Restoran Gamjeung Myeonok

Home > Cerita Hantu Korea > Restoran Gamjeung Myeonok – 122 reads

Assalamualaikum … Selamat membaca, masih seputaran dunia negara Korea. Kejadian ini masih terjadi di akhir tahun 2018 tepatnya bulan Desember. Hari itu Jumat seperti biasa aku mengantar Aunmi ke sekolahnya, dikarenakan pak Choi si supir setia Aunmi mendadak sakit. Setelah mengantarkan Aunmi ke sekolahnya, kemudian nada handphoneku berdering, tertera di layar handphone tertulis nama “Kim Hoo Ra”.

Ahh si teman Korea setiaku ini akhirnya menelepon setelah 4 hari aku telah berada di Korea.

“안녕 .. 데이트 해 줄래? (annyeong .. deiteu hae jullae?/halooo maukah kamu berkencan denganku)”, penyakit lama hoora kembali muncul.

Read Another Stories:

“괜찮아 (Baiklah)”, jawabku padanya sambil tertawa kecil.

Aku menutup telepon, tertera di layar handphone kembali nama tempat yang kami kencani sekarang ini.

“Restoran Gamjeung Myeonok” yang terletak di jalan 26-1 Mye ong-dong 2-ga, Jung-gu Seoul Korea.

Setelah lumayan lama mengemudi, akhirnya diriku sampai di tempat tujuan. Aku masuk ke dalam restoran, melihat kesana kemari wajah yang sekian lama tak kulihat itu.

Dapat ku lihat seorang wanita berpakaian petak-petak warna hijau dengan jeans pendek sepaha itu sedang memainkan handphone di sudut ruangan restoran. Aku tersenyum melihat wajah cantiknya itu yang tak berubah dari tahun ke tahun.

“어서, 이제 너는 나를 알지 (eoseo, ije neoneun naleul alji/aigooo baru sekarang kamu kenal diriku)”, kataku sambil duduk.

Dan naas Hoora langsung datang memelukku dengan sangat erat.

“너무보고 싶어 (Aku sangat merindukanmu)”, katanya sambil memelukku.

“신경 쓰지 마 배고픈 음식을 주문하자 (Sudahlah, ayo pesan makanan aku lapar)”, kataku pada Hoora sambil memanggil pelanggan.

“김밥과 따뜻한 차 한잔 (gimbabgwa ttatteushan cha hanjan/aku ingin gimbab dan segelas teh hangat)”, kataku.

Hujan deras mulai turun, aku melihat Hoora yang sedikit kedinginan karena celananya yang terlalu pendek. Aku membuka tas, lalu ku serahkan jaket hitamku pada Hoora untuk menutupi pahanya itu.

“Gomawo (terima kasih)”, katanya sambil mengedipkan mata.

“기타 (Gita/ada yang lain?)”, tanya si pelayan.

“없다 (Eobsda/tidak ada)”, jawabku karena Hoora juga pesan gimbab dan teh sepertiku.

“맥주는 어때? (bagaimana dengan bir)”, kata pelayan itu lagi.

Entah dia mengatakannya padaku atau kepada Aunmi, tapi bukankah dia tau kalau aku Muslim dengan Hijabku ini? Lantas kenapa dia bertanya lagi?

“음 난 맥주 안 마셔요 … 넌 어때? (eum nan maegju an masyeoyo … neon eottae?/aku tidak minum bir,, bagaimana denganmu?)”, tanyaku pada Hoora.

“아주 조금 (Aju Jogeum/sedikit saja)”, Hoora.

“고마워 .. 기다려주세요 (baik terima kasih silahkan menunggu)”, jawab si pelayan sambil sedikit membungkuk.

Aku melihat keluar jendela, hujan deras tak kunjung reda juga. Padahal ini masih jam 8 pagi, tapi suasana mendung membuat hari terasa jam 5 sore … aku melihat ke arah pojok kanan, ada seorang anak kecil sedang memainkan handphone, dan seorang wanita paruh baya sedang duduk di sampingnya. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena tertutup rambut panjangnya, tetapi kenapa ia selalu menunduk? Aku tetap memperhatikannya tanpa berkedip … ahhh mungkin dia tertidur.

“나디아,이 식당의 귀신 이야기 들어 본 적있으세요? (nadia, i sigdang-ui gwisin iyagi deul-eo bon jeog-iss-euseyo?/pernah dengar cerita angker restoran ini Nadia?)”, perkataan Hoora membuatku berpaling dari wanita itu.

“어떤 이야기 (Cerita seperti apa?)”, tanyaku.

Tak lama kemudian si pelayan restoran membawa pesanan kami.

“이 식당 주인이이 식당을 지배하기 위해 온 가족을 학살 한 여자라고 들었어요 (i sigdang ju-in-ii sigdang-eul jibaehagi wihae on gajog-eul hagsal han yeojalago deul-eoss-eoyo/aku dengar pemilik restoran dulu ini adalah seorang wanita yang membantai seluruh keluarganya agar bisa menguasai restoran ini)”, jelas Aunmi padaku.

“그는 지금 죽었습니까? (apakah ia sekarang meninggal?)”, tanyaku.

