Santet Bagian 3

Cerita Hantu > Kisah Nyata > Santet Bagian 3

Sebelumnya santet bagian 2.

“Bukan aku yang menyembunyikannya!?” ucapku meyakinkan pada mereka.

Tetapi tidak di hiraukan bahkan kepalaku di tutup dengan kain hitam dari atas hingga leher, seperti tahanan yang mendapat hukuman mati.

Read Another Stories:

“Arrrght sudahlah, tutup saja kepalanya dan masukkan ke dalam mobil” perintah ibunya Sony.

Setelah masuk dan mobil berjalan entah kemana, ku dengar mereka akan membawaku ke suatu tempat rahasia. Hampir 4 jam perjalanan “mau di bawa kemana aku!?” teriakku.
“Sudah diam!!” suara Sony, lalu tiba-tiba kepalaku pusing dan terasa berat karena pukulan keras barusan hingga tak sadarkan diri.

Hingga mobil berhenti, aku mulai terasa sedikit sadar namun masih lemas dan pura-pura masih pingsan. Ku rasakan tubuhku di seret-seret, hingga kudengar ketukan pintu.

“Tok, tok, tok, mbah buka mbah, ini saya” ucap ibunya Sony.

Kemudian suara pintu terbuka, ku dengar suara laki-laki paruh baya menyuruh kami masuk.

“Buka penutup kepalanya, dan siram dia dengan air biar sadar!?” perintah ibunya Sony.

Kurasakan kepalaku basah, dan ku mulai membuka mata perlahan seperti layaknya orang baru sadar. Ku pandangi sekeliling ruangan yang teramat asing bagiku. Banyak pajangan aneh di dinding geribik (anyaman dari bambu). Yang membuatku geli hampir bergidik adalah pajangan Kepala Kerbau lengkap dengan tanduk panjangnya, dan aneka sesajen serta bau kemenyan bakar yang berada di meja depanku berdiri dengan kedua lutut.

“Aku dimana?” tanyaku pada mereka, yang kini hanya ada ibunya Sony, Sony dan seorang laki-laki paruh baya berbaju serba hitam dan penutup kepala kain hitam seperti dukun dalam TV yang pernah ku lihat. Tanpa di jawab ibunya Sony berkata “ini dia ki orangnya, yang membawa anak saya Kia kabur dari rumah, ku harap aki bisa menyuruhnya untuk mengakui dan memberitahu dimana anakku berada!?” ucapnya tegas.

Kulihat mbah dukun/aki menatapku lekat, sambil jemari tangannya memegang janggutnya yang hampir belum tumbuh lebat lalu mengangguk-anggukan kepala, tanda mengerti. Dan kami di suruhnya untuk masuk ke sebuah ruangan khusus di bilik sebelah. Di situ ada semacam kendi berbentuk baskom besar, berisi air dan aneka bunga. Ku lihat mbah dukun sedang komat-kamit membaca mantra, lalu tangannya di masukkan ke dalam air tadi sehingga membentuk gelombang air.

“Kemari, dan lihatlah” ucap aki menyuruh aku, Sony dan ibunya untuk melihat sesuatu di baskom.
“Bukan anak ini yang membawa putrimu, tapi laki-laki di gambar itulah yang membawanya” ucap aki kemudian tersenyum melihat kami terheran-heran, dan tersenyum hanya tertuju padaku sambil manggut-manggut.

“Siapa dia yang bersama Kia, dan dimana sekarang!” geram ibunya Sony seolah tak terima dengan bukti nyata itu.

Sungguh, gambar di air bunga itu seperti pantulan acara TV yang bisa di tonton, nyata adanya. Di gambar jelas sosok laki-laki putih, tinggi besar dan di sampingnya ada Kia. Aku merasa sedikit lega, meski logikaku belum sepenuhnya menerima apa yang ku lihat. Bukan karena cemburu melihat Kia dengan laki-laki lain, tapi pikiranku heran dengan air yang ada gambarnya, meski aku tak terlalu percaya hal mistis atau sebagainya.

“Sudah jelas bu, anak ini tidak bersalah, anak ibu di bawa pria itu di daerah Pulau Jawa, dan keadaan anak ibu baik-baik saja, pria itulah yang melindunginya selama ini” ucap aki meyakinkan ibu Sony.

Namun karena tak percaya, dan seolah menganggap aki sekongkol padaku, ia lalu pergi dan menitipkanku pada aki. Dan nanti akan mengambilku lagi jika benar bukan diriku yang membawanya.
Sepeninggalan Sony dan ibunya dari rumah aki, kini diriku di landa keresahan ingin pulang rindu ibu dan keluargaku. Namun aki sabar menemaniku dan menerimaku tinggal bersamanya di gubuknya.

“Nak, simbah tau kamu orang baik, dan tau bukan kamulah yang membawa gadis itu pergi” ucapnya sambil memegang bahuku.

Aku hanya diam sambil tertunduk, kemudian mengangguk lemah.

“Apa kamu pernah merasakan sakit kepala dan sakit yang gak wajar?” ucapnya sambil menatapku lekat.

Ku angkat wajahku dan menatapnya, “iya mbah,darimana simbah tau?” ucapku heran.
Lalu dia tersenyum “maaf nak Samsung, sebelumnya ibunya Sony yang menyuruhku untuk mengguna-gunai mu, dan memutar gilirmu supaya menyerahkan diri padanya, tapi karena ku lihat dirimu bersih, sehingga saya enggan mengerjaimu lebih” ucapnya antusias.

Aku menggeleng tak percaya, orang-orang yang sudah ku anggap keluarga sendiri telah berbuat dzolim padaku.

