Cerita Hantu > Kisah Misteri > Jadi Pak Anwar Tadi itu Siapa?

Jadi Pak Anwar Tadi itu Siapa?

Assalamualaikum, selamat membaca. Aku tersenyum di layar handphoneku, melihat wajah teman-teman SMP ku dulu yang kini sudah mulai dewasa bahkan sudah ada yang sebentar lagi akan menikah.

“Bis, kamunya kapan nyusul nie?” kata teman SMP ku yang bernama Ifah.
“Hehe doain saja ya, aku cari kerja dulu bantu mama buat rumah” kataku.
“Ahh jangan lama-lama kalau di Malaysia ya, ntar kita pada kangen” kata teman SMP ku bernama Tuti.

Video call melalui whatsapp bersama ifah, tuti, dan laifa membuatku semakin merindukan mereka bertiga. Hingga tiba-tiba laifa berkata hal ini kepadaku.

Read Another Stories:

“Ehh bismi aku lupa kasih tau kepadamu tentang hal ini, satu bulan yang lalu aku ketemu sama pak anwar lo, katanya dia titip salam buatmu, sesekali main lah ke SMP lagi katanya, ohh iya satu lagi sekalian katanya dia dulu lupa kasih hukuman sama kamu karena kamu nekat loncat dari jendela buat kabur dari mata pelajarannya” katanya yang membuatku berpikir ke-3 tahun yang lalu.
“Pak anwar mana ya? Aku lupa” jawabku.
“Aduhh itu lo bis, pak anwar Ips di SMP dulu, kamu kan baru saja tamat SMA 2019 ini masa itu saja lupa” kata tuti kemudian.
“Ouhh pak anwar SMP dulu ya, baru ingat aku 😅 hehe amnesianya pak anwar kelamaan 😂” jawabku.

Akhirnya setelah beberapa jam kami VC, pada pukul 4 sore itulah usainya pengobrolan kami bertiga. Aku menutup handphone dan malah melempar ke atas kasur bermotif Naruto itu. Kemudiann hujan deras mulai datang. Aku keluar kamar dan mendapati bibik innah sedang membereskan ruang tamu. Kemudian bel rumah berbunyi, bik innah segera membukakannya, kemudian dia memanggilku.

“Nak bismi, ada guru nak bismi diluar” katanya.
“Haah guruku?” kataku.

Aku lantas menuju ke luar, aku berdiri di pintu depan melihat wajah pucat seseorang yang seperti aku kenal.

“Pak anwar?” kataku yang mencoba menebak.
pak anwar mengangguk di balik muka pucatnya itu.
“Ayo masuk pak, kok tau rumah saya, hujan lagi, kan bapaknya basah” kataku sambil mempersilahkan pak anwar masuk.

Banyak perbincangan diriku bersama pak anwar sore itu, hingga kemudian pak anwar pamit dan memberikanku sebuah kado berwarna jingga. Ouhh iya aku lupa bercerita tentang pak anwar ini, yang ku ketahui pak anwar masih muda dan bisa dikatakan menjadi idaman para siswi di sekolah SMP ku dulu. Apalagi ketampanannya itu malah membuat guru muda menaruh hati kepadanya. Lain denganku yang dulu sudah berpacaran dengan ketua OSIS, jadi mau tidak mau aku tak akan pernah menaruh hati padanya. Saat ingin pulang pak anwar mengatakan hal ini kepadaku.

“Bismi sekarang masih bersama ketua OSIS itu?” tanyanya padaku yang membuatku agak malas menjawab.
“Emm tidak lagi pak, saya tak mau berpacaran sekarang, saya pengen sendiri saja dulu, terima kasih sudah datang pak” kataku sambil menunduk.
“Kamu sudah dewasa dan cantik, ya sudah bapak pergi dulu ya” katanya sambil berlalu.

Aku mengangguk hingga bik innah membawa handphoneku yang sedari tadi berdering.

“Halo, kenapa lagi laifa?” kataku.
“Ohh iya bis karena keasyikan ngobrol tadi aku lupa kasih tau kalau pak anwar 3 hari yang lalu sudah meninggal, sekalian besok aku mau ngajak kamu ke makam beliau, kalau gak salah beliau meninggal karena kecelakaan saat ingin ke sekolah, aku baru tau tadi pagi lo” kata laifa yang membuat handphone ku terjatuh ke lantai.

Aku melihat kado kecil jingga yang diberikan pak anwar padaku, aku menangis melihatnya, jadi pak anwar tadi itu siapa? Aku masuk kedalam kamarku dan membuka kado yang diberikan pak anwar, aku melihat sebuah gelang kupu-kupu biru yang indah. Aku jadi teringat akan kejadian 3 tahun yang lalu tepatnya di tahun 2016 bukan februari.

“Sini gelangmu bismi, bapak sudah katakan sekolah kita dilarang memakai gelang” bentak pak anwar sambil menarik paksa gelang yang ku pakai.
“Hei pak aku pakainya cuma sebentar doang, pelit amat sih, pak anwar jahat banget sih” kataku sambil meronta dari tangan pak anwar.
“Gelang kupu-kupu ini sementara waktu sama bapak saja, setamat SMP nanti bapak kembaliin lagi ke kamu” katanya sambil berlalu.
“Dasar bapak bawel” teriakku di sepanjang koridor sekolah.

Aku menutup mulutku agar tangisanku tak terdengar oleh bik innah, maaafkan aku pak anwar aku tak pernah bisa jadi murid yang baik untukmu, aku slalu membantahmu bahkan melawanmu dengan cara kasar, saat dulu aku masih kecil aku tak tau apa-apa tentang adab kepada guru. Maafkan aku Pak Anwar. Kemudian terselip sebuah kertas kecil di dalam kado. “Maafkan bapak yang dulu mengambil paksa gelangmu” itulahh kata-kata terakhir dari pak anwar. Sekian, wassalamualikum.

WA: 081370400622
Fb: Bismi Jasein