Anak Kucing

Cerita Hantu > Kisah Nyata > Anak Kucing

Hallo sobat KCH, lama sekali tidak pernah post cerita di sini. Apa kabar semua? Semoga sehat dan di mudahkan segala urusan. Jujur agak kebingungan mau menulis apa, lama sekali sepertinya membuat kaku juga dari mana harus memulai, oke saya coba langsung saja menceritakan kejadian yang sudah lama, mungkin sekitar dua tahun yang lalu.

Tepatnya malam hari sekitar waktu isya, waktu itu saya beserta anak dan suami sedang berkumpul di ruang tamu, seperti biasa saat jam seperti itu kami sedang menikmati waktu untuk menonton televisi. Saat sedang berdiri untuk mengambil sesuatu entah dari mana datangnya tiba-tiba saya mendengar seekor anak kucing terjatuh di plastik kamar (tiap kamar di rumah saya di atasnya, tepatnya di bawah atap memang semua di lapisi plastik tebal bertujuan agar saat hujan jika ada kebocoran air tidak jatuh ke kasur, plastik di paku pada tiap sisi tembok kanan kiri dan tengah jadi seperti atap ke dua).

Saya menyimpulkan itu anak kucing karena memang mengeong sambil berputar-putar mengelilingi plastik seperti mencari jalan keluar, saat itu wujudnya tidak terlihat karena warna plastik yang coklat kehitaman karena debu, saya hanya melihat gerakan yang berjalan berputar sembari suaranya yang terus mengeong seperti minta tolong. Saya langsung memanggil suami untuk menolong kucing tersebut untuk turun.

Read Another Stories:

“Mas, itu ada kucing di atas plastik kamar, turunin gi kasian” kataku.
“Anak kucing dari mana to, dek. Itu kamar kan rapat gak ada jalan masuk, jendela juga di bawahnya plastik, masa iya itu genteng bolong” timpal suami.

Benar juga, gumamku dalam hati “tapi liat to, wong emang ada anak kucing kog, masa iya ini mata sama telingaku gak beres”.

Setelah itu suami beranjak dari tempatnya untuk melihat anak kucing tersebut, dan hasilnya nihil! Entah kemana anak kucing tadi, padahal saya tak melihatnya keluar. Untuk turun pun sangat tinggi dan tak ada jalan sama sekali, semua di kelilingi tembok jadi tak mungkin kalau lompat setinggi itu, di tambah lagi dari suaranya kucing itu masih kecil sekali, biasanya kucing seumuran seperti suara itu masih menyusu belum berani lompat dari ketinggian juga (saya pecinta kucing, jadi sedikit mengerti tentang kucing).

“Mana? Gak ada, dek” tanya suami.
“Loh, tadi ada kog serius! Saya lihat sendiri itu kucing muter-muter cari jalan buat turun sambil meong meong terus”.
“Dek, lihat toh sekeliling tembok semua, atap rapat gak ada yang bolong. Dari mana kalau ada kucing jatuh ke situ, jatuh dari mana? Lagian tinggi ini mana mungkin bisa turun kalau benaran ada anak kucing” kata suami.
“Iya sih, tapi serius tadi ada kog. Masa gak denger ada meong-meong tadi” jawabku.
“Iya, tadi mas juga denger tapi kalau di pikir kan emang gak mungkin. Udah gak usah di gubris” kata suami sambil pergi menonton televisi kembali.

Saya yang masih keheranan masih mencoba mencari anak kucing tadi, mendongak ke atas mungkin masih ada di sana, tapi benar-benar lenyap tidak ada jejak sama sekali. Plastik pun diam tidak seperti tadi yang terus bergerak. Saat saya pastikan benar-benar tak ada anak kucing di sana saya kembali ke ruang tamu untuk menonton televisi bergabung dengan suami.

“Gimana? Ada?” tanya suami.
“Gak ada, mas. Kemana ya? Kog aneh” saya masih keheranan.
“Udah gak usah di gubris, paling iseng doang” jawab suami sambil mringis tanda mengejek karena tau saya penakut.
“Ah, udahlah” kataku sambil cemberut menonton tv.

Jadi sampai saat ini pun saya belum tahu kucing kemarin itu apa dan kemana. Sekian dari saya, maaf kalau kocar kacir cara penulisan. Harap maklum pemula. Ha ha. Terima kasih bang jhon karena sudah mau memposting tulisan saya.