“Sekarang kamu gak usah khawatir, kamu aman bersamaku, sepertinya ibunya Sony tidak puas dengan kerjaku, dan nampaknya dia mendatangi dukun lain” terawangnya.
“Besok pagi, akan ku mandikan kau dengan air bunga 7 rupa, untuk menolak bala, aku kasihan karena akan ada lagi yang mengerjaimu” ucap aki sambil memegang janggutnya, lalu menyuruhku untuk makan siang.

Esok harinya aku di mandikan air bunga 7 rupa, dan tentunya dengan ritual-ritual yang tidak ku mengerti. Setelah selesai, badanku terasa enteng/ringan, seperti tidak ada beban, terbebas entah dari apa. Kuceritakan kondisiku pada aki yang ku sebut simbah itu, lalu dia tersenyum dan menyuruhku untuk makan.

Sudah 4 hari di rumah simbah, hanya makan dan minum sambil menemani simbah ngobrol membuatku merasa tak enak hati. Pagi ini ku lihat simbah sedang pergi menuju taman bunga belakang, ku bergegas hendak pergi juga. Namun malu untuk berpamitan, dan tentu saja mungkin tidak di perbolehkan untuk pergi, karena aku belum di jemput oleh keluarga Sony.

Dengan langkah mengendap-endap, ku buka pintu depan,tak lupa meninggalkan secarik kertas di meja bertuliskan “simbah, maaf, Samsung pamit ya untuk mencari Kia, Samsung minta maaf sudah merepotkan simbah selama ini, saya berterima kasih banyak karena simbah telah sudi merawat Samsung, semoga simbah sehat selalu” dan kuletakkan di atas meja.

Ku berjalan mencari jalan raya, dan hendak pergi ke kota asalku Tanjung Karang, Bandar Lampung. Sesampainya di kota, aku pulang ke kostnya Advan, hingga beberapa hari. Akhirnya yang ku tunggu datang juga, suara gawaiku berbunyi, panggilan dari sahabatku yang ku pinta untuk mata-matai rumah Kia.

“Halo Sam, lu di mana, coba deh lu lihat rumah Kia ada Tenda Biru, gue denger itu pernikahan Kia” ucapnya dalam sebrang gawai.
“Serius lu, jadi si Kia dah pulang?!, ok akan ku cek kesana, thanks ya bro” ucapku lega.
“Ok bro, kayak apa aja lho” ucapnya sambil tertawa, kubalas tawa dan mengakhiri panggilan.

Ku bergegas pergi kerumah Kia untuk memastikan, meski tidak bertamu. Ternyata benar, ada tenda besar di depan rumahnya. Ku amati dari sebrang jalan, dan kulihat keluarga Kia tersenyum bahagia menyalami para tamu undangan. Lalu ku alihkan pandangan di kerumunan tamu dekat pelaminan, kulihat sekilas mirip Kia namun agak kurus badannya dan sampingnya laki-laki yang terlihat di gambar air waktu lalu.

Ternyata benar dan fakta, akhirnya setelah puas mengintai aku berani pulang ke rumah orang tuaku.
Dan di sambut ibu dengan tangisan serta khawatir, menanyai keadaanku.

“Ibu tidak apa-apa kan, tidak ada polisi kesini kan?” ucapku sambil memeluk ibu.
“Tidak ada lee, tidak ada yang kesini, kamu jangan takut pulang lee, kamu masih punya ibu dan bapak, sudah gak usah pergi-pergi lagi lee, ibu khawatir, ibu rindu” ucapnya sambil tersendu.

Aku meringkuk di pangkuan ibu, memohon maaf dan ah entahlah, pasti kalian pernah merasakan jika sudah lama ingin bertemu ibu namun keadaan tak memungkinkan, itulah rasanya ketika bisa bertemu. Setelah beberapa hari di rumah, orang tua Kia datang kerumah untuk menemuiku. Ibuku yang menemuinya, karena aku sedang trauma. Tapi atas bujukan ibu, akhirnya aku keluar dan menemui mereka. Ibunya Kia melihatku langsung menangis tersedu-sedu, sedangkan ayah Kia hanya menatapku sedih dan merasa bersalah.

“Apa-apaan ini bu, sudah-sudah bangunlah, tidak usah seperti ini, saya sudah memaafkan kalian sebelum kalian minta maaf” ucapku sambil membangunkan Ibu kia yang memeluk lututku, sungguh risih dan iba ku di buatnya, karena dia seorang ibu, wajarlah jika anaknya kenapa-napa.

“Sungguh mulia hatimu lee Samsung, ibu menyesal telah mendzolimi mu, ibu akui bersalah lee, ibu rela di penjarakan seperti yang ibu lakukan padamu, hiks” ucapnya memelas.
“Sudahlah bu, pak, kita anggap tidak pernah terjadi apa-apa, yang penting Kia kembali dengan selamat, kita mulai dari Nol dan urusi hidup masing-masing, dan satu lagi, tolong jangan gampang menuduh sembarangan dan tidak ada buktinya, jika suatu saat tuduhan itu mempermalukan diri sendiri” ucapku datar, dan membuat mereka bergeming.

Lalu sebelum pamit, ibunya Kia menyodorkan amplop berisi uang, namun ku tolak. Cintaku tulus bukan bulus, biarlah Kia bahagia dengan orang lain, jangan pernah rendahkan derajat manusia karena beda Kasta. Bukankah Tuhan menciptakan manusia semua sama, dan berasal dari benih yang sama.

NB: Kisah ini berdasarkan hidup narasumber, ceritanya memang tidak seram, tapi banyak pelajaran/hikmah yang dapat kita ambil. Jika ada kesalahan, dwi minta maaf. Sekian