Cerita Hantu > Cerita Seram > Suara Tangisan Bayi di Malam Hari

Suara Tangisan Bayi di Malam Hari

Keluarga Agus baru saja pindah di rumah yang ada di pengkolan jalan perumahan Griya Bukit Indah. Beberapa tahun sebelumnya, jauh sebelum kedatangan mereka, rumah itu disebut-sebut sebagai rumah angker. Penghuni sebelumnya pun tak pernah tenang menghuni rumah tersebut.

Terakhir, rumah itu dijadikan sebagai kantor koperasi simpan pinjam. Tapi, riwayat kantor itu pun nyaris seumur jagung dan mengembalikan kondisi rumah itu seperti semula. Beberapa tahun kosong, tibalah keluarga Agus beserta istri dan kedua putranya yang masih SD dan SMP. Sebulan lamanya menetap disana, tak nampak ada kejanggalan apa pun dalam kehidupan mereka. Kewajaran itu justru memicu kecurigaan warga, seakan-akan kenormalan yang ada justru tidak normal.

Pak Agus adalah guru SMP yang baru pindah mengajar ke SMPN 13. Putra pertamanya yang juga masih duduk di bangku SMP ikut diajar bapaknya di sekolah yang sama. Bu Agus adalah seorang ibu rumah tangga yang ramah. Baru seminggu menetap, beliau sudah akrab dengan beberapa warga dan tukang sayur keliling. Isu mengenai rumah angker ditepiskannya seiring waktu berlalu.

Read Another Stories:

Kehormatan serta keramahtamahan keluarga itu membuat warga pun sungkan untuk menakut-nakuti. Warga sekitar lantas berkesimpulan, mungkin memang misteri dan aura kegelapan di rumah itu telah memudar. Keadaan berangsur menjadi wajar. Sayangnya, kewajaran itu tak berlangsung lama. Beberapa bulan berikutnya, mereka mulai dihantui oleh kejadian-kejadian ganjil di dalam rumah.

Beberapa hari belakangan, Pak Agus mulai nampak pucat setiap kali keluar rumah. Keanehan itu mulai dirasakan oleh tetangganya. Ketika ditanya, beliau enggan menjelaskan. Para tetangga pun mulai merasa curiga.

Kian hari, kondisi Pak Agus makin kelihatan kurus. Menindaklanjuti sikap Pak Agus yang bungkam, Pak RT serta beberapa tetangga mendatangi rumah beliau dan minta penjelasan mengenai kesehatan beliau. Alih-alih menjelaskan, beliau malah tertawa geli dan merasa tersanjung pada tamu-tamunya yang mau menjenguknya yang katanya sehat-sehat saja.

“Lha, wong saya super sehat kok, Bapak-bapak sekalian. Malah istri saya sudah hamil lagi”.

Mendengar pemaparan itu, para tamu pun saling sikut keheranan. Beberapa bulan berikutnya, mungkin karena mulai tak tahan, Pak Agus akhirnya buka mulut dan menjelaskan kejadian-kejadian ganjil yang menimpanya kepada teman dekatnya di sekolah. Beliau adalah Pak Wardoyo. Berdasarkan keterangan Pak Agus, di rumahnya sering terdengar suara tangisan bayi di malam hari. Bahkan di kamar mandinya yang terletak di belakang rumah sering muncul penampakan anak kecil sedang berendam di bak mandi.

Kegelisahan Pak Agus makin menjadi karena anak-anaknya pun mulai bercerita hal serupa. Pernah suatu ketika, anaknya terbangun di tengah malam. Tiba-tiba ia menangis meraung-raung seperti kesurupan sambil sesekali menutupi wajahnya seolah-olah ketakutan akan sesuatu. Tangannya menunjuk gemetaran ke arah dinding atas kamarnya. Tatkala Pak Agus mendongak, sesosok bayi buruk rupa bertubuh hitam legam menempel di dinding atas. Matanya menyala merah sambil menangis serak.

Pak Agus tak kuasa berkata bak disambar petir di siang terik. Ia lalu sekuat tenaga menenangkan putranya sambil melantunkan do’a-do’a. Penampakan disertai tangisan bayi hitam itu seketika hilang. Sisa malam itu diakhiri dengan mata terbuka oleh seluruh anggota keluarga yang terkumpul di ruang tamu.

Kurun waktu berikutnya, kejadian demi kejadian terus menerus menghantui keluarga itu. Sayangnya, tak satupun kejadian berani diceritakan kepada tetangganya. Lambat laun keluarga ini menjadi tertutup. Demikian pula Bu Agus yang mulai hamil tua. Sikapnya tak lagi seramah dulu.

