagi.
“Di bungkus saja” jawabku.

Pelayan itu pun mengangguk. Baru ku sadari ternyata Pau Paw bukanlah manusia, beruntung sekali aku bertemu dengannya. Dengan adanya dia hari ini, aku sedikit mempunyai waktu untuk mengobrol. Biasanya hari-hari ku habiskan sendiri sepanjang hari. Aku tersenyum sendiri, dan suatu saat nanti aku ingin berjumpa kembali dengan Pau Paw.

“Ini kak” kata pelayan itu mengejutkanku.

Aku beranjak dari kafe itu untuk kembali pulang ke rumah nenek. Nenek yang menungguku di pintu rumah merasa khawatir denganku, karena se-maghrib ini aku belum juga pulang.

“Haduhhh bismi dari mana saja cuk?” kata nenekku.
“Heheheh biasa nongkrong di kafe, sudahlah jangan marah, ini aku bawakan bubur sekaligus martabak kesukaan nenek lo” kataku pada nenek dan membuat dia tersenyum.

Saat aku mau menutup pintu, dapat ku lihat Pau Paw berdiri di pagar rumahku sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

“Nice to meet you (senang bertemu denganmu)” bisikku padanya dari kejauhan. Sekian, wassalamualaikum wr, wb.

WA: 081370400622
Fb: Bismi Jasein