Cermin Misterius Pemberian Tante

Cerita Hantu > Kisah Misteri > Cermin Misterius Pemberian Tante

Hari ini tante datang. Seperti biasa, tante Maya membawakan hadiah untukku. Kali ini hadiahnya adalah sebuah cermin berdesain mewah. Aku sangat menyukai cermin itu. Kebetulan di kamarku ada paku kecil hingga aku bisa langsung memasang cermin itu. Setelah menemani tante mengobrol, tante Maya pun pamit pulang.

Sore itu, aku berkaca di depan cermin tadi. Tampak sebuah titik di pipiku. Kukira hanya semacam luka biasa. Aku tidak memperdulikannya dan langsung pergi. Malamnya ketika aku mau tidur, aku merasa pipi kananku agak perih. Aku segera melihat ke arah kaca. Ternyata luka yang tadinya hanya sebesar titik, sekarang sudah sebesar kelereng. Aku memberinya salep, lalu tidur.

Esoknya aku bangun, aku menyisir rambutku dengan posisi menghadap ke cermin. Aku terbelalak. Luka itu membesar, menjadi sebesar uang logam. Aku sangat ketakutan. Segera ku ambil jarum untuk memecahkannya. Tapi begitu ujung jarum menyentuh luka itu, ada rasa sakit tidak tertahankan. Aku segera melempar jarum itu. Aku segera turun, untuk mencari mamaku. Tapi aku lupa kalau mama dan papaku lagi pergi ke Singapura.

Read Another Stories:

Sorenya ku pandang cermin itu. Tampak, kini luka itu sudah sebesar telur. Aku hanya bisa pasrah, dan meratap. Tiba-tiba terdengar suara dari belakangku, buanglah cermin itu! Kata suara itu. Aku segera menengok ke belakang. Tak ada siapapun ternyata di belakangku. Aku tak memperdulikan suara itu dan asik membaca komik. Buanglah cermin itu! Kata suara itu lebih keras. Aku diam saja, dan memutuskan untuk tidur.

Aku terbangun di pagi itu, dengan pipi kanan yang amat teramat perih. Aku melihat kini luka itu sudah sebesar buah jeruk. Aku takut sekali. Aku ingin memecahkannya tetapi aku tidak punya cukup banyak keberanian. Akhirnya setelah diam sejenak, lalu cepat-cepat menusukan jarum ke luka itu. Tiba-tiba muncul beribu-ribu kelabang dan kalajengking yang menyerang mukaku. Lalu aku pingsan.

Hari ini banyak orang berdatangan ke rumahku. Ibu dan ayahku juga langsung pulang dari Singapura. Tampak bendera tanda berduka, dipasang di depan rumahku. Semua tampak menangisi kepergian seseorang. Aku tahu orang itu, dan bahkan kenal dekat. Karena orang itu adalah aku.