Suatu malam, Pak Agus kembali mendengar tangisan bayi itu lagi. Merasa tertantang, beliau mendekati sumber suara. Ternyata suara aneh tersebut berasal dari kamar mandi. Setibanya di lokasi, Pak Agus membatu.

Dari dalam bak mandi keluar bayi berkulit hitam legam yang dulu pernah menampakan diri. Bayi itu merangkak dengan kecepatan yang tak terduga menuju ke arah kolong ranjang tempat Pak Agus tidur bersama istrinya. Hawa ketakutan melandanya. Ia segera membangunkan istrinya dan menyuruhnya pindah untuk melanjutkan tidur di ruang tengah hingga malam-malam berikutnya.

Bukannya menghilang, penampakan disertai suara tangisan bayi itu malah makin menjadi-jadi. Pernah suatu malam Pak Agus terjaga di tengah malam dan merasa perutnya seperti ditindih sesuatu. Ketika ia membuka selimut, sosok bayi hitam itu ada didalamya sedang menatapnya sambil menangis mengerikan dengan matanya yang menyala merah.

Gelagat aneh mereka pun mulai tercium oleh warga sekitar. Para tetangga makin khawatir dan memaksa mencari tahu apa yang menimpa keluarga baru itu. Lagi-lagi, Pak Agus hanya bungkam dan memberi alasan lain agar tetangganya tetap tenang. Sebaliknya, kisah-kisah mengerikan yang menimpanya justru di ceritakan kepada rekan guru di sekolahnya.

Terakhir kali dia mengeluh kepada Pak Wardoyo kalau tengkuknya mulai sakit-sakitan karena tak pernah tenang tidur. Pak Wardoyo yang mulai tak tahan akhirnya diam-diam mendatangi rumah rekannya itu. Beliau juga berbagi cerita kepada para tetangga tentang pengalaman gaib yang dialami seluruh keluarga penghuni rumah angker itu. Para tetangga yang mendengar penjelasan itu mulai menyebarkan isu mulai berspekulasi tentang masa silam rumah itu.

Lalu, puncak misteri yang mengerikan pun terjadi. Malam itu, istri Pak Agus mengalami pecah ketuban dini dan terpaksa melahirkan di kamarnya. Bidan terdekat telah hadir di lokasi, Bersama dengan beberapa ibu-ibu yang tinggal di sekitaran rumah itu. Pada proses kelahiran calon putra ketiganya, beliau mengalami pendarahan hebat. Karena panik, Pak Agus menghubungi Pak Wardoyo dan memanggil beberapa tetangganya.

Beberapa warga berinisiatif mengambil alih anak-anak Pak Agus dan mengamankannya di salah satu rumah warga. Bidan setempat rupanya tak mampu berbuat banyak. Bu Agus terkena aneurysme akut. Ia harus segera dibawa ke rumah sakit. Di tengah kekalutan proses persalinan itu, tiba-tiba Bu Agus berteriak histeris sambil menunjuk-nunjuk ke arah lemari. Ia meneriakkan kata-kata yang sulit di mengerti orang-orang di bilik persalinan itu.

“Jangan ambil bayiku! Jangan ambil bayiku!”.

Mobil warga yang hendak dipakai untuk membawa Bu Agus ke rumah sakit tiba. Namun terlambat. Bayi keburu lahir. Dan ketika keluar dari rahim, bayi itu sudah tak bernyawa, berlumuran darah dan tubuh pucatnya dikerubuti belatung. Warga yang menyaksikan peristiwa itu terkesiap dirundung kengerian. Selepas penanganan dini oleh bidan setempat, Bu Agus segera dilarikan ke rumah sakit.

Esoknya, warga berduyun-duyun mendatangi keluarga Pak Agus dan meminta beliau untuk membongkar lantai rumahnya. Izin diberikan begitu saja oleh Pak Agus setelah diyakinkan oleh sahabat sekantornya, Pak Wardoyo. Proses pembongkaran ini di gagas oleh Pak Wardoyo sendiri Bersama beberapa warga yang telah melakukan penyelidikan terhadap riwayat silam rumah itu.

Ketika pembongkaran dilakukan, ditemukan banyak sekali tulang belulang bayi yang dikubur di bawah area ranjang Pak Agus. Penemuan tulang-tulang ini dilaporkan ke polisi dan mencoba menelaah ulang kasus-kasus lama.

Rupanya rumah itu adalah bekas rumah aborsi. Hampir puluhan bayi mati di tempat itu. Konon, salah seorang bayi milik si dokter aborsi dibunuh dengan cara ditenggelamkan dalam bak mandi dan dikubur bersama bayi-bayi dan janin-janin lain di rumah itu. Sejak terbongkarnya kasus itu, keluarga Agus pindah ke komplek perumahan lain. Beliau memilih tinggal sebagai tetangga Pak Wardoyo.