Santet

Cerita Hantu > Kisah Nyata > Santet

“Sumpah!, bukan saya yang membawanya!?” ucapku meyakinkan mereka. Kisah ini adalah cerita pribadi perjalanan cinta tanpa restu dari orang tua. Nama tokoh di samarkan guna melindungi nama baik, jika ada kesamaan tempat dan kejadian mohon maaf.

Namaku Samsung, wajahku tidak terlalu tampan. Tapi banyak cewe yang mengantri ingin di cintai olehku. Pekerjaanku juga bukan orang gedean, aku hanyalah seorang sopir. Berbekal pengalaman bisa pegang setir mobil, aku bekerja sebagai sopir taksi mikrolet milik sahabatku.

Setiap pagi selalu standby di terminal, jika jadwal pulang sekolah anak SMA selalu standby di dalam halaman sekolah, meski itu tidak di ijinkan oleh pihak sekolah. Namun angkotku selalu penuh sesak, sehingga membuat kawan seperjuanganku iri. Suatu hari, adik temanku (pemilik angkot) mengutarakan cinta padaku.

Read Another Stories:

Bukan bermaksud tidak suka, tapi aku merasa tidak enak hati pada sahabatku Sony yang mau menerimaku sebagai karyawannya. Bahkan orang tuanya juga baik padaku saat aku berkunjung kerumahnya untuk bertemu sony. Ternyata diam-diam Kia menyukaiku, dan mengutarakan cintanya padaku. Karena kami tidak ingin keluarga Kia mengetahui hubungan kami, sehingga kami menyembunyikannya.

Namun, semakin hari Kia semakin lengket padaku. Dan membuat semua temanku curiga, meski kadang risih sendiri. Kia tipe cewe berwatak keras, apapun yang dia inginkan harus di turutin. Pernah suatu hari dia memintaku membawa angkotnya untuk pergi ke Pantai berdua, uang setor dia yang atur. Dan suatu hari yang membuatku kesal adalah ketika sedang ngetem di terminal, Kia datang dan ingin ikut narik.

Meski ku larang, dia bersikeras ingin ikut, seolah tidak ingin berpisah dariku. Bukan cuman 1 atau 2 kali, tapi sering. Sehingga membuat Sony kakaknya curiga, bahkan dia tahu dari temanku yang lain jika kami adalah sejoli. Hal yang ku takutkan terjadi juga, Kia akhirnya dikurung dirumahnya. Setelah ku bilang pada Sony, bahwa adiknya mengganggu ku bekerja.

Bukan apa-apa, ku hanya kasian pada Kia. Cewe seharusnya dirumah, malah ikut panasan cari uang, apalagi dia anak Boss. Berasa tak bagus jika ada apa-apa dengannya, nanti yang di salahin pasti aku. Namun itupun tak berangsur lama, Kia mulai berulah. Dia semakin sering menemuiku, bahkan ingin di ajak kemanapun yang ku mau.

Pernah ku ajak ke rumah bude yang di Tataan, ku ajak dia pulang tapi tidak mau. Kami menginap 1 malam di rumah bude karena kemalaman, esoknyapun ku antar dia kerumahnya. Semakin sering Kia menemuiku, semakin murka orang tuanya. Bahkan Sony menegurku, ku bilang padanya bahwa adiknyalah yang selalu menggangguku.

Sehingga Kia menerima perlakuan kasar oleh Sony dan orang tuanya. Itu sebabnya Kia sering mengajakku kabur dan kawin lari, tapi aku tidak mau karena masih memandang hormat pada Sony dan keluarganya.

Suatu hari, aku pergi ke Jambi. Di rumah kakak kandungku, yang bersuami dari Jambi. Ku ceritakan masalahku padanya, namun kakaku berkata “dek, kalau cari jodoh lihat-lihat dulu lah, kau dan dio beda kasta, memang kalian saling cinto, tapi tanpa restu orang tuo tak kan bahagio, sudahlah, lebih baik lupakan dio, tak baik bawa-bawa anak orang pergi menginap segalo” (bahasa Jambinya saya kombinasi, biar mengerti, hehe, padahal jujur gak bisa, haha, iklan).