“네가 식당 화장실에 목을 매달아 서 죽었습니다. 그의 비밀도 드러났기 때문입니다. (nega sigdang hwajangsil-e mog-eul maedal-a seo jug-eossseubnida. geuui bimildo deuleonassgi ttaemun-ibnida/iya meninggal karena gantung diri di toilet restoran, karena juga rahasianya ikut terbongkar)”, jelas Hoora sambil meneguk birnya.

“전통 이야기 (Jeontong iyagi/kisah yang tradis”, jawabku.

Kemudian aku terfokus lagi melihat wanita yang berada di pojok kanan restoran, tapi kali ini ia malah menatapku … tatapan dingin dengan wajah yang pucat. Aku pangling sendiri,aku melihat Hoora masih saja sibuk dengan makanannya, tanpa disangka-sangka lampu restoran padam, suasana yang tidak begitu ramai di restoran menambah kesan horor tersendiri dengan cerita Hoora Tadi.

“얼간이 ,,, 서둘러 불을 켜 (Brengsek cepat lah hidupkan lampunya)”, perkataan Hoora membuat seisi restoran melirik ke arah kami.

Suasana dingin dan agak gelap ini membuatku merinding, ditambah lagi kata si pelayan butuh beberapa waktu untuk memperbaiki listriknya. Ahhh menjengkelkan, beberapa orang mulai meninggalkan Restoran ini, hanya saja beberapa meja saja yang menunggu sampai lampu kembali di hidupkan.

Aku melihat kembali ke arah wanita di pokok kanan Restoran, dan alangkah terkejutnya aku, bahwa wanita itu sedang menggantung pada seorang pria di sebelah kiri. Menggantung layaknya seperti monyet yang merekat pada punggung pria itu.

Dan anak kecil yang bermain handphone tadi melihatku sambil menunjukkan jari telunjuknya ke bibir. Menyuruhku untuk diam!! Aku terdiam, keringat dingin mulai keluar, agak sedikit gemetar datang menghampiriku. Aku masih saja melihat wanita itu melengket di punggung pria itu. Apakah pria itu ayah si anak kecil itu!

Ahhh entahlah aku takut … aku memejamkan mata, hingga petir ikut menyambar dan itu membuatku syok dan saat ku membuka mata, lampu sudah di hidupkan kembali.

“왜 나디아 땀을 흘리는거야? (wae nadia ttam-eul heullineungeoya?/kenapa dirimu berkeringat Nadia?)”, tanya Hoora sambil menghapus keringatku dengan sapu tangannya..

“열이 나서 (mungkin karena aku demam)”, jawabku.

Aku melihat ke sekeliling kembali, terutama ke tempat duduk di pojok kanan restoran. Anak kecil itu masih tetap ada sambil memainkan handphonenya, tetapi aku tidak melihat wanita paruh baya tadi. Ahh dia menghilang, hanya saja pria tadi masih saja mondar-mandir ke sana kemari sambil memeriksa beberapa menu restoran.

“그 남자는 누구인가 (geu namjaneun nugu-inga/siapa pria itu?)”, tanyaku pada Hoora.

“아 그는이 식당을 소유하고 있습니다. 그는 주인의 사촌입니다. (a geuneun-i sigdang-eul soyuhago issseubnida. geuneun ju-in-ui sachon-ibnida./ahh dia pemilik restoran ini, dia sepupunya si pemilik wanita itu)”, jawab Hoora.

Ahhh bukankah ini aneh? Apakah ini artinya bahwa ia di ikuti oleh wanita yang ku lihat tadi? Hoora juga bercerita kalau toilet restoran ini lumayan angker, tapi karena makanan restoran ini lezat, lumayan banyak juga yang datang walaupun tau restoran ini angker. Aku terdiam tak berkata apa pun lagi … setelah selesai makan, aku mulai bertanya pada Hoora.

Apakah malam hari restoran ini buka! Dan kata Hoora setiap malam Kamis restoran ini selalu tutup, entah karena bertepatan pada malam bunuh diri si wanita itu juga atau tidak. Hoora kurang tau, by the way kalo di lihat dari luar agak serem juga sih bangunan restorannya.

Di tambah lagi ada ayunan anak kecil di samping halaman restoran. Kata Hoora lagi, kalau ada yang melewati Restoran ini pada malam hari, sering terdengar suara tangisan atau teriakan yang nyaring. Wishhh sudah kayak gitu masih saja banyak orang yang datang ya bund 🙃

Ok cukup sekian cerita dariku, yang mau berteman dengan Hoora aku sisipkan Namanya di bawah yappo. Hoora lebih tua setaun denganku, dia kelahiran 2000 sedangkan aku 2001. Dia adalah seorang mahasiswi seni Universitas Hanguk Korea, wishhh keren kan.

Oh iya by the way rumah Hoora juga angker juga loo … iyap karena rumah Hoora juga berkesampingan dengan bekas kuburan orang Tionghoa, kapan-kapan aku ceritakan juga ya. Thanks for you yang sudah baca 😚🤗🤗

My Ig: @bismi_jasein1108
WhatsApp: 081370400622
Ig Hoora: @HooRaSa_Kim67