Santet Bagian 2

Cerita Hantu > Kisah Nyata > Santet Bagian 2

Sebelumnya santet. “Itu dia!, tangkap” ucap seorang berseragam polisi menunjukku sambil memerintah rekannya. Persembunyianku di Tataan, rumah budeku terbongkar. Entah dari siapa mereka tahu persembunyianku, mereka mengejarku setelah bertemu budeku di pintu depan rumahnya.

Salah satu personilnya sadar keberadaanku yang nongol di belakang rumah karena penasaran. Kaget aku di buatnya dan hendak lari kabur, tapi apalah dayaku, tertangkap sudah. Ku tatap wajah mereka satu-satu, kulihat ada Sony bersamanya. Ku berontak, sebelum mereka menyergapku hingga terlepas dari jeratan tangan seorang polisi.

Aku kabur sekuat tenaga, bersembunyi entah kemana. Hingga berjalan berhari-hari dengan rasa takut, sedih, waspada dan “arrgh, dimana kamu Nokia” gerutuku dalam hati, sambil mengacak-ngacak rambut sendiri di pinggir jalan. Tidak perduli tatapan manusia berlalu-lalang mengira aku gila.

Read Another Stories:

Ku perhatikan penampilanku dan tersadar, “ternyata mirip orang gila beneran ya!?” gumamku dalam hati lalu tersenyum sendiri. Perutku berbunyi, tanda demo cacing sejak kemarin belum di beri haknya untuk makan. Uangku habis, bahkan jaket mahalku ku jual untuk makan. Celana jeans mahalku juga kurelakan untuk menyambung hidup beberapa hari di jalan, aku seperti gembel yang tanpa tujuan.

Tidurpun tak punya tempat tuk bernaung dari panas dan hujan. Tinggalah kaos dan celana pendek di badan, serta sendal jepit tuk alas kaki. Karena sepatu Filla baruku sudah kujual tuk makan dan membeli sendal yang kini ku pakai. Ku hampiri sebuah proyek pembangunan gedung di sebuah kota Tanjung Karang.

Berharap ada lowongan pekerjaan di sana. Dan setelah bertemu pak mandor, akhirnya di perbolehkan bekerja dan memintanya untuk menggajiku harian saja untuk makan. Meski sudah di sediakan makan siang di sana. Pak mandor menyuruhku kerja mulai besok, tapi aku tidak mau, karena sangat butuh uang.

Sore pun tiba, semua pekerja bersiap hendak pulang, salah satu pekerja menyapaku dan mengajak pulang bareng dengannya. Aku menolaknya, dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dulu dengan alasan mau mindahin barang meski tak ada. Terpaksa ku bohongi karena aku sendiripun bingung mau pulang kemana.

Aku pun mencari bekas karung semen dan kardus untuk bermalam di proyek saja, pikirku. Sebelum mereka datang, aku harus bangun. Hingga tubuhku tambah lusuh, perutku mulai bernanah di bagian pusar entah kenapa. Sepulang mencari makan malam, ku berbaring di atas tanah beralas karung semen.

Jika hujan tiba, kurapatkan kardus menutupi tubuhku agar terhindar dari terpaan air hujan dan dinginnya malam. Dalam keadaanku ini, ku teringat ingin pulang, ingin sekali bertemu dan memeluk ibu. Tapi aku takut, aku takut keluargaku terlibat meski mereka tidak tahu apa-apa.

Ku menangis rindu ibu, disaat cobaan bertubi-tubi menghampiriku. Ku teringat ancaman Sony dan orang tuanya, jika aku tidak mengembalikan Nokia kepada mereka, orang tuaku akan ikut di penjara juga. Itulah sebabnya, aku tidak akan pulang sebelum Nokia ketemu, dan takut orang tuaku jadi korban.

Dalam lamunan dan tangisanku, ku mulai lelah dan terlelap di penghujung pagi. Aku terbangun setelah seorang pekerja bangunan yang kemarin mengajakku pulang bareng membangunkan tidurku. Aku terkejut, diapun begitu. Aku malu, setelah dia tahu aku tidak pernah pulang dan tidur di proyek ini.

Meski tatapan iba darinya ku tepis. Aku keluar pamit, tidak bekerja lagi. Aku kabur lagi, tidak ingin seorangpun tahu tentang hidupku. Kembali seperti gembel, jalan tak tentu arah, hinaan dan pengusiran dari pemilik rumah yang kulewati sudah terbiasa bagiku. Hingga aku bertemu dengan temanku Advan, dia kerja sambil ngekost .

Akhirnya dia menawariku untuk tinggal di kostnya. Aku mulai mandi, setelah 4 harian tidak mandi sejak dari rumah bude hingga kabur. Ku di pinjamkan bajunya juga, mungkin dia kasihan melihat kondisiku. Hingga beberapa hari di kostnya, membuat perut nanahku pulih. Selama tinggal bersamanya aku mulai tidak enak terus-terusan merepotkannya.

Kalau Advan ada uang, dia selalu beli 2 bungkus nasi untuk makan malam, jika tidak beli 1 bungkus.
Jika dia beli 1 bungkus aku tidak mau memakannya, dengan alasan sudah makan. Padahal sejak pagi belum ada makan yang ku kunyah. Untuk menghindari curiganya disaat dia makan, aku pergi ke masjid terdekat. Merenung diri disana, hingga bosan.