Setelah mendengar penuturan ayuk/kakak, ku merenung. “Memang ada benarnya juga sih, Kia anak terpandang sedangkan aku?” gumamku.

Selama 6 hari di Jambi, akhirnya aku pulang kerumah.

“Assalamualaikum” ku ketuk pintu sambil mengucap salam.
“Waalaikumsalam, ya Allah lee, Samsung kamu sudah pulang, kamu tidak apa-apa kan nak?” sambutan ibu membuatku mengernyitkan dahi.
“Sudah bu, ada apa?” tanyaku.
“Kemarin ada yang nyariin kamu lee, dia bilang kamu bawa kabur anak orang” tuturnya khawatir sambil menggengam erat kedua tanganku.
“Tidak bu, saya tidak membawa siapa-siapa, saya dari rumah ayuk yang di Jambi” ucapku.
“Alhamdulillah, ibu kira kamu bawa kabur orang, gimana kabar ayukmu?” tanya ibu sedikit tenang.
“Baik bu, ya sudah saya mau mandi dulu ya bu, capek” ucapku kemudian membereskan ransel.

Keesokan harinya, aku hendak kembali bekerja seperti biasanya. Saat di terminal, tiba-tiba Sony mendekat dengan sorotan matanya yang tajam hendak menerkam. Baju berkerahku di cengkram olehnya dan menarik ke atas sambil melotot.

“Heh, kemana lu bawa Nokia!, lu sembunyikan dimana!?” geramnya.
“Apa?!, apa maksudnya” ucapku tak mengerti.
“Halah, jangan berlagak bego lu, lu kan pacaran ama adek gue, pasti lu yang bawa kabur dia kan!?” cercahnya.
“Beneran gak tahu, emang kemana Kia?” masih bingung.
“Ngaku gak lu!?, Nokia kabur dari rumah, pasti nemuin lu dan pergi bareng lu kan!? Ayo dimana dia sekarang!?” bentaknya sambil tambah mencengkram kuat.
“Sumpah, bukan gue yang bawa kabur, gue gak tahu dimana Kia berada” ucapku meyakinkan.

Tiba-tiba tangan sebelah Sony mengepal dan hendak melayangkan ke wajahku, namun di cegah oleh kawanku yang lain. Aku tersungkur setelah berhasil melepas cengkraman tangannya, lalu aku bangkit dan berlari entah kemana. Di rumahpun tak bisa tenang, karena ada polisi mencariku. Aku kabur lewat pintu belakang, sampai di tempat budeku di Tataan.

“Sam, waktu itu ada cewe nyariin kamu kesini, sepertinya dia cewe yang waktu itu kamu bawa kesini deh” ucap bude.
“Siapa? Kia ya bude?” tanyaku.
“Iya Sam, tapi nampaknya dia sedang sedih, matanya sembab, pipinya biru, kayak habis di pukulin” terang bude.

Aku hanya terdiam.

“Dia nyariin kamu, di kira kamu nginep di sini, tapi bude jawab gak ada, karena dah lama kamu gak kesini sejak terakhir kamu sama dia nginep” jelasnya.
“Terus sekarang dia kemana bude?” tanyaku penasaran.
“Tidak tahu bude, lha dia langsung pergi, katanya sih mau nyariin kamu gitu” ucapnya.

“Ke arah mana bude?” tanyaku.
“Kesana, dia duduk di sana, terus ada laki-laki hampirin, terus ngobrol lama, kayak sudah kenal gitu, laki-laki itu kayaknya orang dari jawa yang berkunjung di keluarganya tetangga bude” jelasnya panjang lebar.

Kemana Nokia pergi? Dan siapa yang di santet maupun menyantet? Ikuti saja ceritanya di KCH, terima kasih kak jhon. Selanjutnya santet bagian 2.