Ketika Tidak Mudik

Cerita Hantu > Kisah Nyata > Ketika Tidak Mudik

“Dona, tahun ini kamu benaran gak mau mudik?” ucap Asih, teman seperjuanganku di Amerika.

Ya, saat ini aku berada di Amerika, dan baru kali ini aku mendapat majikan Non Muslim. Meski sebelumnya mendapat majikan orang Emirat Arab yang tinggal di Amerika juga. Dua tahun lamanya disini, dan sudah 2 kali lebaran membuatku ingin bersantai. Meski tiap hari kerjanya hanya santai, bersih-bersih di tempat yang terbilang bersih karena pemilik rumah jarang pulang.

Ku akui, di sini tidak ada debu tapi tetap di bersihkan, karena ada CCTV di bagian ruangan tertentu, biar terlihat bekerja tentu saja ku bersihkan area hehe. Libur lebaran ke-2 tahun ini aku sengaja tidak ambil cuti, karena cuma dapat jatah 4 hari. Selain singkat, tentu saja ingin berhemat.

Read Another Stories:

“Dona, kau serius tidak pulang ke Indonesia?” tanya majikan perempuan yang ikut mengganti namaku seenaknya, hingga Asih pun mengikutinya.
“No, madam” jawabku singkat dengan seulas senyum semanis mungkin, hehe.
“Ok, itu berarti kamu sendirian di rumah, madam dan dady akan pergi selama 3 hari” ucapnya.
“Apa kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?” tanya Dady.
“No problem Mr, it’s ok” jawabku.
“Ok, kalau begitu, Dady dan Madam akan berangkat besok pagi, dan Asih juga” kata Dedy.

Akhirnya waktu yang di tunggu tiba, liburan.

“Ah, akhirnya bisa bersantai, tapi semakin sepi tanpa celotehan si Asih” gumamku.

Aku duduk sambil tiduran di kursi tamu yang di ruang tengah. Ada pintu masuk ke ruang bawah tanah, yang di gunakan Mr dan keluarganya serta teman-temannya bermain Tenis Meja di sana dan ada gudang juga di ruang bawah tanah.

Sambil berkhayal sedang apa Asih di Indonesia, dan gimana kabar keluargaku di sana. Tiba-tiba telingaku mendengar suara “tak, tok, tak, tok” di ruang bawah tanah. Ku dengar lebih teliti lagi sambil mengingat-ingat suara itu, karena merasa tidak asing bagiku. Setelah otak santaiku menerima ingatan, itu adalah suara bola tenis yang sedang di mainkan oleh pemain Tenis Meja.

“Hei tunggu dulu!? Siapa yang main Tenis Meja? Sedangkan hanya aku yang di rumah ini” gumamku dalam hati, sembari duduk tegang. Namun suara itu tetap tidak berhenti, bahkan semakin keras di telingaku “tak, tok, tak, tok”. Bulu kudukku meremang, saat itu pula aku lari terbirit-birit dan masuk ke kamarku. Ku tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan wajahku.

Ku buka sedikit selimut yang menutupi wajahku sambil duduk di atas ranjang, ku mulai menangis ketakutan. Ku ingat lagi kejadian saat dulu, waktu Pretty anak bungsu majikan yang sedang tidur di kamarnya. Kala itu aku bertugas menidurkannya membacakan cerita penghantar tidur. Saat Pretty terlelap aku menyelimutinya, tangannya masih memeluk boneka berbentuk tikus kesayangannya.

Kamarnya memang banyak sekali mainan dan aneka boneka dari yang kecil hingga besar, mungkin bisa di bilang gudang bermain saking banyaknya, namun tersusun rapih pada tempatnya. Nah saat itu, aku hendak ke kamar kecil untuk BAK, pas sudah selesai dan ku buka pintu kamar kecil menuju tempat tidur Pretty, kulihat di kelilingi tikus besar yang berlarian di atas tubuhnya yang sedang tidur pulas itu, sontak aku terkejut dan berlari keluar kamar sambil menjerit panik ke Madam.

Saat kami lihat sama-sama tidak terjadi apa-apa, bahkan tikus sebesar boneka itu tetap berada di pelukan Pretty. Akhirnya Madam mendengus kesal, dan mulai menyalahkanku. “Kamu hanya berhalusinasi, lain kali jangan suka nonton film horor” cercanya, yang ku balas meringis karena ketahuan sering nonton film horor bersama Asih.

Ku tersadar dari lamunan dan kini ku menangis sejadi-jadinya, menyesal tidak ikut mudik bersama Asih. Berharap dalam doa “Mr, Madam, cepat pulang!? Huhu” tangisku. Sekian.