Suatu hari aku dan Advan ngobrol bercanda kesana-kemari, hingga dia bertanya padaku atas kewarasanku. Itu membuatku kaget, dan balik bertanya “apa lu pernah lihat gua tertawa sendiri Van?” ucapku mulai serius, dan jawabannya membuatku mengernyitkan dahi.

“Bukan hanya tersenyum-senyum sendiri, bahkan lu sering bengong, kadang gua takut sendiri Sam, mau negur tapi takut lu marah” terang Advan sambil bercanda namun serius. Aku hanya terdiam merasa tak yakin, karena aku merasa tidak pernah tertawa tanpa sebab.

“Mungkin lu ada yang jahilin Sam, untung lu sering pergi ke masjid jadi gak parah, gua percaya lu masih normal, dan bisa terhindar dari jahilan orang atau sering di sebut Santet” ucapan Advan menambah dahiku mengernyitkan kembali.
“Santet!?” ucapku tak percaya.
“Ya, apa lu punya salah ma orang, hingga ada yang jahilin lu?” sergahnya.
“Tidak!, tidak ada, hanya saja gua di tuduh bawa kabur anak orang” ucapku apa adanya.

Hingga Advan bertanya lebih dalam lagi apa yang kurasakan selama ini meski dia tidak terlalu banyak ingin tahu ceritaku tentang gadis bernama Nokia itu.

“Lu ngalamin gejala santet Sam, lebih baik lu pulang jika tidak merasa menyembunyikan gadis itu, dan perbanyak sholat, biar ilmu hitam itu cepat musnah” ucapnya yang membuatku terdiam.

Bukan bermaksud tak mau pulang meski hawa ingin pulang dan menyerahkan diri ke rumah orang tua Kia untuk di Bui. Esok pagi ku berjalan keluar kost, hendak mencari kerja. Namun tidak ada yang mau menerimaku dalam keadaan kucel bak gembel begini. Aku malu terus-terusan numpang, kadang makan kalau ada tetangga bikin acara kenduri. “Aku harus cari kerja” pikirku.

Dan tak lupa, hinaan serta usiran pemilik rumah mewah di kota Karang. Hingga suatu pagi, aku melihat sebuah mobil yang bannya terjerembab di parit kecil. Seorang sopir di dalamnya berusaha dan kesusahan. Ku dekati mobil dan orang itu lalu berkata “banting setirnya ke kiri pak, dengan kecepatan penuh” ucapku.

Awalnya dia abai keberadaanku, setelah ku ucap begitu, dia malah memandangku dari ujung kaki hingga kepala.

“Maaf pak, tenang, saya bukan orang gila seperti mereka pikirkan, memang penampilan saya seperti ini, karena bajuku kujual semua” ucapku sambil tersenyum.
“Oh, maaf, kamu bisa nyetir? Apa kamu bisa bawa mobil ini?” ucapnya sambil tersenyum mengangguk.
“Insha Allah bisa pak” ucapku.

Lalu bapak itu yang namanya di sebut pak Oppo mempercayai mobilnya di setir padaku.

“Bismillah” ucapku, dengan satu kali gas dan banting setir ke arah yang ku perkirakan, akhirnya mobil naik ke posisi jalan yang benar.

Dengan ucapan terimakasih tak terhingga, dan memberiku uang ku tolak. Akhirnya dia bertanya tujuanku, dan kebetulan dia ada kerjaan dan menerimaku sebagai sopirnya. Setelah dapat gaji, ku mulai beli baju dan lainnya, ku bergantian beli nasi bungkus untuk Advan dan untuk seorang perantauan dari Metro yang sering menemaniku di masjid.

Seorang bapak paruh baya, yang selalu menasehatiku. Suatu hari, aku hendak ke rumah Nokia, untuk mencari info apakah dia sudah pulang atau belum. Tentu saja dalam keadaan menyamar, ku pakai topi, kumis dan jenggot palsu, suara ku perbesar-besarkan. Hingga Advan pun tak mengenaliku, ku kerjai dia meski dalam hati terkekeh. Hingga tukang somay yang mangkal di depan rumah Kia pun ku kerjai juga, padahal dia langgananku dulu.

Setelah selesai mengintai rumah Kia, aku ke terminal mencari temanku dan Sony. Ku tanya pada temanku tentang Kia dan keluarganya, dalam bentuk penyamaran diriku. Ku tahu, Kia sudah 3 bulan belum pulang juga. Kabarnya, keluarga Kia termasuk Sony sedang mencariku. Lalu ku minta padanya untuk memantau kabar rumah Kia dan kepulangannya. Ku beri dia nomor hp ku yang baru kubeli hasil kerja baruku. Dan merahasiakan jika aku menyamar.

4-5 bulan belum ada kabar tentang Kia. Suatu hari saat ku mengantar bapak Oppo ke kantor Samsat.
Dan baru saja memarkirkan mobil ,Sony beserta orang tuanya dan 2 anggota polisi berhasil meringkusku bagai buronan kelas kakap. Ku berontak hendak kabur lagi, tapi naas cengkraman serta borgol di tanganku membuatku tak berkutik, aku pasrah.

Bersambung. Terima kasih para reader yang sudi membaca, dan terima kasih kak jhon sudah mengedit ulang dan mempublish cerita ini. Mungkin besok adalah episode terakhir, dan akan ku tulis cepat jika sudah 50 review, hehe. Selanjutnya santet bagian 3.