Tangisan di School Dulwich College Seoul

Home > Cerita Hantu Korea > Tangisan di School Dulwich College Seoul – 77 reads

Assalamualaikum sobat KCH semuanya … ketemu lagi denganku Bismi Jasein pastinya … yuhuuu setelah sekian lama akhirnya cerita tentang keanehan SMA tempat aunmi bersekolah ini akan kutulis ๐Ÿค— yeyyy langsung saja ya ke ceritanya.

Di akhir tahun 2018 (aku masih kelas 3 SMA) tepatnya di bulan Desember merupakan bulan dimana semester liburan datang menghampiri selama 2 minggu ๐Ÿ˜‚ alhasil aku dan paman awir mengunjungi paman Aulia ke Korea ๐Ÿ˜˜ uhuyyy sudah lama gak bertemu bibi Jinggo, Taehyung, dan juga aunmi hehe.

Wis, wis, tak lama kemudian akhirnya kami berangkat ke Korea dan sampai pada jam 1 doang waktu Korea. Setelah sampai di Seoul langsung saja dah gasken ke rumah paman Aulia dan Bibi Jinggo.

Read Another Stories:

Nah aku masih ingat hari itu hari selasa, diriku yang masih saja melahap makanan buatan bibi Jinggo mulai merasa mengantuk .. apakah ini karena efek makan yang terlalu banyak ๐Ÿ˜‚ hahah tentu tidak bukan … kemudian bibi Jinggo menepuk pundakku seraya berkata.

“Nadia, haggyoeseo aunmileul delileo gal su isseubnikka? (Nadia bisa kamu jemput aunmi di sekolahnya?)”, perkataan bibi Jinggo membuatku tersedak.

“Wae? (kenapa)”, jawabku.

“์ด๋ชจ๋Š” ํŽธ์˜์ ๊ณผ ๊ฑฐ๋ž˜ (Imoneun pyeon ujieomgwa geolae/bibi ada urusan dengan toserba)”, jawab bibi Jinggo sambil merayu padaku.

“๊ดœ์ฐฎ์•„ (gwaenchanh-a/baiklah)”, jawabku dengan perasaan terpaksa ๐Ÿ˜ผ

Selesai makan aku langsung saja menuju ke alamat sekolah Aunmi berada bersama dengan pak Choi si sopir terpercaya paman Aulia. Sekolah Aunmi yaitu “School Dulwich College Seoul” berada di Jalan 6 sinbanpo-ro 15 Gil, Banpo 2-dong Seocho-gu Seoul Korea ๐Ÿ˜š

Setelah sampai pada pukul 3 sore, langsung saja diriku masuk setelah meminta ijin pada satpam di pintu gerbang. Sekolah sudah lumayan sepi, pada pulang mungkin ya .. dan tak begitu jauh terlihat sekelompok anak SMA berjumlah 4 orang sedang nongkrong di dalam kelas mereka. Karena takut kesasar nyari kelas si Aunmi, akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada mereka. Aku pun mengetuk pintu kelas mereka, lalu mereka berlima pun menoleh dan menatap kepadaku.

“Annyeong,10/2 ์ˆ˜์—…์ด ๋‚˜ ๊ฐ”๋Š”์ง€ ๋ฌผ์–ด ๋ณด๋Š” ๋ฏธ์•ˆํ•œ ํ—ˆ๊ฐ€ (10/2 sueob-i na gassneunji mul-eo boneun mianhan heoga/halo ijin bertanya apakah kelas 10-2 sudah keluar?)”, tanyaku.

“๋ˆ„๊ตฌ๋ฅผ ์ฐพ๊ณ ์žˆ๋Š” ๊ฒƒ ๊ฐ™๋‚˜์š”? (nuguleul chajgoissneun geos gatnayo/Sepertinya sudah cari siapa ya?”, jawab si cowok rambut pirang.

“Aun Mi”, jawabku.

“Ahhh Aunmi ๋Š” ์ง€๊ธˆ ๊ณผ์™ธ ์ˆ˜์—…์—์žˆ๋Š” ๊ฒƒ ๊ฐ™์Šต๋‹ˆ๋‹ค (ahhh Aunmineun jigeum gwaoe sueob-eissneun geos gatseubnida/Ahh Aunmi sepertinya dia sekarang berada di kelas eskul”, si rambut ikal akhirnya ikut menjawab.

“O, al-ass-eo gomawo (ouhh ok terima kasih)”, kataku sambil membungkuk sedikit.

Saat diriku telah pergi beberapa langkah tiba-tiba satu dari mereka datang menghampiri ku sambil berteriak.

“์–ธ๋‹ˆ .. ํ•œ๊ตญ์ธ ์•„๋‹ˆ ์ž–์•„์š”?(eounnie .. hangug salam ani janh-ayo/kakak kamu bukan orang Korea bukan)”, tanyanya padaku.

“A ne Indonesia-eseo wass-eoyo (Ahh iya aku berasal dari Indonesia), jawabku.

“์‚ฌ์‹ค์ธ๊ฐ€์š”? ๋ฌด์Šฌ๋ฆผ์ด๋ผ์„œ ๋ฐ”๋กœ ์•Œ์•„์š” .. ๊ทธ๋Ÿฐ๋ฐ ์–ผ๊ตด์ด ํ•œ๊ตญ์ธ ๊ฐ™์•„์š” .. ์ „ํ™” ๋ฒˆํ˜ธ ์ข€ ๋ฌผ์–ด๋ด๋„ ๋ ๊นŒ์š”? (sasil-ingayo? museullim-ilaseo balo al-ayo .. geuleonde eolgul-i hangug-in gat-ayo .. jeonhwa beonho jom mul-eobwado doelkkayo/benarkah? Pantas saja aku langsung mengetahui karena kamu seorang muslim .. tapi wajahmu mirip orang Korea .. bolehkah aku meminta nomormu?)”.

Perkataannya membuatku muak … ahhh jangan membuat keributan di sekolah orang bis..

“Mwo? A mullon-iji (apa? Ahh tentu saja)”, kataku sambil menyerahkan handphoneku padanya.

“Dangsim-ui ileum? Geuligo eotteon sueoub? (nama dan kelas berapa kamu?)”, tanyanya lagi.

“Bismi Nadia, ํ•˜์ง€๋งŒ Nadia์—๊ฒŒ ์ „ํ™”ํ•˜๋ฉด 12 ํ•™๋…„ (Nadia bismi, hajiman Nadia-ege jeonhwahamyeon 12 hagnyeon/Bismi Nadia tapi manggil Nadia aja .. dan aku kelas 12)”, jawabku sambil mengigit bibir.

“Seodulleseo mianhae (maaf aku terburu-buru)”, kataku sambil berlari kecil.

“์•ˆ๋…• … ๋‚ด ๋ฉ”์‹œ์ง€์— ๋‹ต์žฅํ•˜๋Š” ๊ฒƒ์„ ์žŠ์ง€ ๋งˆ์„ธ์š” (annyeong Nadia … nae mesijie dabjanghaneun geos-eul ij-ji maseyo/sampai jumpa Nadia, jangan lupa membalas pesanku)”, suaranya dari kejauhan terdengar di telingaku.

Hufff sepertinya aku tersesat di sekolah luas ini .. kenapa tidak aku merasa aku benar-benar tak kuat lagi mencari Aunmi … dan sekarang aku malah berada di sebuah lapangan basket yang sepi. Suasana mendung dan rintik-rintik mulai menambah kesan horor di area lapangan, apalagi hanya diriku saja yang berada di lapangan ini.

Aku berbalik arah, ingin keluar dari lapangan basket ini. Tapi aku dikejutkan dengan suara tangisan yang menyayat pilu. Aku menghentikan langkahku, yapss suara tangisan siapa ini? Aku melihat ke sekeliling, tak ada siapapun, apakah ini hanya halusinasiku saja. Tapi tak mungkin, suara itu makin lama makin mengecil. Hingga tangan seseorang memegang bahuku.

“Eonni yeogise mwohae? (Kakak apa yg kau lakukan di sini?)”, Perkataan Aunmi membuat jantungku rasanya ingin copot.

“Naneun oechim eul deul eossda (aku mendengar suara tangisan)”, jawabku sambil mengatur nafas.

“Dangsin-ui gamseungman (perasaan Kaka saja)”, jawab Aunmi.

“Eojjeomyeon Gaja (mungkin ayo pulang)” kataku sambil menggandeng tangan Aunmi.

Beberapa langkah aku berjalan, aku terhenti dengan adanya suara bola yang seperti di pantul-pantulkan ke lantai.

“Whe Eounnie? (Kenapa kak?)”, Aunmi.

Aku melihat sekeliling, tak ada seorang pun … ahh apakah aku gila.

“Gong-i twineun soliga deuliji anh-assnayo? (bukankah kamu mendengar seperti ada bola yang di pantul-pantulkan?)”, tanyaku pada Aunmi.

“Ne Eounnie Apaya Hae (ahh kakak, kamu sakit ya, ayo cepat pulang)”, jawab Aunmi sambil menarik paksa tanganku.

Setelah keluar dari SMA Aunmi, aku sempat melihat ke kelas lantai atas dari luar pagar, agak samar sepertinya aku melihat seorang wanita sedang berdiri di tepi jendela sambil memperhatikanku.

“Apa yang kamu sembunyikan saat dilapangan tadi Aunmi, aku merasa kamu tau sesuatu”, kataku pada Aunmi.

“Kalaupun ada sesuatu, itu bukan urusanmu kak, biarlah itu menjadi masalah sekolah kami”, jawaban Aunmi membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.

Saat berada di perjalanan pulang, aku masih teringat tentang suara tangisan dan bola yang seperti di pantul-pantulkan tadi. Benarkah pendengaranku itu? Atau salahkah?

“์น˜๋งˆ๊ฐ€ ๋„ˆ๋ฌด ์งง๋‹ค๊ณ  ๋งํ•˜์ง€ ์•Š์•˜๋‚˜์š” (chimaga neomu jjalbdago malhaji anh-assnayo/bukankah sudah ku katakan kalau rok mu terlalu pendek)”, kataku yang mencoba mencairkan suasana dengan Aunmi.

“๊ฝ‰ ๋‹ซํ˜€์žˆ๋Š” ์˜ท์„ ๋ณด๋ฉด ๋‚˜๋„ ๋œจ๊ฑฐ์›Œ .. ํŠนํžˆ ํžˆ์žก์„ ์ž…๊ณ  ๋ฅ์ง€ ์•Š๋‹ˆ? (kkwag dadhyeoissneun os-eul bomyeon nado tteugeowo .. teughi hijab-eul ibgo deobji anhni/aku juga merasa gerah melihat pakaianmu yang tertutup rapat .. apalagi memakai hijab, apakah itu tidak panas?)”, jawabnya sambil tersenyum.

“Wae?๋‹น์‹ ์€ ๋˜ํ•œ ๋‹น์‹ ์ด ์•„๋Š” ๋ฌด์Šฌ๋ฆผ์ž…๋‹ˆ๋‹ค .. ๋ฌด์Šฌ๋ฆผ์€ ๋‚˜์ฒ˜๋Ÿผ ์˜ท์„ ์ž…์–ด์•ผํ•ฉ๋‹ˆ๋‹ค (dangsin-eun ttohan dangsin-i aneun museullim-ibnida .. museullim-eun nacheoleom os-eul ib-eoyahabnida/kenapa? Kamu juga muslim tau .. seharusnya pakaian seorang muslim itu yang tertutup, coba belajarlah)”, jelasku.

Akhirnya pada bulan Mei 2019, entah kenapa Aunmi mulai bercerita kejadian yang terjadi di tahun 2018 di sekolahnya dulu yang pernah aku tanyakan.

Katanya memang lapangan basket sekolah Aunmi itu lumayan angker, suara tangisan itu selalu terjadi pada jam 3 sore sampai malam hari dan juga katanya dulu ada siswi yang bunuh diri di lapangan basket tersebut.

Siswi tersebut jago main basket, dan maka dari itu mungkin aku mendengar suara bola yang seperti di pantul-pantulkan ke lantai.

Dan kata Aunmi lagi, banyak siswi yang kesurupan jika berada sendirian di lapangan basket tersebut, yahh karena kebanyakan siswa-siswi sekolah Aunmi merupakan asal dari Malaysia, Singapura, Jerman, Korea dan Indonesia pastinya.

Tapi kalau ada pertandingan basket gimana? Katanya adem-adem saja sih kalau pas ada pertandingan bola basket, tapi tiap-tiap menit terakhir saat pertandingan akan selesai, pasti akan ada satu atau tiga orang siswi Indonesia yang kesurupan … bukankah itu aneh? Ahhh entahlah.

Setahuku sekolah Aunmi itu emang udah lama di bangun, termasuk sekolah Internasional juga sih dan aku juga tidak tahu kenapa siswi tersebut bisa sampai bunuh diri di lapangan basket itu. Nah Aunmi juga gak tau banyak pastinya.

Yapp cukup sekian cerita dariku, ah akhirnya kelar juga nulis cerita ini setelah sekian lama hehe ๐Ÿ˜š

Thanks yang sudah baca ๐Ÿ˜‡ … jangan sungkan untuk berteman.

Ig: bismi_jasein1108
Wa: 081370400622